Bukan Cuma Penahan Kantuk

Kopi Dingin Kini Jadi Simbol ‘Self-Reward’ dan Ruang Aman Gen Z

Kopi dingin Gen Z
Ilustrasi - Bukan sekadar tren, kopi dingin kini jadi medium 'self-reward' dan ruang aman Gen Z untuk melepas penat! Foto: Berita Harian Online

Petaling Jaya – Bagi generasi muda saat ini, secangkir kopi bukan lagi sekadar amunisi pahit untuk memulai pagi hari. Minuman ini telah bertransformasi menjadi bagian intim dari gaya hidup, sebuah medium untuk mengekspresikan diri, mencari ketenangan, hingga merajut kembali hubungan sosial yang merenggang di tengah kesibukan urban.

Melansir Berita Harian Online, 26 Mei 2026, tren kopi dingin (cold coffee) kini merajai preferensi pasar anak muda, menggeser budaya minum kopi konvensional. Jika dahulu kopi identik dengan rutinitas kerja yang kaku, Gen Z membawa minuman ini ke ranah yang lebih personal lewat budaya keliling kafe (cafe-hopping) dan ritual waktu untuk diri sendiri (me-time).

Anak muda zaman sekarang cenderung mencari fleksibilitas rasa yang bisa disesuaikan dengan suasana hati mereka, mulai dari es latte yang manis, Americano yang tegas, hingga eksperimen menu baru yang unik.

Menatap Kopi Sebagai ‘Kemewahan Kecil’

Sisi humanis dari tren ini dibaca secara jeli oleh industri. CEO Nestlé Malaysia, Singapura, dan Brunei, Juan Aranols, mengamati adanya lonjakan permintaan global terhadap kopi dingin yang mencerminkan pergeseran nilai di kalangan anak muda. Bagi mereka, kopi adalah bentuk affordable luxury atau kemewahan kecil yang mampu menghadirkan ketenangan di tengah kepungan stres harian.

“Bagi sebagian orang, secangkir kopi yang dinikmati sambil menonton film atau saat berkumpul bersama teman menjadi cara instan untuk menata ulang (reset) emosi mereka,” ujar Juan dalam peluncuran NESCAFÉ Espresso Concentrate baru-baru ini.

Ia menambahkan bahwa kopi kini bergerak begitu dekat dengan denyut nadi penggunanya. “Generasi muda melihat kopi sebagai bagian dari pengalaman hidup, bukan lagi sekadar kebutuhan biologis untuk mengusir kantuk,” tambahnya. Menariknya, tren ini juga memicu kebiasaan baru di mana anak muda mulai gemar meracik kopi ala kafe secara mandiri di rumah tanpa mengurangi esensi estetikanya.

Kopi Sebagai ‘Alasan’ untuk Terhubung

Menyelami sudut pandang konsumen, seorang pemuda berusia 24 tahun, Hoh Yik Huan, menceritakan bagaimana kedai kopi telah menjadi ruang aman (safe space) baginya dan teman-teman sebaya untuk melepaskan penat tanpa tekanan.

“Bagi saya, kafe adalah pilihan paling aman karena semua orang bisa menemukan apa yang mereka sukai di sana. Entah itu kopi, matcha, kue, atau sekadar menikmati atmosfer ruangannya,” kata Yik Huan.

Bagi generasinya, secangkir kopi dingin bahkan sering kali bertindak sebagai jembatan komunikasi dan perekat kebersamaan. Kopi menjadi topik obrolan awal yang mencairkan suasana.

“Kami akan saling berbagi cerita tentang rasa, aromanya, atau apakah kopi ini terlalu pahit. Sekarang orang-orang lebih mencari tempat yang santai untuk duduk dan mengobrol, dan kafe sangat memfasilitasi itu. Jadi, kopi seolah-olah menjadi ‘alasan’ atau titik temu bagi kita untuk berkumpul dan saling terhubung,” pungkasnya jujur, mengakui bahwa ritual minum kopi sangat membantunya meredakan stres akibat tekanan kerja.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy