Dari Transaksi Digital ke Panggung Nasional: Ikhtiar BI Lhokseumawe Cetak UMKM Tangguh

Yudo Herlambang Kepala BI Lhokseumawe
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Lhokseumawe, Yudo Herlambang. Foto for Line1News

Lhokseumawe, Line1News — Di balik gemerlap angka Rp1,93 triliun yang mencatat 24 juta transaksi QRIS sepanjang Januari–Juni 2026 di wilayah kerja Bank Indonesia Lhokseumawe, ada denyut nadi kehidupan ribuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Angka fantastis yang melibatkan 136.179 merchant ini bukan sekadar statistik kaku di atas kertas, melainkan sinyal kuat bahwa masyarakat kian akrab dengan dompet digital.

Namun, bagi Bank Indonesia (BI), kenyamanan memindai kode batang (QR code) barulah babak pembuka. Tantangan sesungguhnya yang jauh lebih besar adalah bagaimana kemudahan teknologi ini mampu mengubah nasib, mentalitas, dan profesionalitas para pelaku UMKM agar bisa naik kelas ke panggung nasional.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Lhokseumawe, Yudo Herlambang, menegaskan bahwa lonjakan kuantitas transaksi digital ini wajib dibarengi dengan pembenahan kualitas manajemen usaha. Hal tersebut disampaikannya secara khusus kepada Line1News, Kamis, 3 September 2026.

Menurut Yudo, QRIS tidak boleh berhenti hanya sebagai alat penampung uang digital. Transformasi ini harus menjadi jembatan bagi UMKM untuk merapikan tata kelola bisnis mereka.

“Setiap transaksi yang tercatat dapat memberikan gambaran mengenai pola pendapatan dan perkembangan penjualan. Data tersebut dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk melakukan evaluasi, menyusun perencanaan dan mengambil keputusan bisnis berdasarkan kondisi usaha yang sebenarnya,” ujarnya.

Melawan Kebiasaan Klasik Dompet Campur Aduk

Fakta di lapangan memperlihatkan sebuah ironi yang humanis sekaligus pelik. Persoalan terbesar sebagian pelaku UMKM bukanlah gagap teknologi, melainkan kebiasaan mencampuradukkan uang dagangan dengan uang dapur. Sering kali, lembaran rupiah hasil penjualan hari itu langsung ditarik untuk menutupi belanja harian, membayar SPP anak, hingga keperluan pribadi lainnya.

Sekilas, praktik ini terasa praktis dan lumrah. Namun dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut menjadi kabut tebal yang membuat pelaku usaha buta terhadap kesehatan bisnisnya sendiri. Mereka kehilangan arah untuk menghitung berapa omzet bersih, berapa biaya operasional, dan berapa keuntungan yang sebenarnya berhak mereka putar kembali menjadi modal.

“Kami menyadari bahwa tantangan terbesar bukan lagi pada adopsi teknologi, melainkan pada komitmen dan kedisiplinan dalam pencatatan keuangan,” tutur Yudo terus terang.

BI Tak Sekadar Bicara Soal QRIS

Sadar akan akar masalah tersebut, Bank Indonesia enggan sekadar menjadi penyedia infrastruktur pembayaran. Melalui pendekatan yang menyentuh berbagai lini kehidupan usaha, BI bergerak memperkuat kapasitas perajin dan pedagang lokal melalui perluasan akses pasar, fasilitasi kemitraan bisnis, hingga edukasi literasi keuangan serta perlindungan konsumen.

Ikhtiar ini perlahan tapi pasti mulai membuahkan hasil manis yang membanggakan daerah. Dari sekitar 80 hingga 100 UMKM yang digodok dalam program pembinaan intensif, sebanyak delapan UMKM lokal berhasil menembus kurasi ketat tingkat nasional. Produk mereka terbang ke ibu kota untuk bersanding dalam pameran bergengsi Karya Kreatif Indonesia di Jakarta, membuktikan bahwa produk Lhokseumawe punya taji jika diberi panggung dan pendampingan yang tepat.

Menyemai Edukasi di Ribuan Sanubari

Guna menyuburkan ekosistem digital ini, edukasi masif terus digulirkan ke tengah masyarakat. Sepanjang Januari hingga Juli 2026 saja, KPwBI Lhokseumawe telah menggelar 15 kali sosialisasi dan edukasi tatap muka terkait QRIS serta perlindungan konsumen yang diikuti oleh sedikitnya 3.000 peserta.

Napas ekonomi syariah pun ikut ditiupkan lewat gelaran akbar PASE Fest 2026, yang dikawinkan dengan kolaborasi strategis bersama perguruan tinggi setempat. Semua ikhtiar ini mengerucut pada satu impian: melahirkan ekosistem ekonomi yang tidak hanya modern secara digital, tetapi juga sehat secara finansial dan berkelanjutan bagi masa depan keluarga para pelaku usaha.

Mengejar Perubahan Perilaku, Bukan Sekadar Angka

Bagi Yudo Herlambang, kesuksesan sejati dari seluruh program kerja ini tidak bisa ditakar hanya dari nominal transaksi yang terus membubung. Sebab, angka yang besar belum tentu menjamin sebuah dapur usaha sedang baik-baik saja. Indikator keberhasilan yang sesungguhnya adalah hijrahnya perilaku para pedagang.

“Keberhasilan program ini tidak dapat diukur semata dari besaran nilai transaksi dalam jangka pendek. Yang jauh lebih penting adalah perubahan perilaku: tumbuhnya komitmen untuk berkembang, tertatanya pengelolaan keuangan secara benar, dan kesiapan bersaing di tengah dinamika ekonomi digital,” tegas Yudo penuh penekanan.

Semangat perubahan perilaku inilah yang mendasari lahirnya festival tahunan seperti Pekan QRIS Meusare-Sare. Acara ini bukan sekadar ajang kejar tayang transaksi massal, melainkan ruang hangat yang mempertemukan warga, pelaku UMKM, pemerintah daerah, dan perbankan untuk saling bahu-membahu memperkuat ekonomi lokal.

Nilai Rp1,93 triliun memanglah magnet yang memukau. Namun bagi Bank Indonesia, esensi terdalam dari transformasi digital ini justru bermula setelah ketukan “sukses” berbunyi di ponsel pintar merchant.

Yaitu ketika seorang ibu pemilik warung mulai disiplin mencatat pembukuan, ketika uang sekolah anak tidak lagi menggerogoti modal usaha, ketika data transaksi harian dibaca sebagai strategi taktis, dan ketika UMKM daerah tidak lagi sekadar bertahan hidup, melainkan tumbuh menjadi bisnis yang mapan dan bermartabat.

“Dengan satu harapan Kantor Perwakilan Bank Indonesi Lhokseumawe berkomitmen akan terus membuat UMKM lebih maju seiring perkembangan zaman dan membuat perekonomian di Lhokseumawe terus berkembang,” pungkas Yudo optimistis.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy