ARC USK Gandeng ParagonCorp: Riset Nilam Kristal untuk Kosmetik Alami

ARC USK dan Paragon kolaborasi riset
Kepala ARC USK Syaifullah Muhammad bersama Vice President ParagonCorp, Sari Chairunnisa menunjukkan dokumen penandatanganan kesepakatan kolaborasi riset pengembangan nilam kristal, di ParagonCorp HQ, Jakarta, Rabu (19/8/2026). Foto: Antara/ARC USK

Banda Aceh, Line1News – Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala (USK) resmi bergandengan tangan dengan raksasa kosmetik nasional, PT Paragon Technology and Innovation (ParagonCorp). Kolaborasi strategis ini bertujuan menyulap minyak nilam mentah menjadi bahan aktif kosmetik alami kelas dunia.

Kerja sama transformatif ini dikukuhkan melalui penandatanganan dokumen kemitraan di ParagonCorp Head Office, Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026. Komitmen tersebut ditandatangani langsung oleh Kepala ARC USK, Syaifullah Muhammad, dan Vice President ParagonCorp, Sari Chairunnisa.

Syaifullah menjelaskan sinergi ini menjadi bukti nyata bagaimana riset kampus tidak lagi hanya tersimpan di laboratorium, melainkan menjelma menjadi solusi nyata di dunia industri. Langkah ini didukung penuh oleh skema insentif hilirisasi dorongan teknologi dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

“Kolaborasi antara akademisi dengan industri merupakan amanat skema insentif hilirisasi dorongan teknologi dari Kemendiktisaintek,” ujar Syaifullah, dikutip dari laman USK pada Sabtu (22/8/2026).

Inovasi Kristal Murni Berdaya Saing Global

Fokus utama dari kerja sama ini adalah mengolah minyak nilam mentah (crude patchouli oil) khas tanah Aceh menjadi nilam kristal dengan tingkat kemurnian sangat tinggi, mencapai 99,7 persen patchouli alcohol (PA). Kristal berharga ini berhasil disintesis berkat hibah program hilirisasi Kemendiktisaintek 2026.

Melalui sentuhan teknologi mutakhir ParagonCorp, nilam kristal ini akan melewati serangkaian uji efikasi ilmiah guna membuktikan khasiatnya sebagai bahan aktif produk perawatan kulit (skincare) dan kosmetik.

“Proses pengujian mencakup formulasi laboratorium, uji aktivitas biologis seperti antioksidan, antiinflamasi, dan anti-aging, hingga uji keamanan dan kompatibilitas pada kulit,” jelas Syaifullah yang juga Team Leader Research Project tersebut.

Upaya ini bertujuan mengubah komoditas mentah yang biasa dihargai rendah menjadi bahan baku berstandar industri (industrial grade) yang siap merambah pasar nasional hingga global. Dampak besarnya, rantai nilai yang tercipta akan langsung mengalir dan dirasakan manfaatnya oleh para petani nilam di pelosok daerah.

“Kerja sama ini menjadi wujud nyata implementasi komersialisasi hasil riset perguruan tinggi dan bisa membuka peluang penciptaan ekosistem lebih luas dalam rantai nilai industri nilam Indonesia,” tambah Syaifullah.

Vice President ParagonCorp, Sari Chairunnisa, memandang kemitraan ini sebagai langkah mulia untuk mengangkat martabat kekayaan hayati nusantara ke panggung kosmetik modern.

“Paragon mencoba mengembangkan perhatian lebih luas terhadap komoditas atsiri Indonesia sebagai bahan alami untuk kosmetika. Semoga kolaborasi ini bisa membawa dampak positif bagi proses hilirisasi bahan alam Indonesia,” kata Sari.

Dari Riset Menuju Kedaulatan Ekonomi Rakyat

Sinergi antara ARC USK dan ParagonCorp ini mengokohkan komitmen kedua lembaga untuk menghadirkan inovasi kosmetik lokal yang disegani di tingkat global, sekaligus memperkuat kedaulatan bahan baku dalam negeri.

Langkah besar ini juga menyambung asa dari program sebelumnya pada April 2026 lalu. Saat itu, USK bersama International Labour Organization (ILO) telah mematangkan peta jalan percepatan pengembangan nilam Aceh di Ruang Mini Rektor USK, Kamis (23/4/2026). Dalam pertemuan itu, ARC USK diplot sebagai motor penggerak ekosistem bisnis nilam dari hulu ke hilir, termasuk dalam meracik produk turunan bernilai tinggi seperti parfum.

Rektor USK, Profesor Mirza Tabrani, menegaskan bahwa sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH), USK memikul tanggung jawab moral untuk mengubah hasil riset menjadi berkah ekonomi bagi masyarakat luas.

“Kita tidak bisa lagi hanya berhenti pada riset. Sebagai perguruan tinggi berbadan hukum (PTNBH), USK harus mampu membangun ekosistem bisnis yang kuat. Nilam adalah potensi besar yang harus kita kelola secara serius,” tegas Mirza.

Di bawah kepemimpinannya, USK berkomitmen melindungi petani melalui model pemberdayaan yang humanis, mulai dari penyediaan bibit berkualitas, pupuk, hingga jaminan pembelian hasil panen (offtaker). Skema ini diharapkan mampu membebaskan petani dari ketidakpastian harga pasar.

Kini, melalui kehadiran ARC USK, minyak nilam tidak lagi sekadar komoditas ekspor mentah. Inovasi hilirisasi telah mengubahnya menjadi produk bernilai tambah tinggi—mulai dari essential oil, parfum mewah, hingga kristal kosmetik. Ikhtiar ini tidak hanya mendatangkan pendapatan mandiri (income generating) bagi kampus, tetapi yang terpenting, menjadi urat nadi baru bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Aceh.

Komitmen lokal ini pun telah mematik perhatian dunia. Direktur Kantor ILO Indonesia dan Timor Leste, Simrin C. Singh, mengapresiasi kisah sukses nilam Aceh yang kini mulai menggema di panggung internasional.

“Pertemuan ini menjadi kesempatan untuk saling mengenal lebih dekat sekaligus memperkuat kerja sama dalam pengembangan bisnis nilam. Potensi ini sudah mendapat perhatian internasional dan perlu kita dukung bersama agar semakin berkembang,” pungkas Simrin.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy