Nestapa Korban Banjir Langkahan: Huntara Porak-Poranda Diterjang Angin Kencang, Jadup Belum Cair

Huntara Rumoh Rayeuk Langkahan diterjang angin kencang
AMUK ANGIN KENCANG: Keuchik Gampong Rumoh Rayeuk, A’kthaillah (kanan), Rabu, 3 Juni 2026, saat memantau kondisi hunian sementara (huntara) bantuan BNPB yang rusak parah akibat diterjang angin kencang di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Foto: Dok. Portalsatu

Aceh Utara – Hasil pendataan terbaru mencatat jumlah hunian sementara (huntara) di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, yang rusak akibat diterjang angin kencang melonjak dari 35 unit menjadi 58 unit, termasuk satu unit musala tempat warga beribadah.

Hujan deras disertai angin kencang yang menerjang pada Selasa, 2 Juni 2026, ternyata berdampak lebih masif dari perkiraan awal. Camat Langkahan, T. Reza Ichwan, mengungkapkan pihaknya bersama para keuchik (kepala desa) telah menyisir lokasi untuk memastikan kondisi warga.

“Kerusakan terparah berada di Huntara Gampong Rumoh Rayeuk bantuan BNPB. Dari 36 unit yang terdampak, 11 unit rusak berat, 20 unit rusak sedang, dan 5 unit rusak ringan,” ujar Reza kepada wartawan, Rabu, 3 Juni 2026.

Baca Juga: Duka Berlapis di Langkahan: Belum Sembuh Trauma Banjir, Angin Kencang Hancurkan 35 Huntara Warga

Luka yang sama juga merata di titik lain. Di Huntara Dusun Leubok Meuku Gampong Buket Linteung bantuan Kementerian PU, 7 unit huntara dan 1 musala rusak berat. Sementara di Gampong Geudumbak, 10 unit huntara program insitu juga rusak, serta 5 unit huntara di Gampong Langkahan mengalami rusak ringan.

Bertahan di Tengah Ketidakpastian

Malam-malam dingin kini harus dilalui warga di bawah atap rumah kerabat atau tetangga terdekat. Beberapa warga dilaporkan mengalami luka ringan saat dinding dan atap huntara mereka terlepas diterjang angin. Namun, luka fisik itu tak seberapa dibanding beban psikologis yang harus mereka tanggung.

“Untuk sementara warga mengungsi. Kami juga sedang menyiapkan tenda darurat sebagai penampungan sementara sambil menunggu langkah penanganan lebih lanjut,” tambah Reza. Pemkab Aceh Utara berjanji akan memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi selama masa darurat ini.

Menanti Jadup yang Belum Berwujud

Di Gampong Rumoh Rayeuk, suasana duka terasa begitu pekat. Wilayah ini menjadi potret paling pilu dari rantai bencana yang tak putus.

Keuchik Gampong Rumoh Rayeuk, A’kthaillah, menuturkan warganya kini berada di titik nadir perekonomian. Sebagian besar kebun sawit, pinang, dan pisang yang menjadi urat nadi penghidupan mereka telah mati total akibat banjir bandang akhir tahun lalu. Kini, rumah darurat mereka pun hilang.

“Rumah sudah hancur karena banjir, sekarang huntara juga rusak karena angin. Mata pencaharian masyarakat hampir tidak ada lagi,” kata A’kthaillah dengan nada getir, Rabu (3/6).

Kondisi yang nyaris lumpuh ini membuat warga sangat bergantung pada bantuan Jaminan Hidup (Jadup) yang dijanjikan pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial. Namun, hingga kini bantuan tersebut tak kunjung cair.

“Masyarakat setiap hari bertanya kepada saya, ‘Kapan Jadup cair?’. Saya bingung harus menjawab apa karena belum ada perkembangan dari atas,” ungkapnya.

Gejolak di Ujung Kesabaran

Ketidakpastian yang berlarut-larut mulai menyulut api kegelisahan. Menurut A’kthaillah, sebagian warga yang frustrasi akibat tekanan ekonomi mulai berencana melakukan aksi demonstrasi untuk menuntut hak mereka.

Warga kini mengetuk pintu hati pemerintah pusat agar tidak menutup mata. Mereka tidak hanya butuh perbaikan seng atau dinding huntara yang bolong, tapi juga kepastian masa depan: percepatan pembangunan Hunian Tetap (Huntap) dan pencairan dana Jadup untuk menyambung hidup esok hari.

“Kami memohon, jangan biarkan masyarakat terlalu lama hidup dalam ketidakpastian. Kami khawatir jika kondisi ini terus berlarut, akan muncul persoalan sosial yang tidak kita inginkan,” ucap A’kthaillah penuh harap.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy