Sering Cemas Tanpa Sebab? Kiai Ni’am Ungkap Rahasia Ketat Jaga Mental dan Kunci Sukses Hidup

Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Niam Sholeh
Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof. K.H. Asrorun Ni'am Sholeh. Foto: Miftah / MUI Digital

Jakarta – Di tengah riuhnya dinamika zaman modern yang sering memicu stres dan rasa cemas tanpa sebab, ketenangan hati rupanya menjadi modal paling krusial untuk meraih kesuksesan. Sebaliknya, rasa panik, sikap sembrono, dan hilangnya kedamaian jiwa justru sering kali menjadi kerikil tajam yang memicu kegagalan dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

Pesan menyentuh hati ini disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Profesor K.H. Asrorun Niam Sholeh, saat mengisi pengajian rutin mingguan Pondok Pesantren An-Nahdlah, Sabtu, 19 September 2026. Dalam kajian yang membedah Kitab Nashaihul Ibad tersebut, suasana terasa begitu hangat karena diikuti oleh para santri dan jemaah umum dari berbagai penjuru Indonesia melalui platform Zoom—mulai dari karyawan Pegadaian, alumni UIN, alumni IPNU, pegawai Kemenag, hingga para amil zakat.

Menjaga Kesehatan Rohani di Era Modern

Dalam tausiahnya, Kiai Ni’am mengingatkan bahwa manusia tidak hanya bisa terserang penyakit fisik seperti demam atau cedera, tetapi juga sangat rentan dihinggapi penyakit rohani. Penyakit ini tidak tampak oleh mata, namun dampaknya luar biasa merusak—seperti munculnya rasa iri, dengki, pelit, egois, hingga enggan menyambung tali silaturahim.

“Ingat, dengan zikir kepada Allah akan menyebabkan hati tenang. Nah, salah satu kunci kesuksesan itu adalah ketenangan hati. Salah satu faktor kegagalan di dalam hidup, apa? Kesemberonoan dan ketidaktenangan hati,” ujar Kiai Ni’am, dilansir MUI Digital, Ahad (20/9/2026).

Menurutnya, sebagaimana penyakit fisik yang butuh dokter spesialis, penyakit rohani dan mental pun membutuhkan penanganan yang proporsional melalui pendekatan keagamaan. Ketika hati kosong dari mengingat Allah, jiwa akan mudah goyah.

“Fisik yang sehat, tetapi rohaninya, kalbunya sakit. Punya banyak harta fisik, tetapi dia pelit. Itu berarti rohani. Hebat dia punya intelektualitas, punya ilmu, tetapi dia egois. Dia enggak mau kerja sama. Itu penyakit rohani,” kata Guru Besar Ilmu Fikih UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Dia mengatakan, di situlah butuh proporsionalitas mengenali penyakit dan mengundang ahli yang pas untuk menyelesaikan masalah yang dideritanya. Apalagi penyakitnya adalah penyakit rohani, penyakit mental, penyakit nonfisik, solusinya adalah solusi keagamaan.

Zikir sebagai “Penyelamat” Saat Momen Krusial

Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah Depok ini kemudian memberikan ilustrasi nyata yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti saat seseorang menghadapi ujian masuk kuliah, wawancara kerja, atau seleksi kenaikan pangkat.

Sering kali, rasa gugup (nervous) yang berlebihan membuat semua hafalan dan wawasan yang sudah dipelajari mendadak hilang. Di sinilah pentingnya membiasakan lisan dan hati dengan zikir, seperti tahlil, bacaan hauqalah, maupun selawat pendek.

“Jangan pernah lupa untuk berzikir dan membaca shalawat yang akan melahirkan ketenangan. Sementara ketenangan akan melahirkan konsentrasi penuh kita,” tuturnya.

“Dan konsentrasi penuh akan menghasilkan apa yang disebut dengan mekanisme recalling, mekanisme memanggil apa yang pernah kita tahu,” kata dia menambahkan.

Lebih jauh, zikir juga menjadi benteng psikologis saat seseorang menghadapi kenyataan hidup yang pahit. Kiai Ni’am menyoroti fenomena emotional shock (gegar emosi) ketika seseorang gagal naik jabatan atau usahanya ditolak. Tanpa bimbingan tauhid, melesetnya ekspektasi bisa berujung fatal.

“Kalau enggak mampu mengendalikan emosi, enggak mampu mengendalikan diri, itu sudah bisa down, enggak mau ketemu orang, bahkan bunuh diri,” tuturnya dengan nada prihatin.

Namun, berkat “resep” zikir dan spiritual ini, seseorang akan mampu bangkit kembali dari kesedihan. “Baru setelah itu dinormalisasi dengan akal pikir kita. Kita menjadi hebat itu kan karena dikendalikan oleh akal dan hati,” tutur dia menasihati.

3 Resep Utama Penjaga Mental & Tingkatan Kualitas Diri

Untuk menjaga kesehatan mental dan kestabilan jiwa, Kiai Niam membagikan tiga resep utama dari ajaran para ulama hikmah:

• Memperbanyak dzikrullah: Membaca lafaz apa saja secara istikamah lewat lisan dan hati.

• Menemui para kekasih Allah (liqa’u auliya’ihi): Membangun interaksi dan silaturahim dengan ulama, kiai, dan orang saleh agar tertular energi positif.

• Mendengarkan nasihat bijak (kalamul hukama’): Menyimak motivasi dan pemikiran konstruktif dari para tokoh agama.

Dia juga mengajak masyarakat untuk menjauhi tontonan atau obrolan yang tidak produktif seperti menggunjing (ghibah). Menurut Ketua Majelis Alumni IPNU ini, kualitas diri seseorang dapat dilihat dari apa yang mereka bicarakan:

Tingkat Terendah: Membicarakan kejelekan, aib, dan kekurangan orang lain.

Tingkat Lebih Tinggi: Membicarakan gagasan besar, ilmu pengetahuan, dan masa depan.

Di akhir tausiahnya, Kiai Ni’am berpesan agar kita semua tetap optimis karena hidup ini penuh pasang surut—ada kalanya sehat, ada kalanya sakit, sukses, ataupun tertunda kesuksesannya.

“Tetapi, percayalah ujung-ujungnya adalah melahirkan kebaikan jika kita memiliki penyikapan yang bersifat baik, husnudzan billah, pakai tsiqah bin nafsi (percaya diri), dan kemudian kita tetap optimis dengan dzikrullah,” pungkas Kiai Ni’am meyakinkan.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy