Penyintas tsunami melihat Hovercraft Jepang mendarat di pantai Banda Aceh, Kamis, 27 Januari 2005. Foto: Instagram @mightywarr
Banda Aceh – Gempa bumi Magnitudo 9,3 yang memicu tsunami dahsyat pada akhir 24 Desember 2004 menarik simpati dunia ke Aceh. Saat jalan-jalan putus dan banyak kawasan di pesisir Aceh terkurung, banyak negara mengirimkan bantuan melalui jalur udara.
Operasi militer pun digelar dengan tajuk EAO atau Emergency Airlift Operation. Operasi pengangkutan udara darurat ini terinspirasi dari Berlin Airlift ketika Uni Soviet memblokade Berlin Barat dari semua akses darat dan air saat konfontrasi Perang Dingin.
Melansir aviahistoria.com, selama empat hari setelah 26 Desember 2004, Lanud Halim Perdanakusuma di Jakarta yang ditetapkan sebagai hub utama, hanya sanggup mengirim 70 ton bantuan dari 300 ton yang tertampung.
Sementara di Sumatra, tiga bandara ditetapkan menjadi tempat pusat penyaluran bantuan: Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh Besar, Malikussaleh Aceh Utara, dan Polonia di Medan.
Dari ketiga bandara itu, pesawat angkut dan helikopter milik TNI dan polisi, serta PT Dirgantara Indonesia, hilir mudik mengantar bantuan. Namun jumlah alat angkut udara milik Indonesia ini sangatlah kurang.
Hal itu diakui sendiri oleh Presiden RI saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY, di akun Facebook miliknya pada 26 Desember 2014.
“Alutsista TNI sangat kurang, akibat embargo & sanksi. Konflik bersenjata dengan GAM masih berlangsung. Ada penolakan terhadap bantuan internasional, termasuk militernya. Badan penanggulangan bencana belum terbentuk. Undang-Undang penanggulangan bencana belum ada. Anggaran APBN 2004 tidak tersedia untuk tanggap darurat tsunami Aceh dan Nias,” tulis SBY dilansir Kompas.com.
Di sisi lain, SBY juga mengungkapkan ia mendapatkan banyak tawaran bantuan dari negara-negara sahabat.
“Jumlahnya besar, dan saya kira angka yang paling besar yang diterima oleh sebuah negara di abad ke-21 ini. Persoalannya adalah selalu ada pro dan kontra di dalam negeri. Tetapi, tanpa ragu-ragu saya memutuskan untuk menerima bantuan itu demi masyarakat Aceh dan Nias yang amat menderita.”
Singkat cerita, EAO pun berjalan. Singapura mengerahkan enam unit helikopter angkut berat Boeing CH-47 Chinook milik angkatan udaranya. Heli ini ditempatkan di Polonia. Tak hanya itu, Singapura juga mendatangkan ATC (Air Traffic Controller) Mobile bersebab menara ATC di Bandara SIM lumpuh dan rusak berat akibat gempa.
Malaysia mengirim satu unit CN235 dan dua helikopter Sikorsky S-61 Nuri. Australia mengirim enam pesawat Hercules dan satu Boeing 707, tiga helikopter tipe Bell dan dua Sikorsky SH-3 Sea King, juga kapal angkut amfibi HMAS Kanimbla.
Selandia Baru juga mengirim Hercules. Angkatan Udara Jerman mengirimkan Helikopter Sea King. Angkatan Udara Inggris mengerahkan pesawat angkut Boeing C-17 Globemaster III.
Rusia menghadirkan pesawat angkut berat Ilyushin Il-76 dan Antonov An-124 serta helikopter Mil Mi-8 dan Mi-17 sekaligus rumah sakit lapangan berkapasitas 40 tenda untuk 130 pasien lengkap dengan ruang operasi. Helikopter tersebut digunakan untuk mengangkut generator listrik, penyimpanan obat, dan pompa air bersih ke Simeulue.
Sementara Amerika Serikat membawa 15 unit helikopter SH-60 Sea Hawk milik USS Abraham Lincoln. Kapal induk ini membuang sauh di lepas pantai Meulaboh lalu setelahnya tampak di perairan Aceh Besar. Dari atas geladaknya, belasan helikopter itu bolak-balik membawa bantuan kemanusiaan dan mengevakuasi korban untuk dirawat oleh tim medis di kapal induk.
Kapal rumah sakit Komando Angkatan Laut Militer (MSC) USNS Mercy (T-AH 19) berlayar di samping USS Abraham Lincoln setelah tiba di perairan dekat Banda Aceh, 3 Februari 2025. Foto: Angkatan Laut AS
Helikopter angkut berat CH-46E Sea Knight milik Skadron Marinir Amerika juga dilibatkan dalam EAO untuk membawa logistik.
Praktis ketiga bandara tadi menjadi sesak oleh kehadiran pesawat-pesawat. Ketiga bandara sehari-hari hanya sanggup melayani 8-10 penerbangan, harus melayani sampai 70-80 penerbangan. Ruang parkir bandara menjadi sempit, tak jarang menggunakan taxiway karena apron sudah penuh.
Pada 4 Januari 2005, Boeing 737-300 milik TriMG tergelincir di Bandara SIM karena menabrak kerbau mengakibatkan landasan tidak berfungsi selama sehari. Enam hari berikutnya, Sea Hawk jatuh di area sawah karena kerusakan teknis, untungnya tidak ada korban jiwa.
Sementara lewat jalur laut, dikutip dari Reuters, Jepang ikut membantu dengan membawa hovercraft LCAC-2016 milik Angkatan Laut Bela Diri Jepang (JMSDF) untuk mengirimkan bantuan gelombang pertama. Hovercraft seberat 185 ton ini mendarat di sebuah pantai di Banda Aceh pada Kamis, 27 Januari 2005. Di dalam kapal bantalan udara tersebut, Jepang membawa truk-truk berisi air bersih, peralatan mesin pemurni air, dan alat medis. Selain itu, Jepang juga mengerahkan tiga kapal perang dan 970 personel militernya.
Bantuan-bantuan asing itu kemudian diketahui sangat membantu Aceh bangkit di tengah kondisi tanggap darurat. Dan hingga hari ini Aceh—bahkan Indonesia—aman dari “serbuan” asing.
“Ternyata apa yang dilakukan oleh tentara asing itu amat menguntungkan kita. Alutsista dan perlengkapan untuk mengatasi bencana lebih lengkap. Mereka banyak membantu pelaksanaan operasi tanggap darurat. Tidak ada yang melakukan operasi intelijen. Tidak ada yang membantu GAM. Bahkan mereka memiliki pandangan yang baik terhadap TNI kita yang dinilai profesional, bersahabat dan tidak ada wajah represif sebagaimana yang dicitrakan selama ini,” tulis SBY.[]
Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy
Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy