Takengon – Plt Kepala Dinas Pangan Aceh Tengah Salman Nuri menyebutkan Pemkab telah menyalurkan 585,3 ton beras dari total kuota 1.222 ton beras bantuan bencana yang dialokasikan untuk kabupaten tersebut.
Di awal tanggap darurat, kata Salman, penyaluran bantuan sempat terkendala akibat terputusnya akses darat. Kondisi tersebut menyebabkan pasokan beras yang masuk ke Aceh Tengah sangat terbatas, hanya sekira 10 ton per hari, sehingga sulit memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat.
“Alhamdulillah, sekitar satu pekan terakhir akses darat sudah kembali bisa dilalui. Distribusi beras kini dapat dilakukan melalui jalur darat dan udara dari Lhokseumawe ke Aceh Tengah, dengan kapasitas pengiriman mencapai hingga 72 ton per hari,” ujarnya dilansir dari Laman Pemkab Aceh Tengah, Selasa, 6 Januari 2026.
Dinas Pangan menargetkan sisa kuota beras 637 ton disalurkan selama sepekan ke depan.
Penyalurannya, kata Salman, diprioritaskan untuk 26 kampung terisolasi, posko-posko pengungsian yang masih menampung sekira 7.000 pengungsi, serta kawasan terdampak banjir dan longsor.
Salman meminta dukungan penuh dari pemerintah kampung agar penyaluran bantuan berjalan tertib dan tepat sasaran.
“Kami memohon kerja sama pemerintahan kampung untuk membantu pendistribusian beras kepada masyarakat, disertai dokumentasi sebagai bentuk pertanggungjawaban agar bantuan benar-benar sampai kepada yang berhak,” ujarnya.
Pemkab Aceh Tengah, kata Salman, memastikan upaya penyaluran bantuan pangan akan terus dilakukan secara bertahap, sekaligus menyiapkan stok beras untuk menghadapi bulan suci Ramadan, sehingga kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi.
“Kami mohon masyarakat bersabar. Insya Allah stok beras mencukupi dan akan terus kami upayakan agar seluruh masyarakat Aceh Tengah dapat terlayani.”
Bupati Aceh Tengah Haili Yoga menegaskan pendistribusian bantuan harus dilakukan secara terukur dan berprioritas kepada wilayah serta masyarakat yang terdampak langsung.
Meskipun bantuan dibagikan ke seluruh desa, kata Haili, desa dan warga terdampak bencana menjadi prioritas utama.
“Penanganan harus betul-betul terukur. Bantuan diberikan dengan skema yang jelas, dimulai dari kampung terdampak dan warganya. Tingkat dampak di setiap desa tidak sama, sehingga prioritas harus benar-benar diperhatikan.”[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy