Ma’asyaral muslimin rahimakumullah
Sebagai makhluk yang dibekali akal dan nafsu, adalah sebuah keniscayaan jika manusia dalam perjalanan hidupnya melakukan kesalahan dan dosa. Hal ini juga sejalan dengan pepatah yang mengatakan bahwa manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Dalam hal ini, syariat juga memaklumi dan mengakui bahwa manusia tidak akan pernah luput dari kesalahan.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya, seluruh anak adam (manusia) adalah para pendosa, dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah orang-orang yang bertobat.” (HR Ibnu Majah)
Berdasarkan hadis tersebut, Rasulullah Saw mengakui bahwa setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan perbuatan dosa dalam hidupnya. Namun, kita dilarang untuk berlarut-larut dalam perbuatan dosa dan membiarkan kesalahan masa lalu yang pernah dilakukan mengendap dalam jiwa. Kita dituntut untuk terus memperbaiki diri, bertobat serta memohon ampun kepada Allah atas kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat.
Ma’asyaral muslimin rahimakumullah
Bulan Rajab ini merupakan momentum yang paling tepat untuk membersihkan diri dari dosa-dosa dengan beristighfar dan bertobat kepada Allah. Hal ini karena Rajab adalah bulan yang mulia, salah satu dari empat bulan yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai asyhurul hurum. Di dalamnya terdapat banyak fadilah dan keutamaan yang disediakan untuk umat manusia, khususnya umat Islam.
Terkait kemuliaan bulan Rajab, Rasulullah Saw bersabda: “Bulan pilihan Allah adalah bulan Rajab. Rajab itu adalah bulannya Allah. Barang siapa yang memuliakan bulan Allah yaitu bulan Rajab, maka ia telah memulakan urusan Allah. Dan barang siapa yang memuliakan urusan Allah maka ia akan dimasukkan ke Surga Na’im dan pasti akan mendapatkan ridha yang agung dari Allah.” (HR. Al-Baihaqi)
Dalam hadis di atas, kemuliaan bulan Rajab terletak pada penisbatan bulan tersebut kepada Allah. Sebab, apapun yang dinisbatkan kepada sesuatu yang mulia akan ikut mulia juga. Imam al-Fasyani dalam kitab Tuhfatul Ikhwan menjelaskan bahwa hikmah bulan Rajab disebut sebagai bulannya Allah adalah karena luasnya ampunan Allah pada saat itu. Orang-orang yang bertobat dan meminta ampun pada bulan Rajab akan diberikan ampunan langsung oleh Allah tanpa melalui wasilah atau pemberi syafaat.
Ma’asyaral muslimin rahimakumullah
Dengan keistimewaan yang terdapat dalam bulan Rajab sebagai bulan penuh ampunan, para ulama kemudian menjuluki bulan tersebut sebagai bulan istighfar. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam dalam kitab Kanzun Najah was Surur, disebutkan: “Rajab adalah bulan istighfar. Sya’ban adalah bulan bershalawat kepada nabi yang terpilih (Nabi Muhammad Saw.), dan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an.”
Anjuran untuk memperbanyak membaca istighfar di bulan Rajab juga disampaikan dalam sebuah riwayat dari sahabat Ali bin Abi Thalib yang diriwayatkan ad-Dailami: “Perbanyaklah istighfar pada bulan Rajab. Karena di setiap waktu pada bulan tersebut, Allah membebaskan orang-orang dari api neraka. Di syurga, Allah memiliki beberapa kota yang hanya bia dimasuki oleh orang yang puasa pada bulan Rajab.”
Ma’asyaral muslimin rahimakumullah
Maka dari itu, marilah kita manfaatkan kesempatan ini untuk membersihkan dosa-dosa yang pernah kita lakukan dengan memperbanyak membaca istighfar. Selain itu, kita juga perlu memperhatikan syarat-syarat bertobat agar tobat kita diterima oleh Allah swt.
Sebagaimana disebutkan oleh Syaikh al-Kurdi dalam kitab Tanwirul Qulub, syarat-syarat tobat yaitu; pertama, menyesali perbuatan dosa yang pernah kita lakukan di masa lalu. Kedua, bertekad untuk tidak akan melakukan kesalahan yang sama di waktu mendatang. Ketiga, mengembalikan harta yang kita peroleh secara zalim kepada pemiliknya, atau ahli warisnya, atau bersedekah atas nama mereka jika sulit menjumpai pemiliknya. Keempat, memaafkan musuh dan berbuat baik kepadanya jika memungkinkan.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy