‘Setengah dari Muslim Inggris Berusia di Bawah 25 Tahun’

Umat Muslim di Inggris dan Wales
Umat Muslim mencakup 6,5 persen dari total populasi di Inggris dan Wales. Foto: Hannah McKay/Reuters

London – Peta politik masa depan Inggris tampaknya akan segera berubah. Kehadiran generasi muda pemilih Muslim yang bertumbuh dewasa lebih cepat dari yang diperkirakan oleh pemerintah di Westminster menjadi motor penggeraknya.

Melansir Al Jazeera, 15 Mei 2026, melalui laporan bertajuk ‘Half of British Muslims are under 25’: Report shows shifting demographics, sebuah data terbaru dari Dewan Muslim Inggris (Muslim Council of Britain/MCB) pekan ini mengungkapkan fakta menarik. Saat ini, komunitas Muslim mencakup 6,5 persen dari total populasi di Inggris dan Wales.

Menariknya, usia median mereka berada di angka 27 tahun—atau 13 tahun lebih muda daripada rata-rata nasional. Dengan hampir separuh populasi berada di bawah usia 25 tahun, komunitas Muslim kini menjadi salah satu kelompok usia termuda dan dengan pertumbuhan tercepat di negara tersebut.

Para peneliti menilai bahwa pergeseran demografi ini akan membawa dampak politik yang signifikan. Terlebih jika rencana penurunan batas usia pemilih menjadi 16 tahun disahkan, yang berpotensi menambah sekitar 150.000 pemilih Muslim baru ke dalam daftar pemilu.

“Ini adalah generasi baru yang lahir di Inggris dan berpendidikan tinggi. Para politisi yang masih menganggap umat Islam sebagai orang asing berarti memakai sudut pandang lama yang sudah kedaluwarsa sejak 20 tahun lalu,” ujar Miqdad Asaria, profesor kebijakan kesehatan di London School of Economics and Political Science (LSE).

“Menurunkan usia memilih menjadi 16 tahun akan memperkuat suara generasi yang sebenarnya sudah ikut mewarnai kehidupan publik di Inggris. Setengah dari Muslim Inggris berusia di bawah 25 tahun, dan mereka tidak perlu menunggu izin siapa pun untuk mulai bergerak dan berpartisipasi,” tambahnya.

Tahun lalu, pemerintahan dari Partai Buruh mengajukan usulan untuk menurunkan usia memilih menjadi 16 tahun. Agar bisa sah menjadi undang-undang, rancangan ini tengah diperdebatkan di Parlemen dan harus mengantongi persetujuan dari anggota Dewan Rakyat (House of Commons) serta Dewan Bangsawan (House of Lords).

Laporan berjudul British Muslims in Numbers ini menganalisis data sensus dari tahun 2001, 2011, hingga 2021. Hasilnya menegaskan bahwa sebagian besar persepsi publik Inggris mengenai kehidupan komunitas Muslim saat ini sudah tidak lagi relevan.

Asaria, yang juga merupakan bagian dari komite riset MCB, menambahkan bahwa ada kecenderungan dalam analisis politik untuk menganggap pemilih Muslim sebagai satu kelompok yang seragam. “Namun kenyataan di lapangan sama sekali tidak menunjukkan hal itu,” jelasnya.

Komunitas Muslim di Inggris nyatanya sangat beragam, baik dari segi etnis, politik, maupun budaya. Mulai dari komunitas Pakistan di Bradford, komunitas Somalia di Cardiff, keluarga asal Bangladesh di Tower Hamlets, warga mualaf kulit putih, hingga kalangan profesional Arab di London.

“Tidak ada yang namanya blok suara Muslim tunggal. Sejak dulu pun tidak pernah ada,” tegas Asaria. “Yang ada adalah hampir empat juta manusia dengan spektrum pandangan politik yang sangat luas, sama seperti kelompok masyarakat lainnya.”

Mohammed Sinan Siyech, seorang dosen politik di University of Wolverhampton, melihat bahwa generasi muda Muslim saat ini sangat aktif menyuarakan pandangan politiknya lewat media sosial. Ruang digital ini menjadi krusial bagi mereka, terutama di tengah meningkatnya isu Islamofobia seiring menguatnya gerakan sayap kanan.

“Para pemilih muda ini jauh lebih peka terhadap dinamika di sekitar mereka. Mereka mengamati langsung dan memanfaatkan media sosial alternatif serta pengaruh para influencer yang kerap membedah isu-isu politik secara kritis,” kata Siyech.

Sisi Lain: Perjuangan Melawan Ketimpangan Struktur

Di balik potensi besar tersebut, laporan ini juga memotret realitas pahit mengenai ketimpangan sosial dan perjuangan hidup yang harus mereka hadapi sehari-hari.

Saat ini, tercatat ada sekitar 110.000 rumah tangga Muslim (10,3 persen) yang merupakan orang tua tunggal dengan anak yang masih bergantung pada mereka. Angka ini berada di atas rata-rata nasional Inggris yang sebesar 6,9 persen.

Selain itu, tingkat kepemilikan rumah di kalangan Muslim juga masih jauh di bawah rata-rata nasional, yakni hanya 41.5 persen dibandingkan dengan angka nasional yang mencapai 63 persen.

“Ini bukan soal kegagalan budaya,” sanggah Asaria. “Ini adalah potret nyata dari kerugian struktural yang hampir tidak pernah berubah atau disentuh selama 20 tahun terakhir.”

Ia menilai bahwa komunitas Muslim di Inggris telah bekerja sangat keras di tengah berbagai hambatan besar. Hambatan tersebut mulai dari diskriminasi dalam dunia kerja, kondisi hunian yang tidak layak, hingga minimnya investasi jangka panjang di wilayah-wilayah yang padat penduduk Muslim.

“Data ini sekaligus mematahkan stereotip lama tentang potret keluarga Muslim tradisional yang selalu kaku dan seragam. Komunitas Muslim di Inggris ikut berubah seiring berjalannya zaman sama seperti masyarakat luas, namun mereka menjalaninya sambil memikul beban ekonomi yang jauh lebih berat,” ungkapnya.

Babak Baru Mobilitas Sosial

Meski didera tantangan berat, laporan ini juga merekam sinyal positif dari pergerakan kelas sosial yang kian membaik.Partisipasi aktif perempuan Muslim di sektor ekonomi melonjak hingga 37 persen selama dua dekade terakhir. Hampir sepertiga dari total populasi Muslim kini telah mengantongi gelar sarjana, mendekati rata-rata nasional. Bahkan, untuk kelompok usia 16–24 tahun, jumlah pemuda Muslim yang meraih pendidikan tinggi kini sudah melampaui rata-rata nasional.

Abdul-Azim Ahmed, Wakil Direktur Centre for the Study of Islam di Inggris, menyebut potret riil komunitas Muslim saat ini bertumbuh dan matang jauh lebih cepat daripada pemahaman masyarakat awam.

“Umat Islam di Inggris kini semakin berpendidikan, berjiwa wirausaha, aktif secara ekonomi, dan menjadi warga negara yang terlibat penuh dalam ruang publik,” tuturnya. “Profil usia muda ini juga memperlihatkan betapa krusialnya peran mereka sebagai pembayar pajak yang ikut menopang dan menggerakkan roda perekonomian Inggris secara luas.”

Bagi para peneliti di balik laporan ini, pertanyaan mendasar yang tersisa kini bukan lagi soal apakah komunitas Muslim bisa membaur dan menjadi bagian dari Inggris. Melainkan, apakah institusi-institusi di Inggris sudah benar-benar siap menyambut skala perubahan demografi dan sosial yang kini tengah bergulir nyata.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy