Lhokseumawe – Kawasan Lhokseumawe hari ini diguyur hujan pada Kamis sore, 15 Mei 2025. Padahal, beberapa saat sebelumnya, terik matahari siang begitu menyengat.
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Seharusnya, sejak Mei hingga Juni 2025 nanti merupakan awal musim kemarau.
Selain di Lhokseumawe dan Aceh pada umumnya, hujan juga turun di banyak wilayah lain di Indonesia.
Menurut BMKG, Indonesia sedang mengalami kemarau basah. Fenomena ini terjadi bukan tanpa sebab.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menjelaskan, kemarau basah merupakan kondisi ketika musim kemarau tetap diwarnai oleh hujan yang cukup signifikan.
Biasanya, musim kemarau identik dengan cuaca panas dan langit cerah.
Namun, pada kemarau basah, kelembapan udara tetap tinggi, sehingga hujan masih sering turun.
“Kemarau basah adalah fenomena tidak biasa yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk perubahan iklim dan pola cuaca yang tidak stabil,” ujar Guswanto dilansir Kompas.com, Rabu, 14 Mei 2025.
BMKG juga mencatat sejumlah dinamika atmosfer yang turut berkontribusi terhadap kemunculan kemarau basah tahun ini.
Beberapa di antaranya, sirkulasi siklonik di wilayah Indonesia, fenomena Madden-Julian Oscillation, serta gelombang atmosfer seperti gelombang Kelvin, Rossby Ekuator, dan Low Frequency.
Kondisi itu menyebabkan awan-awan hujan tetap terbentuk dan menurunkan hujan di beberapa wilayah meskipun secara umum sudah memasuki musim kemarau.
Namun, kata Guswanto, fenomena kemarau basah tidak terjadi merata di seluruh Indonesia. Wilayah paling terdampak adalah daerah dengan pola hujan monsunal, seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Wilayah dengan pola hujan monsunal biasanya memiliki dua musim yang sangat jelas: musim hujan dan musim kemarau, serta hanya satu puncak hujan dan satu puncak kemarau atau unimodal.
Namun tahun ini, BMKG menyebut pola tersebut terganggu oleh kehadiran hujan selama musim kemarau. BMKG memperkirakan kemarau basah akan berlangsung hingga Agustus 2025.
Setelah itu, Indonesia diprediksi memasuki masa pancaroba pada September hingga November, sebelum musim hujan kembali tiba pada Desember 2025 hingga Februari 2026.
Kemarau basah berpotensi menimbulkan dampak di berbagai sektor.
Di bidang pertanian, misalnya, pola tanam bisa terganggu karena petani biasanya mengandalkan prediksi musim untuk menanam dan panen.
Di sisi lain, kondisi lingkungan juga bisa terpengaruh, termasuk potensi banjir di wilayah yang tidak siap menerima curah hujan saat musim kemarau.
Melalui laman resminya, BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca yang tidak menentu.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy