Khutbah Jumat: Puasa Sebagai Perisai Maksiat

Ilustrasi menunggu berbuka puasa
Ilustrasi menunggu berbuka puasa. Foto: gontornews.com

Jamaah salat Jumat Rahimakumullah,

Ramadan merupakan bulan tarbiyah yang mendidik batin dan membimbing perilaku umat Islam agar selaras dengan visi ilahi. Secara alamiah, ibadah puasa mengajarkan pendidikan penting menahan diri.

Puasa sendiri yang dalam bahasa Arab adalah saum atau siyam memiliki arti menahan atau imsak. Ibadah puasa secara fikih berarti menahan diri untuk tidak makan, minum, dan berhubungan suami istri sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Di siang hari bulan Ramadan, kita diajarkan menahan diri dari perbuatan yang sebenarnya tidak dilarang yaitu makan, minum dan berhubungan suami istri. Proses menahan diri ini penting direnungkan karena kebaikan hidup dan keselamatan diri kita ditentukan seberapa mampu kita mengendalikan diri terhadap hal-hal yang merugikan diri sendiri atau orang lain, atau bahkan terhadap sesuatu yang terlihat tidak merugikan.

Di era teknologi saat ini, jika kita tidak dapat mengendalikan mulut atau jari tangan kita saat menuliskan komentar di media sosial, maka kita akan dikriminalisasi dan bisa mendekam di penjara. Pengendalian diri inilah inti pendidikan ibadah puasa yang diwajibkan kepada kita semua.

Dalam hal ini Rasulullah saw menegaskan dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah: “Puasa adalah benteng (perisai), maka janganlah dia (orang yang berpuasa) berkata kotor dan tidak bertindak bodoh. Jika ada orang yang memeranginya atau mencacinya, hendaklah dia berkata: ‘Saya sedang puasa’ (dua kali). Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah Ta’ala daripada bau minyak kasturi. Dia meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya demi Aku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Dan satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat kebaikan serupa.” (HR. Bukhari Muslim)

Di awal hadis, Rasulullah menegaskan puasa adalah perisai. Sebuah penggambaran indah yang menegaskan bahwa dengan ibadah puasa seseorang dapat terhindar dari perbuatan maksiat, dan dengan ibadah puasa pula seorang mukmin dapat mengendalikan diri dari hal-hal terlarang.

Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin berargumentasi bahwa puasa adalah upaya memaksa dan menundukkan kekuatan musuh setan. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, setan selalu memanfaatkan syahwat atau hasrat yang ada dalam diri manusia.

Semakin kuat hasrat manusia maka semakin kuat pula kuasanya atas manusia, sebaliknya semakin lemah hasrat manusia maka semakin lemah pula kuasa setan. Adapun hasrat atau syahwat manusia itu menjadi kuat dengan suplai makanan dan minuman yang terus menerus. Jika suplai ini dihentikan sementara waktu, tentu berdampak melemahkan kekuatan setan.

Di bagian hadis selanjutnya, Rasulullah memberi contoh nyata bagaimana mengendalikan diri saat ibadah puasa. Beliau melarang berkata kotor dan bertindak bodoh. Biasanya, orang berkata kotor itu karena disulut oleh kemarahan dan emosi yang tak terkendali, demikian juga bertindak bodoh seperti mengumpat, membentak-bentak, dan adu mulut.

Dalam keseharian, tentu kita mendapati banyak peristiwa yang dapat memicu kemarahan dan perbuatan emosional baik di dunia nyata atau di media sosial.

Bulan suci Ramadan mengajarkan kepada kita bahwa perkataan kotor dan tindakan emosional tersebut harus dihindari. Hal ini bukan berarti di luar Ramadan berkata kasar diperbolehkan. Tetap saja di luar bulan Ramadan perbuatan tersebut tidak diperbolehkan, dan semakin kuat larangannya saat bulan Ramadan, sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dalam Syarh al-Bukhari.

Lebih lanjut, Rasulullah memperjelas sikap orang berpuasa ketika menghadapi situasi emosional. Beliau menyatakan, jika ada seseorang menyerangmu dengan perkataan kotor, caci maki, serta umpatan, diam dan jangan membalas.

Katakan kepadanya, ‘saya sedang puasa’. Respons yang adem dan mengingatkan kepada hakikat ibadah puasa yaitu pengendalian ego dan emosi. Dan untuk menguatkan respons tersebut, Rasulullah memerintahkan untuk mengatakannya dua kali.

Menurut Imam Nawawi, sebagaimana dinukil Imam Ibnu Hajar, sasaran dari jawaban tersebut tidak hanya orang yang menyerang dengan kata-kata kasar, tetapi juga ego dan nafsu orang yang berpuasa.

Selain mengingatkan kepada orang yang diajak bicara, perkataan ‘saya sedang berpuasa’ juga menyadarkan diri orang yang berpuasa agar dapat mengendalikan kemarahan dan tidak membalas dengan perkataan dan perbuatan emosional.

Jamaah salat Jumat yang Dimuliakan Allah,

Inilah inti pengendalian diri yang diajarkan ibadah puasa sebulan penuh di bulan suci Ramadan. Ikhtiar kita untuk bisa mengendalikan diri melalui ibadah puasa tidaklah sia-sia di sisi Allah SWT. Sebagai bentuk kebajikan-Nya, Allah menyiapkan pahala yang tidak terkira.

Di bagian akhir hadis tersebut, Allah melalui lisan Rasulullah menegaskan besarnya pahala ibadah puasa dengan ungkapan ‘puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya’.

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, amal ibadah manusia telah ditentukan oleh Allah besaran pahalanya dari 10 sampai 700 kali lipat amal perbuatan, kecuali ibadah puasa. Sebab, Allah sendiri yang akan memberikan pahalanya yang besar dan berlimpah tanpa batas ketentuan.

Pengendalian diri dalam ibadah puasa menjadi substansi dan alasan utama bahwa ibadah puasa dapat diterima dan mendapatkan pahala. Hal ini dinyatakan dalam hadis: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, berbuat dusta, dan kebodohan (kemaksiatan), maka Allah tidak butuh (menerima) dia meninggalkan makan dan minumnya”. (HR. Bukhari)

Hadis di atas menunjukkan seseorang yang melaksanakan ibadah puasa tetapi tidak bisa mengendalikan diri sehingga melakukan perkataan dusta, berbuat dusta, dan kemaksiatan yang lain, maka ibadah puasa tersebut tidak diterima oleh Allah SWT dan tidak mendapatkan pahala.

Dari hadis itu, Imam Al-Baidhawi menyimpulkan bahwa tujuan sebenarnya ibadah puasa adalah bukan situasi lapar atau dahaga, tetapi agar seseorang bisa mengendalikan nafsu, ego, dan syahwat yang ada di dalam dirinya.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy