Fesmed Selat Malaka AJI Sukses Digelar: Hangatnya Kolaborasi dari ERK hingga Pulau Penyengat

Pembukaan Fesmed Selamat Malaka 2026 foto bersama
Pengurus AJI Indonesia, Direktur Politeknik Negeri Batam, panitia, dan tamu undangan berfoto bersama saat pembukaan Festival Media Selat Malaka 2026 di Auditorium Politeknik Negeri Batam, Kepulauan Riau, Sabtu, 19 September 2026. Foto: Panitia Fesmed Selat Malaka

Batam – Nuansa hangat kolaborasi dan semangat menjaga kebebasan pers begitu terasa dalam gelaran Festival Media (Fesmed) Selat Malaka Aliansi Jurnalis Independen (AJI) 2026. Perhelatan tahunan yang mempertemukan ratusan jurnalis dan elemen masyarakat ini sukses digelar di dua kota, Batam dan Tanjungpinang, Kepulauan Riau, pada 19–21 September.

Lebih dari sekadar ajang berkumpul, festival ini hidup lewat rangkaian seminar internasional, lebih dari 20 lokakarya interaktif, diskusi publik, pentas seni budaya, konser musik, sarasehan, hingga konsolidasi internal AJI dari berbagai penjuru Indonesia.

Kemeriahan itu bermula di Politeknik Negeri Batam pada Sabtu (19/9/2026). Pembukaan festival yang mengusung tema “Kemerdekaan Pers dan Keadilan HAM di Asia Tenggara” ini ditandai dengan dentuman kompak pemukulan kompang. Momen peresmian ini dilakukan bersama oleh Ketua Umum AJI Indonesia Nany Afrida, Sekretaris Jenderal AJI Indonesia Bayu Wardhana, Direktur Politeknik Negeri Batam Bambang Hendrawan, Ketua Panitia Fesmed Selat Malaka 2026 Adam Zulfikar, Ketua AJI Batam Yogi Eka Sahputra, dan Ketua AJI Tanjungpinang Sutana.

Tak kurang dari 500 peserta memadati ruangan, larut dalam ruang diskusi yang membuka rangkaian festival.

Membaca Kebebasan Pers di Asia Tenggara

[Suasana penuh khidmat para peserta saat menyimak seminar internasional mengenai potret kebebasan pers di Asia Tenggara. Foto: Panitia Fesmed Selat Malaka]

Seminar internasional menjadi pemantik awal untuk memotret realitas kebebasan pers dan jurnalisme di Asia Tenggara. Panggung diskusi menghadirkan perspektif tajam dari para tokoh pers internasional. Di antaranya, James Gomez (Regional Director Asia Centre), Pongpan Chunjai (Prachatai Thailand), Alyaa Alhadjri (Koordinator Gerakan Media Merdeka/Geramm), serta Daisuke Furuta (Editor-in-Chief Japan Fact-check Center), yang bersanding dengan Ketua Umum AJI Indonesia Nany Afrida.

Mereka membedah tantangan nyata jurnalis di kawasan Asean dan sepakat bahwa solidaritas lintas batas adalah kunci kekuatan baru.

Daisuke Furuta menegaskan, mempererat hubungan dengan jaringan pers internasional adalah langkah konkret untuk saling menjaga. Menurutnya, dukungan global mampu menarik perhatian dunia terhadap kekerasan atau kasus hukum yang menimpa jurnalis di daerah.

“Dan harapannya ada aksi nyata yang mengikutinya,” kata Daisuke dalam seminar tersebut.

Baca Juga: Seminar Internasional Fesmed Selat Malaka Kupas Hambatan dan Masa Depan Jurnalisme

Ketua Panitia Fesmed Selat Malaka 2026, Adam Zulfikar, menekankan bahwa festival ini sengaja dirancang sebagai ruang aman yang inklusif untuk merawat nalar kritis.

“Di tengah situasi seperti sekarang, ruang untuk berdiskusi, bertukar perspektif, dan membicarakan berbagai persoalan mesti terus diperbanyak,” katanya.

Bagi Adam, tekanan terhadap jurnalisme adalah keresahan kolektif di Asia Tenggara. Wilayah Selat Malaka dipilih sebagai simbol titik temu yang independen untuk menyuarakan keresahan tersebut.

“Dari sini, kita melihat ada banyak isu melampaui batas negara yang bisa dibicarakan bersama, terutama terkait media, jurnalisme, lingkungan, demokrasi, dan masyarakat sipil,” ujarnya.

Lebih dari 20 Lokakarya dan Diskusi yang Hidup

Energi festival berpindah ke ruang-ruang kelas Politeknik Negeri Batam melalui lebih dari 20 lokakarya, seminar, dan talkshow. Menariknya, isu yang diangkat sangat membumi dan dekat dengan hajat hidup orang banyak. Mulai dari dampak pembangunan data center terhadap pasokan energi dan air, nasib pulau-pulau kecil, darurat tindak pidana perdagangan orang (TPPO), peningkatan kapasitas jurnalis, jurnalisme warga, hingga teknik penulisan ilmiah populer untuk akademisi.

Ruang-ruang kelas mendadak penuh sesak. Adam mengaku terharu dengan tingginya antusiasme warga yang datang dari beragam latar belakang—mulai dari dosen, mahasiswa, peneliti, pejabat pemerintah, jurnalis, hingga masyarakat biasa.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat kita masih peduli dengan keadaan sosial masyarakat yang berada di sekitar mereka,” kata Adam, dikutip dari siaran pers Panitia Fesmed 2026 pada Sabtu (26/9).

Efek Rumah Kaca Memperkuat Solidaritas

[Penampilan magis Efek Rumah Kaca (ERK) di Batam yang membakar semangat solidaritas dan keadilan HAM para peserta Fesmed 2026. Foto: Panitia Fesmed Selat Malaka]

Saat malam tiba, ketegangan diskusi mencair dalam keindahan seni. Ratusan delegasi berkumpul di auditorium, menikmati suguhan tradisi yang memukau dari Kumpulan Anak Seni (KUAS) Politeknik Negeri Batam, alunan Malaykustik, hingga gemulai gerak joget lambak.

Ada pesan lingkungan yang kuat di akhir malam pertama. Plakat penghargaan yang dibagikan kepada delegasi ternyata dirancang khusus dari sampah plastik daur ulang—sebuah aksi nyata hasil kolaborasi AJI Batam dan Free The Sea.

Ketua AJI Batam, Yogi Eka Sahputra, mengungkapkan rasa syukur atas gotong royong luar biasa ini. Berprinsip pada nilai-nilai independensi, panitia juga merangkul hampir 100 relawan mahasiswa dari berbagai elemen kampus di Batam, termasuk LPM Paradigma, PEC, Kuas, dan Pamdal.

“Terima kasih untuk semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu dalam kolaborasi ini,” kata Yogi.

Yogi tak bisa menyembunyikan rasa harunya mengingat kerja keras tim yang sudah menguras energi sejak setahun lalu demi menyajikan acara yang berkesan. “Banyak apresiasi untuk panitia dari tamu undangan kita, semoga ini menjadi kenangan terindah untuk kita semua,” katanya.

Kemeriahan memuncak pada malam kedua lewat penampilan grup musik Efek Rumah Kaca (ERK). Konser ini terasa sangat bersejarah, karena menjadi panggung perdana ERK di Kota Batam sepanjang 26 tahun mereka berkarya.

Konser ini dikemas eksklusif sebagai bentuk apresiasi bagi para peserta yang telah setia mengikuti kelas lokakarya sejak pagi. Suasana malam itu begitu magis, penonton bernyanyi bersama hingga lagu terakhir, menciptakan ikatan emosional yang mendalam.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Aliansi Jurnalis Independen,” kata Bagus, salah seorang pengunjung.

Penyengat dan Konsolidasi AJI

[Kehangatan dan kebersamaan para delegasi AJI dari berbagai daerah saat berkumpul di Aula Lembaga Adat Melayu (LAM) Tanjungpinang. Foto: Panitia Fesmed Selat Malaka]

Pada hari ketiga, perjalanan berlanjut dengan petualangan budaya menyeberang ke Tanjungpinang dan Pulau Penyengat.

Senin pagi (21/9/2026), para delegasi menyusuri jejak sejarah di Pulau Penyengat, meresapi atmosfer masa lalu sembari menggoreskan catatan perjalanan mereka. Perjalanan budaya ini ditutup dengan kehangatan tradisi makan berhidang khas Melayu di Aula Kantor Lembaga Adat Melayu (LAM) Tanjungpinang.

Baca Juga: Melayari Mas Kawin Sultan: Kala Jurnalis Meniti Jejak Gurindam di Pulau Penyengat

Usai menyantap hidangan, sore harinya suasana berganti khidmat saat para jurnalis AJI menggelar konsolidasi internal organisasi yang dipimpin langsung oleh Sekretaris Jenderal AJI Indonesia, Bayu Wardhana.

Ketua AJI Tanjungpinang, Sutana, menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas ketulusan semua pihak yang membantu menyukseskan gelaran besar ini.

“Terima kasih kepada seluruh panitia dan pihak yang telah mendukung terlaksananya acara ini,” ujar Sutana.

Apresiasi tinggi juga datang dari Ketua Umum AJI Indonesia, Nany Afrida. Baginya, momen tatap muka ini adalah energi penting untuk merekatkan kembali komunikasi antara pengurus nasional dan AJI kota demi memperkuat fondasi organisasi di masa depan.

Nany juga menitipkan pesan menyentuh agar kebersamaan yang terjalin selama tiga hari ini tidak luntur saat kembali ke daerah masing-masing.

“Senang sekali bisa bertemu dengan teman-teman untuk menyampaikan semua rencana-rencana. Kita berharap ke depannya AJI semakin kuat,” ujar Nany.

Ia juga berterima kasih kepada panitia dan peserta yang telah mendedikasikan waktu dan energinya secara sukarela tanpa pamrih.

Dalam sejarah panjang Festival Media AJI, gelaran tahun 2026 ini mengukir catatan sejarah baru karena untuk pertama kalinya dilaksanakan di dua kota sekaligus. Fesmed Selat Malaka AJI 2026 sukses menjadi ruang perjumpaan yang hidup bagi jurnalis, akademisi, mahasiswa, masyarakat sipil, dan masyarakat umum untuk saling berbagi ilmu serta mengawal isu publik bersama, demi memperkuat jejaring media dan masyarakat sipil di kawasan Selat Malaka.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy