Catat! Ini Saran Profesor Apridar agar PTPL jadi ‘Engine of Growth’

Prof Apridar Guru Besar Ekonomi
Prof. Dr. Apridar, S.E., M.Si. Foto: Dokumen/Istimewa

Lhokseumawe – Ahli ekonomi Profesor Apridar berharap Dewan Komisaris dan Direksi PT Pembangunan Lhokseumawe atau PTPL (Perseroda) ke depan dapat memajukan Lhokseumawe dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Diketahui, Pemko Lhokseumawe melalui Panitia Seleksi telah menetapkan 3 peserta calon Dewan Komisaris dan 3 Anggota Direksi PTPL (Perseroda) periode 2025-2030 lulus hasil wawancara.

Baca juga: Ini Dia 3 Calon Dewan Komisaris dan 3 Anggota Direksi PTPL Lulus Wawancara

Setelah nantinya Wali Kota Lhokseumawe meng-SK-kan pengangkatan dilanjutkan dengan pelantikan, maka mereka yang telah lulus tahapan akhir wawancara itu akan resmi menjadi Dewan Komisaris PTPL periode 2025-2029 dan Direksi PTPL periode 2025-2030.

Profesor Apridar menyarankan kepada Dewan Komisaris (Pengawasan dan Strategi) PTPL perlu melakukan, pertama, menetapkan Visi Pembangunan Kota. “Susun corporate roadmap yang selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Lhokseumawe, fokus pada sektor unggulan (pelabuhan, industri, pariwisata). Monitor kontribusi PTPL pada 4 pilar: infrastruktur, ekonomi lokal, lapangan kerja, dan pendapatan daerah,” kata Apridar menjawab Line1.News secara tertulis, Rabu, 25 Juni 2025.

Kedua, perkuat pengawasan keuangan. Di antaranya, menurut Apridar, implementasi sistem audit internal real-time untuk transaksi strategis, dan wajibkan laporan triwulanan berisi analisis dampak sosial-ekonomi proyek.

Ketiga, optimalisasi tata kelola. Bentuk Komite Independen (Risk Management, Nominasi dan Remunerasi) dengan melibatkan pakar eksternal. Terapkan whistleblowing system terproteksi untuk antisipasi malpraktik,” ujar mantan Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) dan Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) itu.

Untuk Dewan Direksi (Eksekusi Operasional) PTPL, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (USK) itu menyarankan hendaknya melakukan sesuai tupoksinya.

Pertama, kata Apridar, diversifikasi pendapatan. “Kembangkan kawasan industri halal berbasis potensi lokal (perikanan, kelapa) dengan skema joint venture. Optimalisasi aset pelabuhan melalui tiered-service: logistik ekspor, bunkering, dan galangan kapal skala UMKM. Bangun ekowisata pesisir terintegrasi (mangrove, pantai Ujong Blang) dengan konsep community-based tourism,” tuturnya.

Kedua, lanjut Apridar, inovasi dan efisiensi. Yakni, digitalisasi layanan melalui Platform Ekosistem PTPL (marketplace UMKM, e-logistik, virtual investor hub). “Konversi limbah industri menjadi energi terbarukan (biogas/pelet) untuk mengurangi biaya operasional”.

Ketiga, tambahnya, kolaborasi strategis melalui kemitraan dengan PT Pelindo untuk feeder shipping Aceh-Sumatra Utara. Selain itu, kerja sama riset dengan Politeknik Negeri Lhokseumawe untuk teknologi pengolahan hasil laut.

Keempat, pemberdayaan masyarakat. Program upskilling berbasis industri: pelatihan teknisi pelabuhan, sertifikasi ekspor produk UMKM. Skema revenue-sharing untuk proyek infrastruktur melibatkan koperasi lokal,” ujar Apridar.

Sinergi Kritis

Apridar juga menilai perlu dilakukan sinergi kritis. Yaitu, skema pendanaan: kombinasi green bonds untuk proyek berkelanjutan dan KPBU untuk infrastruktur strategis.

Lalu, indikator keberhasilan: peningkatan kontribusi PTPL >15% ke Pendapatan Asli Daerah (PAD); penyerapan tenaga kerja lokal >70% di proyek strategis; dan penurunan gini ratio kota melalui program pemberdayaan terukur.

Adapun mengenai transparansi: publikasi laporan dampak berkala melalui portal terbuka (open data).

Aksi Prioritas

Lebih lanjut Apridar menyebut perlu dilakukan tahap aksi prioritas dalam enam bulan pertama dengan minimal tiga pendekatan. Yakni, audit menyeluruh aset produktif dan potensi pasar; penyusunan Masterplan Kewirausahaan Sosial PTPL; dan launching dua proyek percontohan (eco-industrial park, digital hub UMKM).

“Dengan melakukan minimal tiga pendekatan tersebut, PTPL dapat menjadi engine of growth yang mengubah pendapatan perusahaan menjadi kesejahteraan kolektif, sekaligus memposisikan Lhokseumawe sebagai kota industri berbasis kelautan terdepan di Aceh,” pungkas Apridar.[]

 

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy