Meureudu – Tim mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) menginisiasi proyek bertajuk BANGKIT (Basis Alternatif Nir-emisi Guna Ketahanan Infrastruktur Terbarukan) untuk mentransformasi Desa Mesjid Tuha, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya menjadi contoh Smart Village berbasis energi terbarukan.
Melalui “Program Mahasiswa Berdampak”, mereka menghadirkan solusi konkret bagi ketahanan infrastruktur di daerah rawan bencana.
Kolaborasi strategi antara pengajar USK dan Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya ini dirancang secara holistik untuk menjamin ketersediaan energi dan udara bersih, sekaligus memulihkan roda ekonomi warga pascabencana hidrometeorologi.
Ketua Tim Mahasiswa Berdampak USK, Yuraddin, menjelaskan keberhasilan proyek ini bertumpu pada integrasi teknologi tepat guna, yang menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat desa.
“Salah satu terobosan utamanya adalah pengadaan sistem filtrasi Reverse Osmosis (RO) yang sepenuhnya ditenagai oleh panel surya untuk menjamin kemandirian air bersih,” kata Yuraddin, dilansir laman USK, Sabtu, 7 Maret 2026.
Dia menjelaskan kecanggihan sistem ini diperkuat dengan integrasi sensor Internet of Things (IoT) yang terhubung langsung ke situs web desa, sehingga pemuda gampong dapat menjaga cadangan dan kualitas udara secara real-time.
“Kami ingin membuktikan bahwa teknologi seperti panel surya dan IoT bukan sekadar teori kampus, tapi bisa menyelamatkan fasilitas vital desa saat krisis terjadi. Ini adalah langkah nyata dari Aceh untuk infrastruktur berkelanjutan,” tegas Yuraddin.
Kehadiran teknologi ini disambut baik oleh Keuchik Gampong Mesjid Tuha, Dedy Kuesnedy. “Pascabencana, kami sangat membutuhkan sentuhan inovasi seperti ini. Kehadiran adik-adik siswa membangkitkan kembali semangat warga untuk pulih,” ucapnya.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Kominfotiksan) Pidie Jaya, Saifuddin ZA, menyebut program ini sejalan dengan visi daerah dalam membangun desa cerdas.
“Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya sangat mengapresiasi terobosan ini. Kolaborasi pemanfaatan energi terbarukan dan digitalisasi ini adalah kunci membangun desa yang tangguh bencana. Kami berharap Desa Mesjid Tuha menjadi cetak biru atau contoh bagi gampong-gampong lainnya,” ujarnya saat meninjau penerapan teknologi itu di lapangan.
Sementara itu, tim mahasiswa USK juga fokus pada mitigasi krisis kelistrikan melalui inspeksi dan edukasi keamanan instalasi kabel di perumahan warga untuk menekan risiko korsleting pascabencana.
Program ini juga menyasar aspek pemberdayaan melalui transformasi UMKM digital dengan memberikan pelatihan upskilling pemasaran bagi kelompok ibu-ibu PKK agar produk lokal desa mampu bersaing di pasar digital.
Kegiatan ditutup dengan aksi pemulihan perumahan melalui gotong royong massal untuk memastikan seluruh kawasan permukiman kembali aman, bersih, dan layak huni bagi masyarakat.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy