Runtuhkan Batas! Gelombang Kepemimpinan Perempuan Pribumi AS Kuasai Pemilu 2026

Crystalyne Curley mengenakan pakaian tradisional Navajo biru dengan perhiasan perak khas sedang tersenyum dan melambaikan tangan dalam parade kampanye presiden suku.
Crystalyne Curley saat berkampanye dalam Parade Navajo Nation Fair di Window Rock, Arizona, sebelum resmi terpilih sebagai presiden perempuan pertama bagi sukunya. Foto: Erinn Benally / Crystalyne Curley for Navajo Nation President via AP

Albuquerque, New Meksiko – Sebuah darmawisata saat kelas tiga sekolah dasar ke Dewan Navajo Nation menyalakan ambisi politik Crystalyne Curley. Kala itu, ia menyaksikan langsung sebuah debat sengit meletus di antara dua anggota parlemen suku.

“Saya membatin saat masih sangat muda, di sanalah saya ingin berada,” kenang Curley.

Pada Hari Pemilihan, Curley berhasil melampaui impian masa kecilnya itu dan meruntuhkan tembok pembatas yang bahkan tak pernah ia bayangkan saat masih berusia sembilan tahun: Ia terpilih sebagai presiden perempuan pertama dalam sejarah Navajo Nation.

Pemilu pekan ini membawa gelombang kemenangan bersejarah yang monumental, mulai dari gubernur perempuan kulit hitam pertama di negara tersebut, dan Muslim pertama yang terpilih masuk ke Senat AS. Momentum ini sekaligus menandai titik balik penting bagi perempuan Pribumi Amerika (Native American), yang kepemimpinannya di dalam keluarga dan komunitas selama ini jarang bertransformasi menjadi kekuatan politik formal.

Peggy Flanagan sukses menjadi perempuan Pribumi Amerika pertama yang terpilih menjadi anggota Senat AS, Deb Haaland menjadi perempuan pribumi pertama yang memenangkan kursi gubernur negara bagian, dan Curley menjadi perempuan pertama yang memimpin salah satu suku terbesar di Amerika Serikat.

“Ini adalah kemenangan bagi seluruh perempuan Navajo,” ujar Curley, dilansir The Associated Press, Minggu, 8 November 2026.

Jordan James Harvill, seorang warga suku Cherokee Nation sekaligus ahli strategi dari kelompok advokasi Advance Native Political Leadership, mengungkapkan bahwa pengorganisasian politik yang dilakukan selama puluhan tahun kini mulai membuahkan hasil seiring semakin banyaknya perempuan pribumi yang maju dan memenangkan pemilu.

“Ini adalah pergeseran seismik yang sedang terjadi di komunitas kami,” tegasnya.

Navajo Nation Pilih Presiden Perempuan Pertama

Lene Bitsui membulatkan dukungannya untuk Curley dalam pemilu Navajo Nation karena ia merasa Curley berada di posisi terbaik untuk memulihkan ketertiban di pemerintahan suku setelah apa yang ia nilai sebagai periode disfungsional. Namun, saat Bitsui memberikan suaranya, ia sempat merasa pesimistis.

“Saya mengira masyarakat kita belum siap untuk memiliki seorang presiden perempuan,” kata Bitsui. “Saya salah, dan saya merasa sangat bahagia karena telah salah.”

Pemerintahan Navajo modern yang tersentralisasi selalu dipimpin oleh laki-laki sejak didirikan di bawah tekanan federal lebih dari seabad lalu. Suku Navajo sendiri memiliki wilayah daratan terbesar dari seluruh suku yang diakui secara federal, membentang seluas 27.000 mil persegi (70.000 kilometer persegi) di wilayah Arizona, New Mexico, dan Utah, serta menempati peringkat kedua dalam jumlah populasi setelah suku Cherokee Nation di Oklahoma.

Sebagian masyarakat Navajo percaya bahwa ajaran tradisional melarang perempuan memegang posisi puncak pemerintahan. Sementara sebagian lainnya menilai absennya perempuan di kursi kepresidenan justru bertolak belakang dengan struktur matrilinial dalam tatanan masyarakat Diné (Navajo).

“Anda dapat melihat bahasa tradisi digunakan baik untuk meremehkan kemungkinan seorang perempuan menjadi presiden, maupun untuk menyatakan bahwa kepemimpinan perempuan sangat dibutuhkan saat ini,” ujar Jennifer Nez Denetdale, seorang profesor kajian Diné di University of New Mexico.

Curley, yang menurut hasil tidak resmi menang tipis atas pengacara Justin Jones, mengungkapkan bahwa ia sempat menghadapi retorika seksis selama masa kampanye dan memperkirakan dirinya akan dituntut dengan standar yang lebih tinggi sebagai presiden perempuan pertama.

“Sebagai perempuan, kami harus bekerja dua atau tiga kali lebih keras, terutama dalam panggung politik Navajo,” tutur Curley, yang sebelumnya juga mengukir sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin cabang legislatif suku sebagai ketua dewan suku.

Setelah Curley dan pasangan politiknya, Chris Deschene, resmi menjabat pada Januari 2027 mendatang, mereka berencana membawa Navajo Nation bertransisi meninggalkan pengembangan batu bara—yang secara historis menjadi mesin ekonomi utama suku tersebut—serta menegaskan kembali peran kepemimpinan mereka dalam diskusi nasional terkait kebijakan suku Indian di tingkat federal.

Selain itu, suku Seneca Nation of Indians di bagian barat New York juga mencatatkan sejarah dengan memilih presiden perempuan pertama mereka, yakni Tina Abrams, yang merupakan anggota dewan senior suku setempat pada Selasa lalu.

Perempuan Pribumi Kuasai Kongres AS

Dalam perayaan kemenangannya di Senat di St. Paul, Minnesota, politisi Demokrat Peggy Flanagan, yang merupakan warga suku White Earth Nation sekaligus mantan wakil gubernur negara bagian tersebut, menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada para pendukung dari komunitasnya.

“Saya tidak bisa mencalonkan diri ke Senat AS tanpa perempuan pribumi. Saya tidak bisa ada seperti sekarang ini tanpa perempuan pribumi,” ucap Flanagan penuh haru.

Selama lebih dari 230 tahun sejak Senat AS didirikan, hanya ada empat orang pribumi yang pernah bertugas di lembaga tinggi tersebut, dan semuanya adalah laki-laki.

“Ini adalah kemenangan yang menunjukkan bahwa kita dapat menghancurkan setiap glass ceiling (langit-langit kaca pembatas),” ujar Harvill.

Flanagan nantinya akan bergabung dengan politisi Republik asal Oklahoma, Senator Tom Cole, yang merupakan warga suku Chickasaw Nation. Jika kemenangan politisi Demokrat Mary Peltola—seorang perempuan Yup’ik—dalam pemilu Senat di Alaska yang masih belum beres resmi ditetapkan, hal itu akan menandai pertama kalinya tiga orang pribumi bertugas di kamar Senat secara bersamaan.

Sementara di majelis Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS, politisi Demokrat asal Kansas, Sharice Davids (suku Ho-Chunk), dan politisi Republik asal Oklahoma, Josh Brecheen (suku Choctaw), berhasil memenangkan pemilihan kembali. Di sisi lain, politisi Demokrat New York Claire Valdez (warga Ysleta del Sur Pueblo) dan politisi Demokrat Michigan Sean McCann (warga Citizen Potawatomi Nation) menjadi orang Pribumi Amerika pertama yang terpilih mewakili negara bagian mereka di Kongres.

Deb Haaland Torehkan Sejarah Baru di New Mexico

Karier politik Deb Haaland terus diwarnai oleh tonggak sejarah besar. Ia adalah satu dari dua perempuan pribumi pertama yang terpilih menjadi anggota Kongres pada tahun 2018 sebelum akhirnya diangkat menjadi orang Pribumi Amerika pertama yang memimpin lembaga kabinet AS, yakni Departemen Dalam Negeri.

Kini, di tanah kelahirannya di New Mexico, warga suku Laguna Pueblo tersebut kembali mengukir sejarah emas sebagai perempuan pribumi pertama yang sukses memenangkan kursi gubernur di sebuah negara bagian AS.

“Saya pikir hal ini sudah lama dinantikan,” kata Haaland, yang menelusuri garis silsilah leluhurnya di wilayah yang sekarang menjadi New Mexico hingga 800 tahun ke belakang.

Kini ia mengemban tugas berat untuk memenuhi janji-janji kampanyenya demi membuat biaya hidup lebih terjangkau bagi warga New Mexico yang sedang kesulitan ekonomi, serta membenahi capaian hasil pendidikan di negara bagian tersebut yang terus memburuk.

Haaland, yang akrab disapa “Bibi Deb” (Auntie Deb) di wilayah komunitas adat Indian Country, tampak berkaca-kaca saat merenungkan besarnya dukungan yang ia terima dari para pemilih pribumi serta sesama politisi perempuan pribumi lainnya, termasuk Davids dan Flanagan.

“Hal ini membuat saya sangat bahagia karena kami mampu menunjukkan keberadaan kami,” ungkap Haaland. “Ini bukan sekadar slogan. Sangat penting artinya ketika masyarakat merasa keterwakilan mereka nyata.”[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy