Sang Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali (450 – 505 Hijriah) ternyata pernah belajar dari seorang tukang sol sepatu. Kisah ini disebutkan Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Maraqil Ubudiyah syarah Bidayatul Hidayah.
Dikisahkan, Imam Ghazali sering menjadi imam salat berjamaah di sebuah masjid dekat rumahnya. Namun, saudaranya yang bernama Ahmad tidak pernah terlihat menjadi makmum di masjid tersebut. Suatu hari, Imam Ghazali mengadukan hal ini kepada ibunya.
“Ibu, tolong suruh saudaraku, Ahmad, untuk salat berjamaah bersamaku supaya orang-orang tidak menuduh macam-macam,” ujar Al-Ghazali pada ibunya.
Setelah mendapat perintah sang ibu, Ahmad pun menurutinya dan menjadi makmum saat Al-Ghazali menjadi imam salat di masjid. Namun di tengah salat, Ahmad melakukan mufaraqah atau berpisah dengan imam.
Usai salat, Imam Ghazali pun mengetahui Ahmad melakukan mufaraqah dan menanyakan alasannya. “Aku melihat kamu dipenuhi dengan darah,” jawab Ahmad.
Imam Ghazali pun mengakui saat salat pikirannya terganggu dengan masalah darah haid. Tepatnya pada persoalan mutahayyirah, yaitu wanita yang sudah pernah mengalami haid dan suci darinya, kemudian mengalami pendarahan kembali.
“Dari mana kamu belajar ilmu ini?” tanya Al-Ghazali penasaran.
“Aku mempelajarinya dari syeh yang berprofesi sebagai tukang sol sepatu,” jawab Ahmad.
Tidak menunggu lama, setelah mengetahui sosok dan alamatnya, Imam Ghazali pun segera berangkat untuk menemui dan belajar kepada syeh yang dimaksud.
Baca Juga: Hukum Air Kurang Dua Kulah Kemasukan Najis
“Wahai tuanku, aku ingin belajar ilmu kepadamu,” ucap Al-Ghazali usai bertemu dan menyampaikan salam.
“Sepertinya kamu tidak akan sanggup untuk taat pada perintahku,” jawab syeh meragukan keseriusan Imam Ghazali.
“Insya Allah aku sanggup,” jawab Imam Ghazali meyakinkan syeh.
“Kalau begitu, sekarang coba kamu sapu lantai ini,” ujar syeh tersebut.
Ketika Imam Ghazali hendak mengambil sapu, syeh kemudian menyuruh agar lantai tidak dibersihkan dengan sapu melainkan dengan tangan. Al-Ghazali pun melakukannya, menyapu lantai tersebut dengan tangannya.
Setelah lulus dari ujian pertama, syeh kemudian menguji kembali Al-Ghazali, yaitu memerintahkannya untuk membersihkan kotoran yang ada di sekitarnya.
“Sapulah kotoran itu.”
Baca Juga: Tu Sop Jeunieb: Umat Islam akan Unggul Saat Mengamalkan Agamanya
Ketika Al-Ghazali hendak melepas pakaiannya, syeh kemudian memerintahkan agar kotoran itu dibersihkan dengan pakaian itu.
“Bersihkan lantai itu dengan baju yang kamu pakai.”
Saat Al-Ghazali hendak membersihkan kotoran tersebut dengan pakaiannya, syeh mencegahnya karena telah melihat keikhlasan dalam diri muridnya itu.
Selanjutnya, syeh tersebut memerintahkan Al-Ghazali untuk pulang. Setelah kembali dan tiba di madrasahnya, Imam Ghazali merasakan hatinya terbuka dan mendapatkan ilmu yang luar biasa dari Allah melalui wasilah pertemuan tersebut.
Belakangan diketahui bahwa tukang sol sepatu tersebut adalah seorang ahli ma’rifat yang menyembunyikan keilmuannya di balik profesinya.
Namun, perjalanan hidup Imam Ghazali ini mengajarkan pentingnya seorang muslim untuk tidak pernah berhenti belajar. Meski telah bergelar syeh, semangat Imam Ghazali dalam mencari ilmu tidak pernah padam.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy