Kisah Mantan Marinir Amerika Hampir Mengebom Masjid, Akhirnya jadi Mualaf

Richard McKinney mualaf Amerika
Richard McKinney kini aktif dalam pelbagai kegiatan dakwah Islam di Indiana, AS. Foto via Instagram

Richard “Mike” McKinney memilih nama baru, Omar Sayeed Ibn Mac sejak memeluk Islam. Mantan marinir Amerika Serikat (AS) ini terpilih sebagai Presiden Islamic Center of Muncie pada 2014, lembaga yang dahulu hendak diserangnya dengan “bom”.

Kisah itu bermula pada suatu hari Jumat di tahun 2009, Mike tidak lagi mampu menahan diri. Dia memboyong beberapa bahan peledak (improvised explosive device, IED) dari rumahnya. Dengan mengendarai mobil, lelaki bertubuh tegap itu langsung menuju Masjid Islamic Center of Muncie di Indiana, AS. Tujuannya mengebom masjid tersebut dan sekaligus “menghabisi” seluruh Muslim di sana.

Murka sebesar itu ternyata dipicu persoalan sepele. Satu hari sebelumnya, Mike melihat putri kesayangannya, Emily, pulang dari sekolah. Segalanya tampak biasa-biasa saja, hingga ketika anak perempuannya itu menuturkan pengalamannya.

Emily bercerita, dirinya suatu hari diajak untuk datang ke rumah seorang kawannya. Sesampainya di sana, tampaklah ibu temannya itu mengenakan niqab.

“Jadi mereka adalah orang Muslim,” tanya Mike dengan nada tinggi.

“Entahlah, tapi mereka ramah dan baik padaku,” jawab Emily singkat.

Berkali-kali, Mike menyuruh anak perempuannya itu agar jangan lagi dekat-dekat dengan kawannya tersebut. Tentu saja, Emily heran.

Bagaimana menghakimi baik atau buruknya orang dari busana yang mereka pakai? Kalaupun mereka beragama Islam, lantas apa masalahnya?

Hingga malam hari, Mike tidak bisa tidur. Dia merasa cemas kalau putrinya akan dipengaruhi orang-orang “asing” itu. Mimpi buruk terbesarnya adalah, Emily akan menjadi Muslim.

Itulah yang mendorongnya untuk mempersiapkan “bom rumahan”, untuk kemudian diledakkan di tengah jamaah Masjid Islamic Center Muncie. Persiapan dilakukannya dengan rapi. Mike seolah-olah hendak berangkat ke medan pertempuran.

Tibalah Mike di masjid tersebut. Siang itu, tempat ibadah Muslimin ini tampak cukup ramai. Beberapa jamaah masih berada di sana, sesudah menunaikan salat Jumat. Beberapa orang melihat Mike turun dari mobil dengan memakai jas tebal dan ikat kepala.

Untuk sesaat, di pikiran Mike terlintas kata-kata putrinya: “Setiap orang tidak dilahirkan dengan prasangka, rasisme, atau kebencian.” Karena itu, dia sempat mengurungkan niatnya untuk langsung melempari masjid ini dengan “bom” buatan.

Tidak ingin kedatangannya sia-sia, Mike memilih untuk memasuki bangunan Islamic center ini. Mulanya, dia merasa aneh. Pemandangan setempat tampak biasa saja. Tidak ada di sana, umpamanya, spanduk-spanduk semboyan “anti-Amerika” atau “dukungan pada al-Qaeda”—seperti yang selama ini dibayangkannya.

Di dalam masjid itu, Mike berdiri saja. Dia sedikit gugup karena merasa sebagai satu-satunya non-Muslim di sana. Beberapa lama kemudian, seorang jemaah menghampirinya dan berkata, “Apakah ada yang bisa saya bantu?”

Tidak tahu harus menjawab apa, Mike pun menyahut, “Saya ke sini karena ingin tahu tentang Islam.”

Inilah yang mengawali momen kesadarannya. Jemaah tersebut mempersilakan Mike duduk dan menunggu. Lalu, Jemaah itu datang dengan seorang dai yang biasa mengimami salat di masjid tersebut.

Terjadilah dialog di antara keduanya. imam itu mempersilakan Mike untuk menyampaikan pertanyaan atau tanggapannya mengenai Islam. Semula, mantan tentara ini mengaitkan agama tersebut dengan paham-paham terorisme dan ekstremisme. Sang imam mendengarkannya, tanpa sekalipun menyela.

Tiba giliran berbicara, dai tersebut mulai menjelaskan tentang fondasi ajaran Islam, yakni Al-Wuran dan Sunah Nabi Muhammad SAW. Dipaparkannya pula mengenai rukun iman, rukun Islam, serta pengertian ihsan. Dia antara lain menyampaikan salah satu pesan Nabi SAW, yakni tidaklah beliau diutus oleh Allah kecuali untuk menyempurnakan akhlak.

Seorang individu atau kelompok mungkin saja melakukan kekerasan ekstrem dan teror sembari mengatasnamakan agama. Namun, tindakan pelaku kekerasan itu justru bertentangan dengan ajaran agama. Yang terjadi adalah, mereka kurang memiliki pengetahuan yang mendalam tentang Islam.

Mike terlibat dialog yang intens selama beberapa jam di sana. Pada akhirnya, dia mengakui keterbatasan pengetahuannya mengenai Islam. Bahkan, Mike mulai tertarik pada ajaran agama tauhid.

“Segalanya menjadi jelas bagi saya. Sesudah itu, saya pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Keinginan saya kuat untuk menjadi Muslim,” kata Mike mengenang salah satu momen terpenting dalam hidupnya.[]

 

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy