Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, Ph.D.
Ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, cerita tentang seorang sahabat bernama Handzalah al-Usayyidi. Suatu hari ia menangis sejurus bertemu dengan Abu Bakar. Ketika ditanya mengapa, ia menjawab, “Handzalah sudah menjadi munafik”. Ia mengatakan demikian, karena merasa setiap kali hengkang dari majelis nabi dan kembali ke anak istrinya, suasana batinnya berubah. Ketika bersama nabi, terlebih tatkala diingatkan tentang akhirat, terasa seakan-akan surga dan neraka tampak di depan matanya. Namun perasaan itu seketika lenyap saat bertemu dengan istri dan anak-anaknya. Cerita ini kemudian berakhir di hadapan nabi, dan beliau menasihati Handzalah juga Abu Bakar dengan sabdanya, “Sekali sekali wahai Handzalah”. Nabi mengulangnya hingga tiga kali.
Melalui hadis tersebut, Nabi ingin menjelaskan kepada umatnya, tidak mengapa, seseorang melepaskan keseriusannya sejenak bersama Allah lalu pergi mencandai anak istrinya. Sekali-sekali, tubuh dan jiwa manusia harus diberi semacam refreshment atau penyegaran, agar kuat dan bersemangat ibadah kembali. Ini tentunya bahagian dari keadilan Islam dan bentuk keseimbangan ajarannya. Itulah akar dari konsep hari raya dalam Islam. Setelah penat dengan ragam ibadah maka bersantai dan bergembira di hari raya menjadi semacam tegukan air putih untuk melepaskan dahaga. Nabi membolehkan anak-anak bermain perang-perangan di masjidnya pada hari raya, dan mengajak Aisyah ikut menyaksikan bersama, (HR: Muslim). Bahkan beliau sempat menegur Abu Bakar yang memprotes dua orang budak perempuan bernyanyi di rumahnya dengan bersabda, “Biarkan mereka wahai Abu Bakar, ini hari raya”, (HR: Bukhari). Kisah ini menurut Aisyah terjadi pada hari raya Idul Adha, tepatnya pada hari tasyriq.
Ketika Ramadhan tiba, umat Islam disyariatkan melaksanakan ragam ibadah. Mulai dari kewajiban berpuasa di siang harinya, anjuran bertarawih di malam harinya, dan tambahan ibadah-ibadah lainnya seperti baca Qur’an dan bersedekah. Termasuk i’tikaf di sepuluh hari terakhir yang tentunya sangat menyita waktu, tanaga dan pikiran. Ramadhan dapat dikatakan sebagai destinasi ibadah tahunan tahap awal yang pastinya perlu diimbangi dengan kegembiraan di hari dan bulan Syawwal. Namun tidak berhenti sampai di situ, umat Islam masih harus mencapai fase berikutnya, yaitu bulan Zulhijjah. Namun sayang, perlakukan umat ini terhadap Zulhijjah masih jauh dari yang seharusnya, jika dibandingkan sikap mereka ketika Ramadhan tiba.
Zulhijjah dan Kegembiraan Idul Adha
Dalam satu hadisnya, Rasulullah bersabda, “Tidak ada hari-hari yang apabila seseorang mengerjakan amal salih lebih dicintai oleh Allah dari hari-hari sepuluh awal bulan Zulhijjah”. Ketika ditanya, bagaimana dengan jihad wahai Rasulullah, beliau menjawab, “Termasuk jihad, kecuali ada yang keluar (berperang) di jalan Allah dengan diri dan hartanya, lalu ia tidak kembali sedikitpun dengan apa yang ia bawa tadinya”, (HR: Bukhari). Hanya syahid di medan jihad satu-satunya yang mampu mengungguli kelebihan dan keutamaan amal salih di sepuluh awal bulan Zulhijjah. Ini adalah waktu yang Allah bersumpah dengannya dalam al-Qur’an di surah Fajr ayat dua.
Amal salih yang disebut oleh nabi dalam hadis di atas mencakup semua kebaikan dan ibadah, seperti shalat, puasa, baca Qur’an, bersedekah, bersilaturahim, dan terkhusus bertakbir. Dalam sebuah hadis, nabi secara khusus menganjurkan umatnya memperbanyak tahlil, takbir dan tahmid di sepuluh awal bulan Zulhijjah, (HR: Ahmad). Namun realita di lapangan tidak ditemukan adanya suasana ibadah sebagaimana dianjurkan dalam hadis di atas. Mungkin takkan sama dengan Ramadhan, tetapi setidaknya ada perlakuan berbeda dan istimewa terhadap awal Zulhijjah dibandingkan dengan bulan-bulan lain. Ketika memasuki bulan Zulhijjah sementara pola ibadahnya biasa-biasa saja, dapat dipastikan Idul Adha pun akan disambut dan diperlakukan, “biasa saja”. Ia menjadi hari libur atau tanggal merah biasa. Tidak ada rasa “penat” yang mengharuskannya “berehat”, kecuali lelah pikiran dan badan dari rutinitas harian.
Padahal bukan hanya soal menghilangkan kepenatan beribadah, tetapi sebuah syi’ar yang sepantasnya disambut dan diperlakukan dengan penuh antusiasme, suka cita dan rasa gembira, sebagai bukti iman dan takwa kepada Allah Swt. Idul Adha harusnya lebih meriah dan penuh warna warni dibandingkan dengan Idul Fitri, karena ini memang hari raya besarnya umat Islam. Para sahabat dulunya, begitu masuk bulan Zulhijjah, sejak hari pertama mereka sudah mulai bertakbir dan menggaungkannya di mana-mana, ke mana mereka pergi, di jalan-jalan dan di pasar-pasar. Mereka sudah mulai menggemakan takbir setiap usai shalat lima waktu sejak subuh tanggal sembilan Zulhijjah hingga akhir hari tasyriq. Tapi miris, banyak tempat di Indonesia masyarakatnya hanya keluar shalat hari raya lalu kembali ke aktivitas masing-masing, tak ubahnya seperti shalat Jumat. Tidak ada suasana hari raya, bahkan tidak dirayakan. Jika ada, sekadarnya saja. Maka wajar pemerintah hanya menetapkan satu tanggal merah saja, karena hanya libur biasa, yang ditambah sehari setelahnya dengan libur bersama. Wallahua’lam.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy