Di antara keistimewaan bulan Ramadan terdapat satu malam yang sangat agung dan selalu dinantikan umat Islam, yaitu Lailatul Qadar. Malam ini menjadi salah satu bentuk rahmat dan kasih sayang Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW.
Pada malam tersebut, pahala ibadah yang dilakukan seorang hamba memiliki nilai yang luar biasa. Bahkan melampaui ibadah yang dilakukan dalam waktu yang sangat panjang yakni seribu bulan.
Keutamaan malam ini ditegaskan langsung dalam Al-Qur’an:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍ
Artinya: “Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 5)
Baca juga: Ayat dan Hadis Tentang Malam Lailatul Qadar
Ayat di atas menunjukkan betapa besar kemuliaan Lailatul Qadar. Kendati memiliki kedudukan yang sangat istimewa, kepastian waktu terjadinya Lailatul Qadar tidak dapat diketahui secara langsung oleh manusia. Sebab, hal ini merupakan bagian dari rahasia Allah SWT.
Namun, Rasulullah SAW memberikan petunjuk agar umat Islam mencarinya pada sepuluh malam terakhir (‘asyrul awakhir) bulan Ramadan.
Dalam sebuah riwayat hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Artinya: “Carilah Lailatul Qadar itu dalam malam sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan.” (HR Bukhari dan Muslim)
Imam az-Zarqani (wafat 1122 H) dalam kitabnya menjelaskan bahwa kata taharrau dalam hadis tersebut tidak sekadar bermakna mencari, tetapi menunjukkan upaya pencarian yang sungguh-sungguh dan penuh keseriusan.
Dengan kata lain, Lailatul Qadar bukan hanya ditemukan secara kebetulan, tetapi perlu diraih melalui kesungguhan dalam beribadah:
قَوْلُهُ: تَحَرَّوْا اطْلُبُوا، وَمِثْلُهُ فِي رِوَايَةِ عَبْدَةَ وَوَكِيعٍ، وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ نُمَيْرٍ وَالْقَطَّانِ: الْتَمِسُوا، وَهُمَا بِمَعْنَى الطَّلَبِ لَكِنْ مَعْنَى التَّحَرِّي أَبْلَغُ لِأَنَّهُ يَقْتَضِي الطَّلَبَ بِالْجِدِّ وَالِاجْتِهَادِ
“Perkataan: Taharrau berarti carilah. Makna yang sama terdapat dalam riwayat ‘Abdah dan Waki’. Sedangkan dalam riwayat Ibn Numair dan al-Qaththan disebutkan iltamisu, yang juga bermakna carilah. Keduanya memiliki arti mencari, tetapi kata taharriy (taharrau) lebih kuat maknanya karena menunjukkan pencarian dengan kesungguhan dan keseriusan.” (Syarh az-Zarqani ala Muwattha’ [Kairo: Maktabah ats-Tsaqafah], vol. 2, h. 320)
Baca juga: Lailatul Qadar Ramadan 1447 H akan Jatuh pada Malam Ke-25 Menurut Imam Ghazali
Sebagian ulama ada yang mencoba memberikan perkiraan waktu Lailatul Qadar dengan memerhatikan hari pertama bulan Ramadan. Pendapat demikian dinukil dari sejumlah ulama, termasuk dari Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali.
Disebutkan bahwa jika awal Ramadan jatuh pada hari tertentu, maka Lailatul Qadar diperkirakan berada pada malam ganjil tertentu di sepuluh hari terakhir.
Perinciannya sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Ahmad Salamah al-Qalyubi (wafat 1069 H) dalam catatannya:
قَوْلُهُ: (إِلَى لَيْلَةٍ) أَيْ مِنَ الْعَشْرِ الْمَذْكُورِ مُطْلَقًا، أَوْ مِنْ مُفْرَدَاتِهِ كَمَا اخْتَارَهُ الْغَزَالِيُّ وَغَيْرُهُ، وَقَالُوا: إِنَّهَا تُعْلَمُ فِيهِ بِالْيَوْمِ الْأَوَّلِ مِنَ الشَّهْرِ؛ فَإِنْ كَانَ أَوَّلُهُ يَوْمَ الْأَحَدِ أَوِ الْأَرْبِعَاءِ فَهِيَ لَيْلَةُ تِسْعٍ وَعِشْرِينَ، أَوْ يَوْمُ الِاثْنَيْنِ فَهِيَ لَيْلَةُ إِحْدَى وَعِشْرِينَ، أَوْ يَوْمُ الثُّلَاثَاءِ أَوِ الْجُمُعَةِ فَهِيَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ، أَوْ يَوْمُ الْخَمِيسِ فَهِيَ لَيْلَةُ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ، أَوْ يَوْمُ السَّبْتِ فَهِيَ لَيْلَةُ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ
“Perkataan: Hingga suatu malam, yakni dari sepuluh malam yang telah disebutkan secara umum atau dari malam-malam ganjilnya, sebagaimana dipilih oleh Imam al-Ghazali dan ulama lainnya. Mereka mengatakan bahwa malam Lailatul Qadar dapat diketahui berdasarkan hari pertama bulan Ramadhan. Jika awalnya jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadar terjadi pada malam ke-29. Jika pada hari Senin, maka malam ke-21. Jika pada hari Selasa atau Jumat, maka malam ke-27. Jika pada hari Kamis, maka malam ke-25. Dan jika pada hari Sabtu, maka malam ke-23.” (Hasyiyah al-Qalyubi wa ‘Umairah [Beirut: Dar Al-Fikr], vol. 2, h. 96)
Berdasarkan penetapan resmi pemerintah melalui Kementerian Agama, awal Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Jika mengikuti metode perkiraan para ulama di atas di mana Ramadan dimulai pada hari Kamis maka Lailatul Qadar diperkirakan terjadi pada malam ke-25 Ramadan.
Dengan demikian, pada tahun 2026 Lailatul Qadar diperkirakan jatuh pada Sabtu malam Ahad, 14 Maret 2026.
Walaupun terdapat prediksi akan terjadinya Lailatul Qadar, para ulama menegaskan hal itu sebagai bentuk ijtihad, bukan kepastian mutlak. Sebab, waktu pasti Lailatul Qadar tetap menjadi rahasia Allah SWT.
Baca juga: Enam Amalan Rasulullah SAW pada 10 Akhir Ramadan
Oleh karena itu, tidak semestinya seseorang hanya beribadah pada satu malam tertentu saja. Cara terbaik untuk meraih keutamaan malam tersebut adalah dengan memperbanyak ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil seperti malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29.
Dengan memperbanyak salat sunah, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa pada malam-malam tersebut, seorang Muslim memiliki peluang yang lebih besar untuk meraih keberkahan Lailatul Qadar yang nilai lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan. Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy