Vancouver – Sejarah besar tercipta di BC Place, Vancouver, Kanada. Tim nasional Mesir sukses memetik kemenangan perdana mereka sepanjang sejarah keikutsertaan di Piala Dunia setelah menumbangkan Selandia Baru dengan skor meyakinkan 3-1 pada Senin, 22 Juni 2026. Kemenangan heroik lewat aksi comeback memukau ini mengantarkan skuad asuhan Hossam Hassan melesat ke puncak klasemen sementara Grup G.
Mesir Mengguncang Dunia, Mo Salah: Ini Sejarah yang Akan Diingat Selamanya!
Bagi publik Mesir, penantian panjang sejak debut mereka di Piala Dunia pada tahun 1934 akhirnya tuntas. Kegembiraan luar biasa ini diungkapkan langsung oleh sang kapten sekaligus megabintang, Mohamed Salah.
Melansir Ahram Online, Salah menyebut pencapaian ini sebagai salah satu tonggak sejarah terbesar bagi negaranya. “Apa yang terjadi hari ini adalah sejarah bagi kami, warga Mesir. Ini pertama kalinya kami menang di Piala Dunia. Perasaan yang luar biasa, dan saya rasa seluruh negeri sedang berbahagia. Kami harus terus melangkah seperti ini,” ujar Salah dengan emosional selepas laga.
Pemain berusia 34 tahun tersebut, yang menyumbang satu gol dan membidani gol ketiga dari Trezeguet, juga menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada para suporter Mesir yang memadati stadion di Kanada. Namun, ia mengingatkan rekan-rekannya untuk tidak terlena karena laga penentuan melawan Iran di Seattle sudah menanti pada 27 Juni mendatang.
“Di tahun-tahun mendatang, Anda akan mengingat ini sebagai salah satu pencapaian terbaik dalam sejarah kami. Jadi mari kita nikmati hari ini dan besok—setelah itu, fokus ke laga berikutnya,” tambahnya.
Comeback impresif Mesir ini berawal dari performa gemilang penyerang Mostafa Ziko. Sempat tertinggal lebih dulu, Ziko tampil sebagai pahlawan dengan mencetak gol penyeimbang sebelum akhirnya melepaskan assist matang untuk gol kedua yang dicetak Mo Salah.
Ziko menganggap penampilannya malam itu sebagai berkah tertinggi. “Membawa kebahagiaan bagi para penggemar Mesir adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang,” kata Ziko bangga.
Suntikan taktik jenius dari sang pelatih, Hossam Hassan, juga menjadi kunci perubahan permainan Mesir di babak kedua. Penyerang sayap Mahmoud Hassan “Trezeguet”, yang mengunci kemenangan lewat gol ketiganya, memuji disiplin tim dalam menerapkan instruksi pelatih.
“Kami mengikuti instruksi pelatih Hossam Hassan dan berhasil bangkit ke dalam permainan. Kemenangan ini membuat tugas kami untuk melaju ke babak berikutnya menjadi lebih mudah,” tutur Trezeguet. Saat ini, Mesir memimpin Grup G dengan raihan 4 poin, unggul dua angka dari Iran dan Belgia yang bermain imbang tanpa gol.
Ratapan Skuad All Whites: “Sangat Menyakitkan dan Menelan Pil Pahit”
Di kubu seberang, kekalahan ini menjadi hantaman badai emosi bagi Selandia Baru. Asa untuk mencetak kemenangan pertama mereka di Piala Dunia sejak tahun 1982 seketika sirna di paruh kedua pertandingan.
Melansir media Selandia Baru, Stuff.co.nz, skuad All Whites sejatinya sempat melambungkan harapan publiknya ketika bek muda berusia 22 tahun, Finn Surman, berhasil mengoyak jala Mesir pada menit ke-15 dan membawa Selandia Baru unggul di babak pertama.
Namun, petaka babak kedua membalikkan segalanya. Skuad Mesir yang tampil dominan menggempur habis pertahanan Selandia Baru.
Melansir 1News (1news.co.nz), Finn Surman mengaku hasil ini terasa “sangat menyakitkan” (pretty gutting). “Ini sangat mengecewakan bagi kami. Saya rasa kami terlalu membiarkan mereka mengembangkan permainan. Setelah gol pertama, kami tampaknya menjadi terlalu terbuka,” keluh Surman. Ia juga menyoroti beberapa keputusan wasit yang dirasa “sangat keras” terhadap timnya.
Kekecewaan serupa diutarakan oleh penjaga gawang Max Crocombe dan gelandang Callum McCowatt.
“Mesir menaikkan tempo permainan. Kami dituntut tampil sempurna, dan hari ini kami tidak memilikinya. Kami dihukum di momen-momen krusial,” ucap Crocombe. Sementara McCowatt dengan jujur mengakui, “Di beberapa momen kami tampil hebat, namun di momen lain kami terlihat sangat naif. Ini adalah pil pahit yang harus ditelan.”
Pelatih kepala Selandia Baru, Darren Bazeley, juga tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Skuadnya gagal mengimbangi intensitas permainan agresif Mesir di babak kedua. Akibat hasil ini, Selandia Baru kini terjerembab di dasar klasemen Grup G dan wajib menang melawan tim peringkat sembilan dunia, Belgia, di laga pamungkas jika ingin tetap bertahan di turnamen.
Mantan Penggawa Tetap Bangga: “Segalanya Masih Mungkin!”
Meskipun berakhir dengan kekalahan pahit, performa Selandia Baru di paruh pertama mendapatkan apresiasi. Mantan pemain legendaris Selandia Baru, Ivan Vicelich, menyebut performa All Whites di babak pertama sebagai sesuatu yang luar biasa bagi negaranya.
“Bisa unggul di babak pertama melawan tim peringkat atas yang bertabur pemain berkualitas seperti Mesir adalah hal yang sangat impresif,” kata Vicelich.
Menatap laga hidup-mati melawan Belgia pada hari Sabtu nanti, Vicelich meminta para pemain tidak berkecil hati. “Belgia adalah tim besar, mereka belum meraih kemenangan sehingga mereka akan tampil habis-habisan dengan senjata penuh. Namun bagi kita, ini adalah kesempatan. Salurkan kekecewaan hari ini menjadi bahan bakar untuk meraih hasil luar biasa. Di Piala Dunia, tidak ada yang tidak mungkin,” pungkasnya optimis.
Dilansir dari kompilasi reaksi media dunia oleh The New Zealand Herald (nzherald.co.nz), kekalahan Selandia Baru dari gelombang kebangkitan Mesir di Vancouver ini langsung memicu sorotan tajam secara global, menandai betapa sengitnya persaingan di panggung tertinggi sepak bola dunia tahun 2026 ini.[]
Baca Juga: Menggetarkan Hati Dunia, Sujud Syukur Pesepak Bola Muslim Jadi Dakwah yang Menyejukkan


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy