Tekanan Inflasi Aceh Tertinggi di Sumatra, Sektor Restoran Berkontribusi Signifikan

Ilustrasi inflasi
Ilustrasi inflasi. Foto: Dailynotif.com

Banda Aceh, Line1News — Provinsi Aceh menghadapi tekanan inflasi yang signifikan setelah mencatatkan inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 5,05 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) di level 116,77 pada Oktober 2026. Berdasarkan rilis makroekonomi terbaru, angka tersebut menempatkan Tanah Rencong sebagai wilayah dengan laju inflasi tertinggi di seluruh Pulau Sumatra.

Anomali spasial menunjukkan volatilitas harga di tingkat daerah masih fluktuatif, dengan kluster pedalaman menjadi penyumbang gejolak harga terbesar.

“Inflasi Aceh tertinggi di Kabupaten Aceh Tengah sebesar 7,11 persen dengan IHK 121,52, dan terendah terjadi di Meulaboh yang mengalami inflasi 3,54 persen dengan IHK sebesar 116,58,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Agus Andria, di Banda Aceh, Senin, 2 November 2026.

Agus memerinci, tiga wilayah pantauan IHK lainnya di Aceh juga mencatat angka inflasi yang bervariasi, yakni Kabupaten Aceh Tamiang sebesar 5,86 persen, Kota Banda Aceh 4,34 persen, dan Kota Lhokseumawe sebesar 4,14 persen.

Lonjakan Sektor Penyediaan Makanan dan Minuman

Akselerasi inflasi tahunan di Aceh dipicu oleh pergeseran indeks harga pada mayoritas kelompok pengeluaran masyarakat. Lonjakan paling masif secara sektoral terjadi pada kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran yang meroket hingga 13,01 persen.

Disusul kemudian oleh sektor transportasi yang mengalami kenaikan 5,73 persen; kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 5,34 persen; serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang naik 4,88 persen.

Komponen domestik lainnya juga ikut merangkak naik, termasuk kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 4,34 persen; kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 3,91 persen; serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 3,25 persen.

Sementara itu, eskalasi lebih rendah tercatat pada kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,17 persen; kesehatan 1,75 persen; dan pendidikan sebesar 0,57 persen.

Sebaliknya, kontraksi indeks harga atau deflasi hanya terjadi pada kelompok pakaian dan alas kaki yang menyusut sebesar 1,24 persen.

Inflasi Bulanan Relatif Terkendali

Meskipun angka tahunan menunjukkan tren ekspansif, pergerakan harga secara bulanan (month-to-month/m-to-m) terpantau relatif melandai di awal kuartal keempat ini.

“Tingkat inflasi bulanan atau m-to-m pada Oktober 2026 sebesar 0,13 persen, dan tingkat inflasi year to date atau y-to-d sebesar 2,07 persen,” ujar Agus memaparkan indikator stabilitas harga jangka pendek.

Raihan angka ini mengindikasikan adanya tekanan musiman pada rantai pasok lokal domestik, khususnya di wilayah tengah Aceh, yang memerlukan mitigasi kebijakan fiskal dan ketahanan pangan daerah guna menjaga daya beli masyarakat menjelang akhir tahun.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy