Teheran, Line1News – Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menegaskan perlawanan heroik rakyat Iran selama 70 hari terakhir telah menjadi motor penggerak utama dalam mempercepat perubahan tatanan global. Perubahan besar yang belum pernah terjadi dalam satu abad terakhir ini diyakini menjadi fajar bagi lahirnya dunia baru yang multipolar.
“Dunia kini berada di ambang tatanan baru. Masa depan adalah milik Global South (negara-negara berkembang),” ujar Qalibaf pada Sabtu, 16 Mei 2026, mengutip pernyataan Presiden China Xi Jinping mengenai percepatan transformasi global.
Melansir Press TV, ketegangan ini dipicu oleh agresi AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Merespons hal tersebut, Angkatan Bersenjata Iran meluncurkan serangan rudal dan drone harian ke wilayah pendudukan Israel serta pangkalan militer AS di kawasan. Iran juga membalas dengan menutup Selat Hormuz, yang sempat memicu lonjakan hebat pada harga minyak dunia.
Meskipun gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan sempat berlaku pada 8 April, negosiasi di Islamabad menemui jalan buntu akibat tuntutan sepihak dari Washington. Namun, perlawanan gigih Iran ini justru dinilai berhasil membongkar kerapuhan dominasi unipolar yang dipimpin AS sekaligus menginspirasi negara-negara berkembang di Amerika Latin, Afrika, dan Asia untuk lepas dari hegemoni Barat.
Baca Juga: AS Cari Perkara, Menlu Iran: Warga Amerika Tanggung Biaya Perang yang Meroket!
Mekanisme Baru Selat Hormuz: Berbayar dan Blokade Musuh
Sebagai langkah konkret penegasan kedaulatan pascakonflik, Iran kini bersiap meluncurkan mekanisme baru untuk mengontrol lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Selat strategis tersebut nantinya akan memberlakukan sistem jalur khusus tunggal dan penarikan tarif bagi kapal yang melintas.
Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menyatakan sistem ini dirancang untuk menjamin keamanan perdagangan internasional sekaligus melindungi hak berdaulat Iran.
“Hanya kapal komersial dan pihak-pihak yang bekerja sama dengan Iran yang dapat melintas dan mendapat keuntungan dari sistem ini. Biaya atau tarif tertentu akan dipungut atas layanan spesialis yang kami sediakan,” tegas Azizi via akun X miliknya.
Azizi juga memastikan jalur tersebut akan tertutup rapat bagi operator asing yang terlibat dalam proyek propaganda Barat.
Senada dengan hal itu, Wakil Ketua Parlemen Iran Ali Nikzad mengungkapkan bahwa draf undang-undang baru mengenai rezim hukum Selat Hormuz sedang digodok. Aturan ketat ini dipastikan akan memblokir total seluruh kapal milik rezim Israel dan negara-negara berstatus musuh, terutama Amerika Serikat, untuk melewati jalur air vital dunia tersebut.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy