Diskusi di Mapesa: Peneliti Paparkan Tujuan Rekonstruksi Sejarah Aceh

Diskusi Sejarah di Mapesa1
Diskusi Sejarah di Sekretariat Bersama Mapesa dan Pedir Museum di Banda Aceh, Sabtu, 15 Maret 2025. Foto: Mapesa

Banda Aceh – Peneliti Sejarah dan Kebudayaan Islam Asia Tenggara, Abu Taqiyuddin Muhammad mengupas tentang Manusia dan Filosofi Kemerdekaan hingga Kolonialisme dan Aceh dalam Sejarah Islam, di acara Diskusi Sejarah digelar Mapesa di Banda Aceh, Sabtu, 15 Maret 2025. Pada bagian akhir diskusi itu dipaparkan tujuan merekonstruksi sejarah Aceh, yakni untuk mewujudkan kejayaan seperti masa silam melalui mental keislaman dan teknologi-sains yang harus dimiliki putra-putri Aceh.

Diskusi Sejarah berlangsung di Sekretariat Bersama Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) dan Pedir Museum itu juga menghadirkan Inspektur Kodam Iskandar Muda (Irdam IM), Brigjen TNI Yudi Yulistyanto sebagai narasumber. Yudi Yulistyanto selama ini ikut serta bersama Mapesa dalam upaya melestarikan tinggalan sejarah di Aceh. Diskusi tersebut dipandu Direktur Pedir Museum Masykur Syafruddin.

Dikutip Line1.News, Ahad (16/3), dari poin-poin rangkuman Diskusi Sejarah itu, pada bagian pertama Taqiyuddin Muhammad memaparkan tentang Manusia dan Filosofi Kemerdekaan, yang mencakup kesadaran manusia akan kemerdekaan diri; kemerdekaan membutuhkan ruang; dan penyebaran manusia untuk menemukan ruang.

Kesadaran Manusia akan Kemerdekaan

Menurut Taqiyuddin, kesadaran manusia akan kemerdekaan diri, diberikan pilihan (taklif/khithab). Allah Swt berfirman dalam Surat Al-Baqarah Ayat 286, yang artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari (kebaikan) yang diusahakannya, dan ia mendapat siksa dari (kejahatan) yang dikerjakannya”.

Surat Al Kahfi Ayat 29: “Dan katakanlah (Muhammad), ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin (beriman), hendaklah dia beriman dan barang siapa yang ingin (kufur), biarlah dia kufur.”

Taqiyuddin menyebut manusia diturunkan ke bumi untuk mempraktikkan kemerdekaan melalui pilihan tersebut. Taklif/khithab merupakan manifestasi dari “pilihan”.

“Bagi yang mau mengikuti petunjuk lewat ‘taklif/khithab’ (awamir/perintah dan nawahi/larangan) dari Allah Swt, niscaya tidak akan kesulitan untuk hidup di dunia”.

Kemerdekaan Membutuhkan Ruang

Taqiyuddin menjelaskan dalam Ushul Fiqh, kemerdekaan menjadikan syarat bagi taklif/khithab. Ini bukti bahwa Islam membatasi kemerdekaan/liberalisme-individual, kontrakdiksi dengan konsep liberalisme barat.

“Karena manusia sudah sadar akan kemerdekaan, dan mereka butuh ruang untuk mempraktikkan kemerdekaannya, di situ manusia mendirikan negara-bangsa sebagai ruang untuk mempraktikkan nilai-nilai kemerdekaan,” ujar Taqiyuddin.

Menurutnya, negara-bangsa non-Islam mempraktikkan kemerdekaan dengan membuat konsep dualisme kebaikan dan keburukan menurut pemahaman mereka sendiri. Sebagai contoh, negara barat menentukan mana yang baik dan tidak baik lewat undang-undang yang bersumber pada filsafat moral/etika masing-masing, tentunya disandarkan pada akal.

“Sedangkan Islam mengimplementasikan kemerdekaan yang seharusnya, mencari apa yang baik dan buruk melalui sandaran ilmu syara’,” tutur Alumnus Universitas Al Azhar Kairo itu.

Penyebaran Manusia untuk Menemukan Ruang

Taqiyuddin mengatakan salah satu kehebatan dalam sejarah manusia adalah penyebaran populasinya yang cepat dan masif di penjuru dunia. Allah berfirman dalam Surat Ar-Rum Ayat 20: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak (kemudian tersebar ke penjuru dunia)”.

“Salah satu penyebabnya adalah pencarian akan ruang mempraktikkan kemerdekaan tadi,” ucapnya.

Menurutnya, dalam hukum Islam, penyebaran ini dibatasi. Artinya, seseorang tidak boleh membuka tempat tinggal baru di atas kepemilikan orang lain sesuka hatinya (seuneubok/pembukaan lahan).

“Praktik kemerdekaan ini menjadi dasar berdirinya bangsa-bangsa dan negara-negara”.

Tanda kebesaran Allah adalah Dia menciptakan manusia dengan perbedaan bahasa dan warna kulit. Allah berfirman dalam Surat Ar-Rum Ayat 22: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, serta berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”.

Selanjutnya, pada bagian kedua diskusi itu, Taqiyuddin membahas tentang Kolonialisme dan Aceh dalam Sejarah Islam, menyangkut asal-usul kolonialisme; arah penyusunan konsep baru sejarah Islam; dan tujuan merekonstruksi sejarah Aceh dan Kepulauan Nusantara/Asia Tenggara dengan metode sejarah Islam.

Asal-Usul Kolonialisme/Penjajahan

Taqiyuddin mengungkapkan penjajahan terjadi karena kesalahpahaman memaknai etimologi dari “kemerdekaan” itu sendiri. “Seolah-olah seseorang berhak mencaplok/menzalimi kemerdekaan orang lain, karena si penjajah merasa merdeka”.

Allah telah memberi petunjuk tentang ini dalam Al-Quran, Surat Al-Baqarah Ayat 36: “Kemudian setan menjadikan keduanya tergelincir dari surga itu dan mengeluarkan mereka dari (keadaan semula); dan Kami berfirman, ‘Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”

Menurut Taqiyuddin, penjajahan didorong oleh penafsiran yang berbeda tentang kemerdekaan. Sejarah perjalanan negara-bangsa adalah sejarah muncul dan musnah sebuah bangsa. “Begitulah The History of Nation-State, ada yang punah dan muncul yang baru”.

Surat An-Nisa Ayat 133: “Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu, wahai manusia, dan mendatangkan yang lain (sebagai penggantimu). Dan Allah Mahakuasa atas yang demikian itu”.

Menurut Zachary M Schrag, dalam bukunya The Princeton Guide to Historical Research, sejarah negara-bangsa mengikuti alur sejarah manusia.

Arah Penyusunan Konsep Baru Sejarah Islam

Akan tetapi, menurut Taqiyuddin, sejarah Islam akan bercerita dengan gaya yang berbeda dari konsep sejarah yang disebutkan tersebut.

“Dalam Islam, sejarah timbul-tenggelam negara-bangsa juga ada. Daulah Abbasiyah diganti oleh dinasti yang lain, dan seterusnya. Tetapi bukan itu yang menjadi pokok fokus kita. Sejarah Agama Islam adalah milik Allah Swt karena itu Islam tidak musnah”.

Surat Ali Imran Ayat 19: “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam”.

“Dan itulah Islam yang menyatukan dan merekatkan kita dalam suatu ikatan yang menjadi kebaikan kita. Itulah arah pikir dalam menyusun konsep sejarah baru,” tegas Taqiyuddin.

Taqiyuddin melanjutkan, “Kita sudah eneg (muak) dengan sejarah yang dibangun oleh kolonial, dan kita ingin keluar dari sejarah tersebut. Yang kita warisi lebih banyak sejarah kolonial; batas-batal teritorial, dan sebagainya. Kita akan keluar dari teritorial yang diberikan kolonial itu”.

Tujuan Merekonstruksi Sejarah Aceh dan Kepulauan Nusantara/Asia Tenggara dengan Metode Sejarah Islam

Bicara impian, kata Taqiyuddin, kita ingin bukan sekadar merekonstruksi sejarah, tetapi juga mengembalikan sejarah keislaman itu sendiri. “Jika dulu banyak parkir boat (kapal) di teluk Aceh, dengan rekonstruksi sejarah berdasarkan basis kesejarahan Islam ini, kita berharap bisa mengembalikan ‘boat-boat’ itu kembali ke teluk Aceh. Membuat Aceh maju seperti sedia kala, lewat mental keislaman tadi serta perkembangan teknologi”.

“Artinya, teknologi-sains harus dimiliki kembali oleh putra-putri Aceh secara khusus dan Republik Indonesia secara umum,” ucap Taqiyuddin Muhammad.[]

 

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy