Kisah Al-Qa’nabi: dari Hidup Hedonis Menjadi Ahli Hadis

Ilustrasi ulama
Ilustrasi ulama. Foto: NU Online

Dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya dalam transmisi ilmu hadis, kita akan menemukan satu tokoh yang populer bernama Abdullah bin Maslamah atau yang dikenal dengan Al-Imam Al-Qa’nabi. Nama beliau terukir indah sebagai salah satu perawi paling terpercaya (tsiqah) dan menjadi rujukan utama bagi para pencari hadis di masanya.

Dikenal luas sebagai murid kinasih dari Imam Malik bin Anas, Al-Qa’nabi menghabiskan waktu bertahun-tahun di Madinah untuk meneguk samudra ilmu dari sang Imam. Bahkan, beliau disebut-sebut sebagai salah satu perawi kitab Al-Muwatta’ yang paling otentik, kedalaman pemahaman dan kesucian riwayatnya diakui oleh para ulama setelahnya.

Imam Abi Hatim pernah ditanya, siapa perawi kitab Al-Muwatta’ yang paling ia sukai. Beliau menjawab, yang artinya, “Tentu Al-Qan‘abi. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih khusyuk darinya.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lamin Nubala, [Mesir, Darul Hadits: 2006], jilid VIII, halaman 368)

Namun, di balik jubah keulamaannya yang agung dan ribuan hadis yang beliau hafal, tersimpan sebuah kisah masa lalu yang sangat menyentuh hati. Siapa sangka, seorang ahli hadis yang masyhur ini dulunya adalah seorang pemabuk berat yang menjalani hidup hedonis di jalanan Bashrah.

Berikut kisah pertobatannya yang luar biasa, berawal dari sebuah perjumpaan tak terduga hingga ia bertransformasi menjadi seorang ulama besar.

Di salah satu sudut kota Bashrah, sebuah kota yang menjadi pusat ilmu dan sastra pada masa keemasan Islam, hiduplah seorang pemuda yang jauh dari jalan hidayah. Pemuda itu adalah Al-Qa’nabi, yang dikenal sebagai sosok yang gemar berpesta, meminum khamar, dan menghabiskan waktunya dalam hura-hura bersama para pemuda lainnya.

Suatu hari, Al-Qa’nabi sedang duduk dengan pongahnya di depan pintu rumah, memegang botol minuman keras sembari menunggu kawan-kawannya datang untuk berpesta mewah. Saat itulah, ia melihat rombongan orang berlarian mengikuti seorang pria yang menunggangi keledai.

Penasaran dengan keriuhan itu, Al-Qa’nabi bertanya kepada salah seorang yang lewat, “Siapa gerangan orang yang kalian ikuti itu?”

“Beliau adalah Imam Syu’bah,” jawab pria tersebut.

Sebuah nama yang asing di telinga Al-Qa’nabi. Ia kembali bertanya, “Siapa itu Syu’bah, kok asing sekali namanya?”

“Ia adalah seorang Ahli Hadis” jawab orang itu dengan penuh hormat.

Mendengar hal itu, Al-Qa’nabi bangkit dengan sisa-sisa keangkuhannya. Ia letakkan botol mirasnya dan mencegat sang Imam. Dengan nada tinggi dan pakaian merah yang mencolok, ia berkata, “Sampaikan satu hadis kepadaku!”

Imam Syu’bah menatapnya dengan tenang, lalu berucap lirih, “Engkau bukanlah termasuk ahli hadis.”

Merasa terhina, Al-Qa’nabi naik pitam. Ia menghunus pedang yang tersembunyi di balik punggungnya dan mengarahkannya tepat ke leher sang Imam.

Suasana seketika mencekam; para pengikut Imam Syu’bah tertegun tak berani bergerak. “Sampaikan hadis kepadaku, atau pedang ini akan melukaimu!” bentaknya kepada Imam Syu’bah.

Merasa tak punya pilihan, Imam Syu’bah kemudian membacakan sebuah hadis yang kelak mengubah garis sejarah hidup Al-Qa’nabi, artinya, “Telah menceritakan kepada kami Manshur, dari Rib’i, dari Abu Mas’ud, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: ‘Jika engkau tidak lagi memiliki rasa malu, maka perbuatlah sesukamu.’” (HR. Bukhari)

Kalimat itu bak petir di siang bolong. Pedang di tangannya luruh, hatinya bergetar hebat. Pesan tentang rasa malu itu menembus relung jiwanya yang paling dalam. Tanpa sepatah kata, ia pulang ke rumah, menumpahkan seluruh simpanan khamarnya, dan meminta istrinya untuk menjamu tamu-tamunya dengan makanan, lalu meminta mereka pergi setelah makan.

Seketika itu juga, ia membulatkan tekad. Ia meninggalkan Bashrah menuju Madinah Al-Munawwarah untuk mendatangi Imam Malik bin Anas. Di sana, ia mengaji dengan tekun, mempelajari kitab Al-Muwatta’, dan menjadi murid kesayangan sang Imam.

Bertahun-tahun kemudian, ia kembali ke Bashrah untuk bertemu dengan Imam Syu’bah, sosok yang dulu pernah membuatnya mendapatkan hidayah. Namun sayang, Imam Syu’bah telah wafat lebih dulu.

Sepanjang hidupnya, ia hanya sempat mendengar satu hadis itu saja dari lisan Imam Syu’bah. Namun hadis itulah yang membawanya menjadi ulama besar.

Kisah ini diabadikan oleh Ibnu Qudamah dalam kitab At-Tawwabin, (Beirut, Darul Ibnu Hazm: 2003), jilid I, halaman 133.

Dari perjalanan Al-Qa’nabi, kita memetik hikmah bahwa masa lalu yang kelam bukanlah penghalang bagi seseorang untuk meraih derajat aulia atau ulama besar di masa depan.

Sebuah kalimat singkat dari lisan seorang guru yang ikhlas, jika bertemu dengan hati yang siap bertobat, mampu meruntuhkan gunung kemaksiatan yang telah bertahun-tahun dibangun. Waallahu A’lam.[]

Penulis: Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy