Kekuatan Teknologi dan Empati Perempuan, Kisah Nadira Merintis Platform Digital ‘Care Economy’

Nadira pendiri Kiddocare
Nadira merupakan pendiri Kiddocare, platform digital pertama yang merintis ekonomi perawatan (care economy) di Malaysia melalui layanan pemesanan pengasuh anak secara daring. Foto: Kosmo Digital

Kuala Lumpur – Berangkat dari latar belakang pendidikan di bidang teknik elektro, Nadira Mohd. Yusoff sudah akrab dengan dunia teknologi sejak belia. Baginya, teknologi bukan sekadar susunan kode rumit, sirkuit, atau perangkat keras semata. Lebih dari itu, teknologi adalah sebuah kunci (enabler) yang sangat kuat untuk menyelesaikan berbagai benang kusut dalam kehidupan sehari-hari manusia.

Dunia bisnis teknologi memang kerap didominasi oleh kaum pria. Namun, bagi pendiri sekaligus CEO Kiddocare ini, tantangan tersebut justru menjadi bahan bakar utama yang membakar semangatnya untuk terus melangkah. Perempuan 49 tahun tersebut sukses meluncurkan Kiddocare, sebuah platform digital pertama di Malaysia yang merintis care economy (ekonomi perawatan) lewat layanan pemesanan pengasuh anak secara daring (online).

Dua dekade berkecimpung di dunia wirausaha dan teknologi, mantan Presiden Persatuan Jaringan Usahawan Wanita Bumiputera Malaysia (Wena) ini kini bisa tersenyum bangga. Perjuangannya tidak hanya berhasil melahirkan banyak pengusaha digital perempuan baru, tetapi juga sukses membawa suara dan isu-isu perempuan ke tingkat kebijakan ekonomi nasional hingga regional.

Selain aktif di Wena, Nadira juga pernah mengemban amanah sebagai Wakil Presiden Majlis Kebangsaan Pertubuhan-Pertubuhan Wanita Malaysia (NCWO) serta mendirikan komunitas Girls in Tech Malaysia. Dedikasinya dalam memberdayakan dunia digital pun diganjar berbagai penghargaan bergengsi, termasuk The BrandLaureate Entrepreneur Brand Leadership Award (2024) dan menjadi salah satu nominator final EY Entrepreneur Of The Year Malaysia (2024).

Sentuhan Empati dalam Ketepatan Teknologi

“Saya lahir di Kuala Lumpur dan selalu percaya bahwa perpaduan antara teknologi dan dampak sosial bisa mengubah lanskap hidup masyarakat,” tutur Nadira, dilansir Kosmo Digital, Ahad, 5 Juli 2026. Sebelum menyelami dunia wirausaha sosial, ia memulai kariernya sebagai seorang insinyur.

Bagi ibu tunggal dari enam anak yang baru saja kembali membina rumah tangga ini, panggilan jiwa di dunia bisnis terlalu kuat untuk diabaikan. Selama 23 tahun terakhir, lulusan Teknik Elektro dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM) ini telah membangun berbagai lini bisnis. Mulai dari manufaktur perangkat keras, perangkat lunak, dunia edukasi hiburan (edutainment), energi terbarukan, hingga inovasi sosial.

Kini, fokus utamanya tertuju pada Kiddocare. Menariknya, ide awal bisnis ini lahir dari sebuah sudut pandang yang sangat humanis. Menurutnya, pengusaha perempuan memiliki cara yang sangat unik dalam melihat sebuah masalah, yaitu dengan menggunakan kacamata empati.

“Ketika kita memadukan empati seorang perempuan dengan ketepatan teknologi, kita bisa menciptakan sebuah solusi yang tidak hanya efisien, tetapi juga menyentuh hati penggunanya. Di saat yang sama, saya ingin membuktikan bahwa gender bukanlah penghalang untuk memimpin dan membangun inovasi dalam skala besar,” ungkapnya dengan penuh keyakinan.

Membuka Jalan Bagi Masa Depan Perempuan

Sebagai seorang insinyur perempuan, Nadira menganggap bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) sebagai “rumah” keduanya. Namun, ia menyadari minimnya keterwakilan perempuan di sektor ini, terutama di kursi kepemimpinan tertinggi.

Padahal, lapangan kerja masa depan akan sangat bergantung pada kemampuan STEM dan teknologi. Jika anak-anak perempuan tidak didorong untuk masuk ke bidang ini sejak dini, jurang pendapatan berbasis gender akan semakin melebar di masa depan. Lewat gerakan Girls in Tech Malaysia, Nadira ingin mendobrak stigma bahwa dunia teknologi itu kaku, sulit, atau membosankan. Ia ingin memperlihatkan bahwa teknologi adalah wadah kreativitas yang bisa menciptakan dampak global.

Menembus Skeptisisme

Perjalanan Nadira tentu tidak dilewati tanpa badai. Di awal mendirikan Kiddocare, tantangan terberatnya adalah mengedukasi pasar. Konsep memesan pengasuh anak secara on-demand lewat aplikasi digital dinilai sangat asing, aneh, bahkan dianggap berisiko tinggi oleh masyarakat awam yang masih skeptis.

“Banyak yang skeptis saat itu. Kami mengatasinya dengan turun langsung ke lapangan, mengedukasi masyarakat secara konsisten, dan membuktikan bahwa protokol keselamatan yang kami tawarkan adalah yang terbaik di industri ini,” kenangnya.

Selain masalah modal awal yang tinggi untuk membangun teknologi platform—yang diakuinya sebagai perjuangan berat tersendiri bagi seorang pendiri perempuan saat berhadapan dengan investor—ia juga sempat dihadapkan pada krisis operasional akibat lonjakan permintaan yang tidak sebanding dengan jumlah pengasuh. Solusinya? Nadira mendirikan akademi pelatihan internal yang sistematis guna mencetak pengasuh anak yang terlatih, profesional, dan tepercaya.

Visi Besar untuk ASEAN

Menatap masa depan, Nadira memiliki mimpi besar. Ia ingin melihat care economy tumbuh menjadi salah satu motor penggerak utama Produk Domestik Bruto (PDB) di Malaysia serta kawasan Asia Tenggara.

Dalam kurun waktu lima hingga sepuluh tahun ke depan, ia menargetkan Kiddocare untuk mengepakkan sayapnya sebagai merek regional yang memimpin ekosistem pasar ASEAN. Jauh di dalam lubuk hatinya, Nadira berkomitmen agar profesi pengasuh anak tidak lagi dipandang sebelah mata. Ia ingin profesi ini diakui sepenuhnya sebagai pekerjaan profesional dengan jenjang karier yang jelas, yang pada akhirnya mampu mengangkat derajat dan taraf hidup ribuan perempuan dari golongan berpendapatan rendah.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy