Banda Aceh, Line1News – Setelah sempat mencatatkan lonjakan tinggi pada bulan-bulan sebelumnya, aktivitas belanja luar negeri atau impor Provinsi Aceh mengalami kontraksi pada penutupan kuartal ketiga tahun ini. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor yang masuk ke Aceh pada September 2026 sebesar 17,92 juta USD. Komoditas gas propana/butana dominasi impor Aceh selama periode tersebut.
Meskipun volume pasokan luar negeri menyusut drastis, penurunan ini justru memberikan dampak positif bagi struktural makroekonomi daerah. Kepala BPS Aceh, Agus Andria, mengonfirmasi angka performa impor ini.
“Nilai impor Provinsi Aceh pada bulan September 2026 sebesar 17,92 juta USD,” kata Agus Andria, dikutip Line1News pada Selasa, 3 November 2026.
Agus menuturkan, nilai impor Aceh pada September 2026 itu mengalami penurunan sebesar 78,32 persen, jika dibandingkan angka impor Aceh selama periode Agustus 2026. Tren penurunan ini juga terjadi secara tahunan (year-on-year) dengan margin koreksi yang cukup signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Selain itu, nilai tersebut juga mengalami penurunan sebesar 62,13 persen dibandingkan kondisi September 2025,” ujar Agus.
AS dan Jepang Jadi Pemasok Utama Emiten Industri
Dari sisi peta geopolitik mitra dagang, pasokan energi dan material mentah untuk industri manufaktur di Aceh masih didominasi oleh negara-negara blok barat dan Asia Timur. Agus menyampaikan, berdasarkan negara asal, impor terbesar pada September 2026 berasal dari Amerika Serikat senilai 11,53 juta USD. Komoditas yang didatangkan berupa gas propana/butana.
Selanjutnya, impor berasal dari Jepang senilai 3,49 juta USD dengan komoditas bahan kimia anorganik. Sedangkan urutan ketiga, yakni Tiongkok senilai 2,54 juta USD dengan komoditas pupuk.
Penurunan Impor Picu Surplus Neraca Perdagangan
Secara komposisi barang, volatilitas nilai impor Aceh sangat dipengaruhi oleh lalu lintas perdagangan komoditas gas. Dia menyebut secara keseluruhan komoditas terbesar yang diimpor adalah gas propana/butana senilai 11,53 juta USD atau setara 64,33 persen dari total impor. Disusul komoditas impor berikutnya adalah bahan kimia anorganik serta pupuk.
Meskipun kinerja impor merosot tajam, situasi ini justru menjadi katalis positif bagi posisi perdagangan luar negeri Aceh. Penyusutan nilai impor yang lebih dalam dibanding ekspor berhasil memperlebar jarak keuntungan perdagangan daerah.
Baca Juga: Anugerah Bumi Tanah Rencong: Batu Bara Aceh Berjaya di Pasar Global
“Dengan nilai impor yang lebih kecil dibandingkan nilai ekspor, neraca perdagangan luar negeri Aceh pada September 2026 mengalami surplus sebesar 61,83 juta USD,” ujar Agus.[]
Baca Juga:
• Neraca Dagang Aceh Defisit 8,67 Juta USD, Dipicu Lonjakan Impor Gas Propana-Butana AS
• BPS: Impor Aceh Juli 2026 Capai 81,89 Juta USD, Naik 214,46 Persen


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy