Banda Aceh – Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Syiah Kuala (USK) telah melaksanakan program percepatan pemulihan fungsi 24 Puskesmas di Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Pidie Jaya, pada 15–28 Desember 2025.
Melansir Laman USK, Sabtu, 3 Januari 2025, program tersebut dirancang sebagai transisi dari fase tanggap darurat ke fase pemulihan sistematis layanan kesehatan rutin pascabencana.
Dipimpin Safrizal Rahman, program itu melibatkan tim dosen FK dan Fakultas Keperawatan USK, puluhan tenaga medis dari unsur dokter serta mahasiswa. Program ini juga mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Program yang bertajuk “Pengadaan Alat Kesehatan dalam Rangka Akselerasi Revitalisasi 24 Puskesmas di Lokasi Bencana” itu menargetkan pemulihan fungsi Puskesmas secara cepat dan berkelanjutan sebagai tulang punggung layanan kesehatan primer.
Fokus layanan mencakup penanganan kegawatdaruratan medis, pelayanan kesehatan ibu dan anak, imunisasi, pemantauan status gizi, serta pengelolaan penyakit kronis dan gangguan pernapasan akut.
Dalam pelaksanaannya, tim FK USK berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan jejaring klaster kesehatan untuk menyiapkan paket 12–16 item alat kesehatan nonkonsumtif bagi setiap Puskesmas.
Paket tersebut mencakup antara lain stetoskop, tensimeter, pulse oksimeter, timbangan bayi dan dewasa, tabung oksigen berkapasitas 40 dan 7 liter, ambu bag, nebulizer, glucometer beserta strip, doppler fetal, lemari pendingin vaksin (vaccine refrigerator), sterilizer medis, hingga set partus.
Total nilai aset alat kesehatan yang disalurkan mencapai ratusan juta rupiah, dengan rincian sebesar Rp336.505.000 di Aceh Tamiang, Rp129.425.000 di Aceh Tengah, Rp103.540.000 di Bener Meriah, dan Rp51.770.000 di Pidie Jaya. Seluruh bantuan diserahkan secara resmi melalui Berita Acara Serah Terima Aset (BAST) kepada Puskesmas dan Dinas Kesehatan setempat.
Kegiatan dilaksanakan melalui lima tahapan utama, yaitu sosialisasi dan koordinasi, pengadaan dan penyiapan logistik, distribusi dan serah terima aset, pelatihan serta pendampingan awal tenaga kesehatan, serta evaluasi dan dokumentasi.
Proses serah terima aset dilakukan dengan pengesahan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat USK, sehingga seluruh alat tercatat dalam sistem inventaris dan menjadi bagian dari rencana kontinjensi bencana daerah.
Dengan kepemilikan paket alat kesehatan esensial tersebut, 24 Puskesmas mitra kini kembali mampu menjalankan layanan dasar secara optimal, mulai dari triase dan pemantauan klinis, stabilisasi kasus gawat darurat, pemantauan kehamilan berisiko tinggi, pemeliharaan rantai dingin vaksin, hingga penguatan layanan penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes.
Selain penyaluran aset fisik, program itu juga disebut memperkuat keberdayaan struktural Puskesmas dan Dinas Kesehatan sebagai pemilik dan pengelola layanan kesehatan primer yang lebih siap menghadapi lonjakan kebutuhan layanan pascabencana.
Ke depan, FK USK menyebutkan telah menyiapkan komponen lanjutan berupa pelatihan terstruktur bagi tenaga kesehatan, integrasi penggunaan alat ke dalam standar operasional prosedur pelayanan harian, serta pemantauan indikator pemanfaatan alat dan mutu layanan.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy