Momen Sirene Peringatan Dua Dekade Tsunami Aceh Dibunyikan

buoy alat deteksi gelombang tsunami
Buoy, alat deteksi datangnya gelombang tsunami. Foto: Pixabay.com

Banda Aceh – Tepat pukul 07.58 waktu Aceh, sirene tsunami berbunyi di Banda Aceh pada Kamis pagi, 26 Desember 2024. Di Simpang Lima Banda Aceh, pengendara dari segala jurusan berhenti sejenak saat sirene berbunyi.

Seperti terpantau di akun TikTok @sechanrizky, tak terlihat pengendara mendahului walaupun polisi hanya berdiri di setiap sudut simpang tanpa memblokade jalan. Setelah sirene dipadamkan, barulah para pengendara melanjutkan kembali perjalanannya.

Pembunyian sirene itu sebagai tanda resmi peringatan dua dekade tsunami. Sirene dibunyikan selama tiga menit dari Masjid Raya Baiturrahman (MRB) Banda Aceh.

Penjabat Gubernur Aceh Safrizal ZA menekan tombol sirene tsunami tepat pukul 07.58, waktu yang sama ketika gelombang laut dari Samudra Hindia menghantam Aceh pada 2004.

Sebelum menuju MRB, Safrizal dan Pejabat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah lainnya berziarah ke kuburan massal tsunami di Ulee Lheue, Banda Aceh.

Baca Juga: Kilas Balik Tsunami Aceh 2004: Ketika 1.200 kilometer Dasar Laut Runtuh dalam 8 Menit

Setelah sirene berhenti berbunyi, di halaman MRB digelar doa bersama yang dihadiri Duta Besar dari 53 negara yang pernah membantu Aceh pascatsunami.

Selain di Banda Aceh, kata Kepala Dinas Syariat Islam Zahrol Fajri, doa bersama juga dilakukan di 23 kabupaten kota.

Para korban yang selamat dan keluarga korban meninggal dan hilang juga mendatangi kuburan massal tsunami. Mereka mengenang momen mengerikan 20 tahun lalu yang merenggut harta, benda, dan kerabat.

“Saya pikir itu kiamat,” kata Hasnawati, seorang guru berusia 54 tahun, saat mengunjungi masjid yang rusak karena tsunami.

“Minggu pagi itu kami sekeluaga, semua tertawa bersama, tiba-tiba bencana melanda dan semuanya lenyap. Saya tidak dapat menggambarkannya dengan kata-kata,” ujarnya dikutip dari CNNIndonesia.com.

 

@sechanrizky

Peringatan 20 tahun tsunami aceh #tsunami #aceh #fyp

♬ suara asli – Sean – Sean

Peringatan Tsunami di Beberapa Negara

AFP melaporkan peringatan 20 tahun tsunami Samudera Hindia juga digelar melalui sejumlah upacara keagamaan di Sri Lanka, India, Thailand, dan beberapa negara yang ikut menjadi korban tsunami 2004.

Pada 26 Desember 2004, gempa bumi berkekuatan 9,1 skala Richter pecah di ujung barat Sumatra. Gempa itu menghasilkan serangkaian gelombang besar di Samudra Hindia dan menghantam pesisir pantai 14 negara, dari Indonesia hingga Somalia.

Gelombang itu bahkan mencapai ketinggian 30 meter, menyapu nyaris bersih pemukiman, penduduk, hingga wisatawan yang sedang merayakan momen libur natal dan akhir pekan sekaligus.

Gelombang dari dasar laut itu melaju dengan kecepatan dua kali lebih cepat dari kereta cepat, melintasi seluruh bagian Samudra Hindia hanya dalam beberapa jam.

Tsunami tersebut menerjang tanpa didahului peringatan tsunami. Namun meskipun sebagian negara memiliki teknologi tersebut dan berfungsi, jeda waktu untuk menyelamatkan diri sangatlah sempit.

Tercatat, sebanyak 226.408 orang meninggal dunia akibat tsunami tersebut di seluruh negara. Indonesia menjadi negara paling terdampak, yakni setidaknya 160 ribu orang meninggal dunia. Kala itu, Aceh tak memiliki sistem peringatan dini.

“Saya berharap kita tidak akan pernah mengalaminya lagi,” kata Nilawati yang kini berusia 60 tahun. “Rasanya seperti baru terjadi kemarin. Setiap kali saya mengingatnya, rasanya seperti semua darah mengalir keluar dari tubuh saya.”

“Anak-anak, istri, ayah, ibu, semua saudara saya hanyut,” kata Baharuddin Zainun, seorang nelayan 70 tahun yang selamat dari bencana. “Tragedi yang sama juga dirasakan oleh orang lain. Kami merasakan hal yang sama.”

Di Sri Lanka, korban jiwa akibat tsunami mencapai 35 ribu orang. Sementara itu, para korban selamat dan keluarga berkumpul mengenang 1.000 orang meninggal saat tsunami menghantam kereta yang tengah melaju kala itu.

Baca Juga: Dari Bunyi Sirene hingga Tausiah Aa Gym, Ini Rangkaian Acara Dua Dekade Tsunami Aceh

Upacara keagamaan singkat diadakan bersama keluarga korban di sana. Sementara upacara Buddha, Hindu, Kristen, dan Muslim juga diselenggarakan untuk mengenang para korban di seluruh negara pulau Asia Selatan itu.

Sementara itu di Thailand, acara peringatan tidak resmi diperkirakan akan menyertai upacara peringatan pemerintah. Tsunami 2004 menelan 5.000 korban jiwa di negara itu, dengan lebih dari separuhnya adalah wisatawan asing.

Sebuah hotel di provinsi Phang Nga mengadakan pameran tsunami, pemutaran film dokumenter, dan pengenalan kesiapsiagaan bencana dan langkah-langkah ketahanan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga kemanusiaan.

Hampir 300 orang tewas di tempat yang jauh seperti Somalia, serta lebih dari 100 orang di Maladewa dan puluhan di Malaysia dan Myanmar.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy