Istirahat, Amanah Menjaga Tubuh

Ilustarsi istirahat lelah kerja
Ilustrasi tidur karena kelelahan bekerja. Sumber: Canva/NU Online

Di tengah budaya yang memuji kesibukan, istirahat sering dianggap sebagai tanda malas. Orang merasa harus terus produktif, menambah jam kerja, menunda tidur, dan tetap aktif meski tubuh sudah memberi banyak peringatan. Akibatnya, rasa lelah dipaksa diam sampai akhirnya muncul dalam bentuk sulit berkonsentrasi, emosi tidak stabil, tubuh mudah sakit, bahkan kelelahan berat.

Padahal, tubuh memiliki batas yang tidak bisa terus-menerus dilanggar. Ia membutuhkan jeda untuk memulihkan tenaga, menata kembali pikiran, dan menjaga keseimbangan jiwa. Mengambil waktu untuk tidur, bersantai, atau berhenti sejenak dari rutinitas bukan berarti lari dari tanggung jawab. Justru, itulah cara agar seseorang mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan lebih baik.

Islam juga memberi perhatian besar terhadap kebutuhan ini. Al-Qur’an menggambarkan tidur sebagai sarana istirahat, sementara para ulama menjelaskan bahwa relaksasi dapat menguatkan tubuh, hati, dan semangat beribadah. Dari sini, istirahat perlu dipandang sebagai hak tubuh yang harus ditunaikan, bukan sisa waktu setelah seluruh pekerjaan selesai.

Anjuran Mengambil Porsi Istirahat dalam Al-Qur’an

Jauh sebelum ilmu kedokteran modern merumuskan pentingnya tidur bagi kesehatan, Al-Qur’an telah jauh lebih dahulu menegaskannya. Dalam surah Al-Furqan ayat 47, Allah SWT berfirman:

وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيْلَ لِبَاسًا وَٱلنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ ٱلنَّهَارَ نُشُورًا

Artinya, “Dialah yang menjadikan untukmu malam sebagai pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (QS. Al-Furqan [25]: 47).

Penggalan wannauma subaatan (dan tidur untuk istirahat) pada ayat di atas, menjadi kata kunci dalam pembahasan kita kali ini. Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) menafsirkannya dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim:

وَالنَّوْمَ سُبَاتًا أي: قَطْعًا لِلْحَرَكَةِ لِرَاحَةِ الْأَبْدَانِ، فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ وَالْجَوَارِحَ تَكِلُّ مِنْ كَثْرَةِ الْحَرَكَةِ فِي الِانْتِشَارِ بِالنَّهَارِ فِي الْمَعَايِشِ، فَإِذَا جَاءَ اللَّيْلُ وَسَكَنَ سَكَنَتِ الْحَرَكَاتُ، فَاسْتَرَاحَتْ فَحَصَلَ النَّوْمُ الَّذِي فِيهِ رَاحَةُ الْبَدَنِ وَالرُّوحِ مَعًا

Artinya, “‘Dan tidur untuk istirahat’, yakni berhentinya gerakan demi mengistirahatkan tubuh. Sebab anggota tubuh dan seluruh organ menjadi lelah akibat banyaknya aktivitas yang tersebar di siang hari dalam urusan penghidupan. Maka ketika malam tiba dan suasana menjadi tenang, gerakan pun berhenti, tubuh beristirahat, dan terjadilah tidur yang di dalamnya terkandung istirahat bagi badan sekaligus jiwa.” (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, [Riyadh, Dar Thaibah: 1420 H/1999 M], juz 6, hlm. 114).

Sejalan dengan itu, Imam Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H) memberikan penjelasan yang lebih ringkas dalam karyanya Mafatihul Ghaib:

وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَالسُّبَاتُ هُوَ الرَّاحَةُ وَجَعَلَ النَّوْمَ سُبَاتًا لِأَنَّهُ سَبَبٌ لِلرَّاحَةِ

Artinya, “‘Tidur untuk istirahat.’ Al-subāt artinya istirahat. Allah SWT menjadikan tidur sebagai subāt karena tidur adalah sebab terjadinya istirahat.” (Ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [Beirut, Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi: 1420 H], juz 24, hlm. 465).

Dua mufasir besar ini sama-sama mengarah ke satu kesimpulan, bahwa tidur bukan sekadar kebiasaan biologis yang terjadi dengan sendirinya, melainkan sebuah mekanisme yang Allah SWT rancang secara sengaja untuk memulihkan tubuh dan jiwa manusia setelah seharian beraktivitas. Sehingga mengabaikan istirahat tanpa sebuah kepentingan berarti ia zalim dirinya sendiri.

Urgensi Menjaga Kesehatan Tubuh dengan Istirahat Cukup

Lalu pertanyaannya, seberapa besar manfaat dari porsi istirahat cukup itu bagi kesehatan kita? Kiai Faqihuddin Abdul Kodir dalam karyanya Manba’ussa’adah fi Asasi Husnil Mu’asyarah menjelaskan secara rinci manfaat-manfaat tidur bagi manusia:

Artinya, “Tidur memiliki banyak manfaat bagi manusia; di antaranya, ia memperbaiki berbagai asupan nutrisi yang dibutuhkan otak sehingga otak dapat menjalankan fungsinya secara optimal saat terjaga, ia juga memulihkan kemampuan kerja akal dan membangun kembali kekuatan mental, ia membantu menyelesaikan sebagian masalah psikologis sehingga banyak orang mendapati masalah mereka terpecahkan selama tidur, dan secara umum ia memperbarui vitalitas dan stamina manusia.” (Faqihuddin Abdul Kodir, Manba’ussa’adah fi Asasi Husnil Mu’asyarah wa Ahammiyati at-Ta’awun wa al-Musyarakah fi al-Hayat az-Zaujiyah, [Cirebon, Jam’iyah Fahmina li ad-Dirasat al-Islamiyah: 2012 M], hlm. 16–17).

Empat manfaat yang diuraikan Kiai Faqih ini sebenarnya sudah cukup untuk menjawab mengapa istirahat masuk dalam kebutuhan pokok setiap orang. Karena ketika otak tidak mendapatkan asupan nutrisi yang dibutuhkan, akibatnya ia tak akan mampu bekerja dengan baik, dan kondisi itu bagi profesi tertentu seperti dokter, hakim, guru, bahkan driver ojol bisa berakibat sangat fatal, sebab bahayanya tak hanya berpotensi menimpa diri sendiri, tetapi juga orang lain.

Lebih jauh lagi, ketika dikaitkan dengan kajian Imam al-Ghazali, porsi istirahat yang cukup, rekreasi ke tempat-tempat yang indah, senda gurau dengan keluarga dan kawan-kawan, dan seterusnya termasuk salah satu media merelaksasi jiwa dan hati. Imam Abu Hamid Al-Ghazali (w. 505 H) menulisnya dalam Ihya’ Ulumuddin:

Artinya, “Merelaksasi jiwa serta membuatnya tenang dan tak tegang: baik lewat bergabung dalam suatu perkumpulan, memandang (sesuatu yang indah atau berekreasi), dan melakukan suatu permainan yang menyenangkan, adalah upaya merelaksasi hati dan menumbuhkan semangat baru untuk beribadah.

Sebab jiwa itu mudah bosan dan ia cenderung menjauh dari kebenaran karena kebenaran bertentangan dengan tabiat keinginannya. Jika jiwa dipaksa terus-menerus melakukan hal yang tidak disukainya, ia akan memberontak dan menolak. Tetapi jika sesekali ia diistirahatkan dengan hal-hal yang menyenangkan, ia akan kembali kuat dan bersemangat.” (Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, [Beirut, Dar al-Ma’rifah: t.t.], juz 2, hlm. 30).

Nasihat Al-Ghazali ini terasa sangat relevan dengan kondisi kebanyakan masyarakat dan generasi muda kita hari ini, terutama terkait tragedi yang telah dipaparkan di atas. Karena jiwa yang terus dipaksa tanpa jeda akan memberontak dan perlahan akan melemah dan jatuh sakit, bahkan tak sedikit yang sampai meninggal dunia karena terlalu capek seperti kasus-kasus di atas.

Akhirnya, karena tubuh yang kita miliki ini sejatinya adalah titipan Allah SWT, maka menjaganya dengan sebaik-baiknya dan memastikannya mendapat hak istirahat yang cukup adalah bentuk paling sederhana dari rasa syukur yang bisa kita tunaikan setiap harinya. Wallahu a’lam bisshawab.[]

Penulis: Ahmad Dirgahayu Hidayat, alumni Ma’had Aly Situbondo, pengajar di Ponpes Manbaul Ulum Kabul, Lombok Tengah.

  • Sumber : NU Online
  • Tags:
  • #

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy