Pesan Menohok Ketum MUI: Teknologi Tanpa Ilmu Agama Bagaikan Jasad Tanpa Ruh

Ketum MUI Kiai Anwar saat halal bi halal
Ketum MUI, K.H. Anwar Iskandar, memberikan sambutan dalam Silaturahim Nasional Ormas Islam dan Halal Bi Halal 1447 Hijriah yang digelar di The Sultan Hotel Jakarta, Rabu malam (15/4/2026). Foto: MUI Digital/Alwi

Jakarta – Apa jadinya jika sebuah bangsa menjadi super canggih secara teknologi, namun kehilangan pegangan moral dan ilmu agama? Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), K.H. Anwar Iskandar, punya jawaban singkat namun mendalam: Bagaikan jasad tanpa ruh.

Ulama kharismatik asal Kediri ini mengingatkan bahwa setinggi apa pun lompatan teknologi, “nyawa” dari kehidupan bangsa dan negara ini tetaplah nilai-nilai yang diajarkan Tuhan, para Rasul, dan para as-salafus shaleh.

“Bangsa ini butuh nilai agama. Teknologi dan knowledge itu penting. Tapi kemajuan tanpa nilai agama, sama saja dengan jasad tanpa ruh,” tegas Kiai Anwar dalam acara Halal Bi Halal di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Rabu, 15 April 2026, dilansir MUI Digital pada Jumat (17/4).

Berdamai Itu Kebutuhan

Kiai Anwar menjelaskan dalam ajaran agama Islam, umat tidak hanya diajarkan mengenai hubungan kepada Allah atau habluminallah, melainkan juga hubungan kepada sesama manusia atau habluminnas

Menurutnya, dalam konsep hubungan sesama manusia, hakikat setiap manusia ini adalah saudara karena berasal dari satu nutfah. Mengutip pesan Rasulullah SAW, ia mengingatkan bahwa tidak ada satu suku atau warna kulit pun yang lebih unggul, kecuali adalah orang yang bertakwa kepada Allah SWT.

“Oleh karena itu, berdamailah, hiduplah dalam damai, karena damai itu kebutuhan kita, bersatu itu adalah kebutuhan kita. Mari kira kembali ke fitrah kita, kembali ke asal kejadian kita, bahwa kita ini dijadikan oleh Tuhan tidak untuk berantem,” tegasnya di hadapan tokoh bangsa dan jajaran menteri kabinet.

Tolong-Menolong

Kiai Anwar menegaskan manusia diciptakan Tuhan untuk saling mengenal dan kemudiaan membuat satu kesepakatan. Kesepakatan itu untuk membangun kehidupan menuju kedamaian dan kesejahteraan bersama.

“Apapun latar belakang kita, suku kita, agama kita, perbedaan ormas, atau hanya perbedaan hari raya, mari kita berdamai. Karena hakikatnya damai itu nikmat,” ucap Kiai Anwar.

Kiai Anwar mengajak semua pihak untuk saling memaafkan, menasihati, tolong-menolong dan musyawarah, bukan caci maki. Ia menegaskan hal itu adalah nilai-nilai yang harus dipegang oleh para ulama dalam memberikan panduan dan kawalan moral agar bangsa ini tetap berada dalam rida Allah SWT.

Acara bertajuk “Bersatu dalam Ukhuwah untuk Keadilan dan Perdamaian Dunia” ini menjadi momen sakral karena dihadiri deretan tokoh penting, mulai dari Ketua MPR RI Ahmad Muzani, sejumlah Menteri seperti Nusron Wahid, Amran Sulaiman, Anis Matta, hingga pimpinan lembaga tinggi negara lainnya.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy