Umar bin Khattab: Sang Al-Faruq yang Membuat Musuh Gemetar

Kisah Umar bin Khattab
Ilustrasi - Umar bin Khattab. Foto: Dokumen Wikipedia

Dunia mengenal sosoknya sebagai singa padang pasir yang tak kenal gentar. Namun, di balik keberaniannya yang melegenda, tersimpan prinsip keadilan yang tak bisa ditawar oleh harta maupun jabatan. Inilah kisah Umar bin Khattab, sang pembeda antara kebenaran dan kebatilan.

Protes Sang Singa: “Mengapa Harus Sembunyi?”

Hanya beberapa hari setelah mengikrarkan dua kalimat syahadat, api keberanian dalam dada Umar bin Khattab langsung berkobar. Ia tidak tahan melihat kaum Muslimin harus berdakwah secara sembunyi-sembunyi di balik dinding rumah Arqam bin Abi al-Arqam.

Dengan langkah tegap, ia menghadap Rasulullah SAW. “Wahai Rasulullah, mengapa kita sembunyi-sembunyi dalam menyebarkan agama ini (Islam)? Padahal, kita berada dalam kebenaran, sedangkan orang-orang musyrik itu di atas kesesatan?” tanyanya lugas.

Rasulullah dengan bijak menjawab, “Wahai Umar, jumlah kita masih sedikit, sedangkan engkau telah melihat apa-apa yang kerap kita alami”.

Namun, Umar memberikan janji yang menggetarkan: “Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku akan menyiarkan keislamanku di setiap sudut di mana dahulu aku menyebarkan kekafiran!”

Syahadat di Tengah Kepungan: Menang Melawan Pengeroyokan

Umar membuktikan ucapannya. Di depan Ka’bah, pusat kekuatan kaum Quraisy, ia naik ke atas tumpukan batu. Dengan suara menggelegar, ia membelah keheningan Makkah: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah!”

Seketika, ia dikerumuni. Puluhan, bahkan ratusan orang musyrik mengeroyoknya. Umar tidak lari. Ia membalas setiap pukulan dengan segenap tenaga. Meski tubuhnya babak belur dan berdarah, Umar tetap berdiri tegak dengan tatapan mata yang tajam dan penuh percaya diri. Kelelahan justru menghinggapi mereka yang mengeroyoknya hingga akhirnya mereka mundur dengan rasa takut.

Momen inilah yang membuat Rasulullah menjulukinya Al-Faruq—Sang Pembeda.

Hijrah yang Menantang Maut

Saat perintah hijrah ke Madinah turun, mayoritas sahabat pergi secara sembunyi-sembunyi di kegelapan malam demi menghindari persekusi. Tapi tidak dengan Umar.

Ia justru menyandang pedang, menyampirkan busur panah di pundak, dan berjalan di siang bolong melewati tokoh-tokoh Quraisy. Dengan lantang ia berseru: “Aku akan meninggalkan kota ini menuju Yatsrib. Siapa pun yang ingin ibunya kehilangan anaknya atau anaknya menjadi yatim, temui aku di balik lembah itu!”

Hasilnya? Tak satu pun nyali orang Quraisy yang cukup besar untuk menghalanginya.

Keadilan Tanpa Pandang Bulu: Anak Gubernur Pun Kena “Ganjaran”

Ketegasannya semakin teruji saat ia menjabat sebagai Khalifah. Pernah suatu ketika, putra dari Amru bin Ash—seorang gubernur Mesir—memukul seorang rakyat biasa hanya karena kalah dalam pacuan kuda. Si pemuda Mesir itu berteriak sombong, “Rasakan ini dari anak seorang bangsawan!”

Mendengar laporan itu, Umar murka. Ia memanggil Amru bin Ash dan putranya dari Mesir ke Madinah. Di depan umum, Umar memberikan cambuk kepada rakyat jelata yang dipukul tadi dan memerintahkannya membalas putra gubernur tersebut.

Bahkan, Umar menegur keras sang gubernur dengan kalimat yang melegenda hingga hari ini: “Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal ibu mereka melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?”

Tak Gentar pada Bangsawan

Kisah serupa dialami Jabalah bin Aiham, seorang bangsawan Nasrani yang baru masuk Islam. Saat thawaf, pakaian Jabalah tidak sengaja terinjak oleh seorang Arab kampung (baduwi). Jabalah yang merasa terhina langsung memukul pria desa itu.

Umar tidak peduli pada status bangsawan Jabalah. Ia meminta si baduwi membalas pukulan Jabalah secara setimpal (qishas). Bagi Umar, di hadapan hukum Allah, seorang raja dan rakyat jelata berdiri di garis yang sama.

Penutup: Warisan Sang Pemimpin

Kekuatan Umar bin Khattab bukan hanya pada fisiknya yang kekar atau pedangnya yang tajam. Kekuatan aslinya terletak pada hatinya yang sangat keras terhadap ketidakadilan, namun sangat lembut terhadap rakyat yang tertindas. Ia adalah potret pemimpin yang tidak hanya ditakuti lawan, tapi juga dicintai karena kejujurannya yang mutlak.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy