Banda Aceh – Tim peneliti muda Universitas Syiah Kuala (USK) mengkaji nilai mitigasi bencana pada arsitektur Rumoh (rumah) Aceh.
Tim yang diketuai Nauma Laila, Mahasiswa Pendidikan Geografi USK ini, terdiri dari empat anggota lintas jurusan, yaitu Nabilla Maharani, Naifa Azzahra, Kania Egidia, dan Nazwa Musyada.
Nauma Laila mengatakan riset ini berangkat dari fenomena modernisasi yang mempengaruhi kehidupan sosial budaya masyarakat Aceh, terutama di Rumoh Aceh.
“Saat ini sulit menemukan Rumoh Aceh yang masih [berasitektur] tradisional karena sudah dimodifikasi mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan pemiliknya,” ujar Mahasiswa Pendidikan Geografi ini dalam keterangan tertulis kepada Line1.News, Minggu, 4 Agustus 2024.
Padahal, kata Nauma, Rumoh Aceh dengan arsitektur tradisional memiliki nilai mitigasi bencana. Sebab, tambah dia, Rumoh Aceh dibuat berdasarkan adaptasi masyarakat Aceh dengan lingkungan tempat tinggalnya, yang berada di daerah rawan bencana.
Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI) pada 2015 mencatat sejak 200 tahun lalu, 454 bencana telah terjadi di Aceh. Tiga di antaranya adalah wabah penyakit.
Melihat fenomena dan track record tersebut, kata Nauma, tim ingin melihat lebih jauh alasan di balik modifikasi Rumoh Aceh dan dampaknya terhadap nilai mitigasi bencana yang sebelumnya ada.
Mereka dibimbing oleh dosen Cut Dewi dengan judul riset ‘Pengaruh Modernisasi Rumoh Aceh Terhadap Kearifan Lokal Nilai Mitigasi Bencana Yang Melekat Pada Arsitektur Rumoh Aceh Tradisional’.
Sebelumnya, tim harus terlebih dahulu melewati proses seleksi hingga akhirnya memenangkan Program Kreativitas Mahasiswa kategori Riset Sosial Humaniora dari Kemendikbudristek. Sebagai pemenang, mereka berhak mendapatkan pendanaan riset dari kementerian tersebut, yang digunakan untuk menyelesaikan penelitian hingga menulis artikel ilmiah.
Rumoh Aceh Gampong Lubok Sukon
Tim memilih Gampong Lubok Sukon di Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, sebagai lokasi penelitian. Lubok Sukon dikenal sebagai desa wisata kebudayaan Aceh yang memiliki banyak bangunan tradisional Aceh. Tim menjadikan 10 Rumoh Aceh di gampong itu sebagai objek penelitian.
Untuk mendapatkan data yang valid, kata Nauma, penelitian kualitatif-deskriptif itu menggunakan metode triangulasi yang terdiri dari kajian literatur, observasi dan wawancara. Selain melakukan pengamatan terhadap Rumoh Aceh, pemilik rumah juga dijadikan sebagai narasumber untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas mengenai objek.
Tim juga memakai narasumber ahli dari latar keilmuan berbeda. Ada ahli arsitektur, ahli struktur bangunan, dan ahli kearifan lokal Rumoh Aceh.
Temuan tim menunjukkan Rumoh Aceh di sana banyak mengalami perubahan. Modifikasi paling kentara adalah penambahan ruang beton di bagian belakang atau bawah Rumoh Aceh. Hal ini, kata Nauma, disebabkan faktor kebutuhan ruang dan kemudahan akses.
“”Umumnya pemilik Rumoh Aceh sudah lansia (lanjut usia) atau keturunannya yang merupakan pewaris, sehingga penghuni Rumoh Aceh terdiri dari beberapa generasi,” ujarnya.
Selain itu, kemudahan beraktivitas juga menjadi alasan karena pemiliknya mengalami kesulitan untuk naik turun Rumoh Aceh melalui tangga.
Bentuk modifikasi lain berupa penggantian material. Material Rumoh Aceh yang berasal dari alam seperti kayu dan daun rumbia, terbilang cukup mahal, sehingga masyarakat memilih mengganti dengan yang lebih murah.
Dampak Modifikasi Rumoh Aceh
Dalam kajiannya, tim juga membahas mengenai dampak dari modifikasi Rumoh Aceh terhadap nilai kebencanaan. Dampak tersebut dibagi menjadi tiga kelompok: tidak memiliki pengaruh apapun, mengurangi nilai mitigasi, dan mampu menambah nilai mitigasi.
Pada kelompok pertama, kata Nauma, meskipun tidak berpengaruh tapi elemen modifikasi berupa tiang dan lantai dapat mempengaruhi kekokohan bangunan. “Selain itu, tidak berpengaruhnya modifikasi juga dikarenakan adanya penyesuaian dengan elemen modifikasi lain,” ujarnya.
Kemudian pada kelompok kedua, modifikasi yang mengurangi nilai mitigasi bencana terdapat pada elemen penambahan ruang. Meskipun tidak signifikan, kata Nauma, penambahan ruang akan membuat tiang dan tembok saling berbenturan ketika gempa terjadi.
Sementara perubahan pergantian kulah bak ie atau bak air menjadi keran air, menambah nilai mitigasi bencana. Sebab, air yang digunakan akan lebih higienis karena merupakan air yang mengalir.
“Sejauh ini, belum ada penelitian yang menggabungkan pengaruh modernisasi terhadap nilai mitigasi bencana yang terdapat dalam arsitektur Rumoh Aceh. Karena itu, penelitian dan kajian mengenai hal tersebut menjadi topik baru yang dapat dipelajari lebih lanjut.”
Lubok Sukun Destinasi Wisata Edukatif
Temuan tersebut tidak hanya ditulis dalam bentuk artikel saja, tetapi juga dikemas dalam bentuk yang lebih interaktif. Sampai saat ini tim telah membuat buku pop up dan booklet yang berisikan keunikan Aceh dan rumoh adatnya serta memuat hasil kajian mereka.
Selain itu, untuk membantu mempromosikan Lubok Sukon sebagai desa wisata edukatif, tim juga menyiapkan leaflet berisi objek-objek Rumoh Aceh di Lubok Sukon dan fakta menarik lainnya.
Kajian Tim Rumoh Aceh ini mendapatkan dukungan berbagai pihak. Salah satunya, Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A). Sebagai lembaga training dan edukasi, GEN-A juga menyatakan keinginan untuk menjadikan hasil kajian sebagai materi dalam kegiatannya.
Selain itu, diseminasi yang dilakukan ke sejumlah instansi, di antaranya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Museum Aceh, dan Majelis Adat Aceh juga menghasilkan apresiasi terhadap kajian tersebut.
Rencananya, kata Nauma, bulan ini bakal digelar seminar bertema ‘Muda Bicara Budaya dan Bencana Aceh’ yang menghadirkan tiga narasumber dengan topik berbeda. Acara kolaborasi antara Tim Rumoh Aceh, GEN-A dan TDMRC USK ini diadakan dalam rangka memperingati 20 Tahun Tsunami Aceh.
“Kami berharap semoga upaya menyebarkan informasi Rumoh Aceh dan temuan ini melalui media yang beragam, mampu menjangkau banyak kalangan khususnya generasi muda Aceh.”[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy