Menolak Lupa: Melalui Buku MemoryGraph, USK dan Kyoto University Ajak Warga Aceh ‘Bicara’ Lewat Foto

Gedung Rektorat USK Banda Aceh
Gedung Rektorat Universitas Syiah Kuala di Darussalam, Banda Aceh. Foto: Dokumen USK

Banda Aceh – Dua dekade telah berlalu sejak gelombang raksasa tsunami mengubah wajah Aceh selamanya. Kini, di tengah deru pembangunan dan lanskap kota yang semakin modern, ada satu ketakutan yang muncul: memudarnya ingatan kolektif, terutama di benak generasi muda.

Menjawab tantangan tersebut, Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) berkolaborasi dengan Center for Southeast Asian Studies Kyoto University meluncurkan sebuah karya monumental: “MemoryGraph: Menjaga Kenangan Aceh Lewat Foto“.

Melansir laman USK, Kamis, 26 Maret 2026, diluncurkan di Auditorium TDMRC USK, buku ini bukan sekadar album foto usang. Ia hadir sebagai panduan praktis yang mengajak masyarakat terlibat langsung merawat ingatan mereka.

Menghidupkan Kembali ‘Arsip yang Mati’

Metode MemoryGraph yang diusung dalam buku ini menawarkan cara unik. Masyarakat diajak untuk mempertemukan foto masa lalu dengan kondisi terkini dari titik koordinat yang sama. Dengan bantuan teknologi digital, lanskap Aceh tidak lagi hanya dilihat sebagai ruang fisik, melainkan sebagai “arsip hidup” yang merekam jejak kehilangan sekaligus proses pemulihan yang luar biasa.

Yoshimi Nishi, salah satu penggagas dari Kyoto University, mengingatkan bahwa bencana sering kali menghapus memori yang melekat pada sebuah tempat.

“Dokumentasi visual menjadi langkah sederhana namun krusial untuk menjaga ingatan tetap hidup,” ujarnya.

Bukan Sekadar Fisik, Tapi Ketahanan Jiwa

Senada dengan itu, Alfi Rahman dari USK menekankan bahwa pemulihan pascabencana tidak boleh berhenti pada pembangunan gedung dan jalan raya saja.

“MemoryGraph menjadi jembatan antara arsip, pengalaman masyarakat, dan pembelajaran lintas generasi. Ini adalah bagian dari upaya membangun ketahanan masyarakat,” jelasnya.

Dukungan penuh juga datang dari Rektor USK, Profesor Mirza Tabrani. Ia menilai pendekatan ini sangat vital sebagai sumber pembelajaran bagi anak cucu Aceh di masa depan agar selalu siap dan tangguh menghadapi potensi bencana.

Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Mego Pinandito, mengapresiasi cara MemoryGraph menghidupkan kembali arsip melalui keterlibatan visual yang partisipatif.

Melalui buku ini, setiap warga Aceh kini diharapkan bisa menjadi “penjaga sejarah” di lingkungannya masing-masing. Karena pada akhirnya, menjaga ingatan adalah cara terbaik untuk menghormati masa lalu dan melindungi masa depan.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy