Jakarta – Secercah harapan baru hadir untuk kebangkitan pariwisata Aceh Tengah yang sempat lumpuh akibat bencana alam. Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menemui Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana, di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat, Rabu, 13 Mei 2026. Pertemuan ini membawa misi penting: memulihkan kembali senyum pariwisata Gayo pascabencana hidrometeorologi.
Menpar Widiyanti menegaskan Aceh Tengah bukan sekadar destinasi, melainkan permata wisata yang memiliki tempat khusus di hati wisatawan dunia. Keindahan magis Danau Lut Tawar dan kehangatan citarasa kopi Gayo adalah kekuatan utama yang tidak boleh padam.
“Kawasan ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata alam, ekowisata, dan wisata berbasis budaya masyarakat,” ujar Widiyanti, dikutip dari rilis Pemkab Aceh Tengah, Jumat (15/5).
Di balik optimisme tersebut, terselip empati yang mendalam dari pemerintah pusat. Menpar memahami betul luka dan tantangan berat yang dihadapi masyarakat Gayo akibat banjir dan tanah longsor pada akhir 2025 lalu. Bencana tersebut tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga memukul nadi perekonomian warga yang bergantung pada sektor pariwisata.
“Atas nama Kementerian Pariwisata, kami menyampaikan rasa prihatin terdalam kepada masyarakat Aceh Tengah. Kami tidak akan tinggal diam. Proses pemulihan ini harus berjalan cepat melalui semangat gotong royong dan sinergi kuat antara pusat dan daerah,” ungkap Menpar.
Kementerian Pariwisata langsung membuka karpet merah untuk koordinasi percepatan rehabilitasi fisik di lapangan. Pemerintah pusat siap mengucurkan dukungan melalui program bantuan reguler maupun skema bantuan khusus. Penyaluran akan difokuskan pada titik kerusakan paling kritis demi mempercepat pemulihan ekonomi kreatif warga lokal.
Bangkitkan Jiwa Pariwisata Lewat SDM
Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menyampaikan apresiasi atas ruang dengar yang diberikan Menpar. Di hadapan Widiyanti, Haili menitipkan asa yang besar bagi masa depan masyarakatnya, khususnya dalam penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata.
Bagi Aceh Tengah, pariwisata adalah urat nadi kehidupan. Ada lebih dari 100 destinasi wisata yang selama ini menghidupi dapur keluarga ratusan warga. Namun, hantaman bencana beberapa bulan lalu membuat aktivitas ekonomi di sana sempat mati suri. Kini, saat infrastruktur mulai dibenahi, mental dan keterampilan warga lokal juga harus ikut dibangkitkan.
“Kami membutuhkan dukungan peningkatan SDM, khususnya bagi kelompok sadar wisata (pokdarwis), desa wisata, dan pengelola homestay agar mampu memberikan pelayanan terbaik dan mengembalikan kepercayaan wisatawan,” tutur Haili.
Ia menambahkan sebuah pesan emosional tentang ketangguhan daerahnya. Ia ingin wisatawan yang datang ke Aceh Tengah kelak bukan lagi melihat sisa-sisa bencana, melainkan menyaksikan ketangguhan warga Gayo yang bangkit menyeduh kopi terbaiknya dengan senyuman.
Saat ini, Aceh Tengah terus berbenah secara mandiri lewat inovasi program Kampung Inggris, penataan desa wisata, hingga penguatan Pokdarwis di sekitar Danau Lut Tawar. Tidak kalah penting, komoditas emas hitam—kopi Gayo—terus didorong agar naik kelas menjadi daya tarik wisata kopi Gayo berbasis edukasi kopi dan budaya lokal yang autentik.
Sinergi ini pun langsung bersambut. Menpar Widiyanti mendukung penuh penciptaan event baru serta paket wisata terintegrasi di Aceh Tengah. Mulai dari petualangan wisata alam, kedalaman wisata budaya, hingga ketenangan wisata religi siap dikemas apik untuk memikat pelancong domestik dan mancanegara.
Kementerian Pariwisata juga mendorong penyusunan pola perjalanan (travel pattern) yang lebih terstruktur. Langkah ini diharapkan membuat wisatawan bisa tinggal lebih lama dan membawa pulang pengalaman berkesan dari tanah Gayo, sekaligus menjadi motor penggerak bangkitnya ekonomi masyarakat setempat.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy