Menyentuh Hati Era Digital: AI Harus Punya ‘Jiwa’, Masa Depan Santri Bukan Sekadar Penonton

Direktur ISDEV USM Prof Shahir
Direktur Centre for Islamic Development Management Studies (ISDEV) Universiti Sains Malaysia (USM), Prof. Shahir Akram Hassan. Foto: Latifahtul Jannah/MUI Digital

Jakarta – Di era sekarang, bayangkan bagaimana kecerdasan buatan (AI) dan algoritma perlahan mulai menyentuh ruang paling personal dalam hidup kita. Kita tidak hanya belajar, bekerja, dan mengobrol lewat layar, tetapi juga mencari tuntunan agama lewat genggaman tangan. Gelombang transformasi digital ini bergerak sangat cepat. Hal ini memicu sebuah pertanyaan besar yang menyentuh hati para pendidik: bagaimana sekolah dan lembaga pendidikan Islam bisa tetap relevan, tanpa kehilangan kehangatan jati diri dan nilai spiritualnya?

Keresahan sekaligus harapan inilah yang dibawa oleh Profesor Shahir Akram Hassan, Direktur Centre for Islamic Development Management Studies (ISDEV), Universiti Sains Malaysia (USM). Berbicara di hadapan para ulama dan akademisi, ia mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi, ia hanyalah alat yang mati jika tidak ditiupkan ruh etika di dalamnya. Nilai-nilai Islam harus menjadi kompas utamanya.

“Tantangan kita hari ini bukan mengganti atau meninggalkan tradisi Islam, tetapi menerjemahkan nilai-nilai Islam menjadi praktik pembangunan modern yang efektif dan relevan dengan perkembangan zaman,” ujar Prof Shahir, dilansir MUI Digital pada Senin, 13 Juli 2026.

Pernyataan tersebut disampaikannya dalam Seminar Internasional yang menjadi bagian dari rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Komisi Pendidikan dan Kaderisasi (KPK) Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta, Ahad (12/7/2026).

Menjembatani Dua Sisi Dunia yang Terbelah

Dalam presentasi mendalam bertajuk From Tradition to Transformation: Islamic Development Management in a Digital World, Shahir memotret realitas sosial kita hari ini. Digitalisasi telah mengubah wajah pendidikan, pemerintahan, hingga cara kita bertetangga. Di satu sisi ada peluang hebat, namun di sisi lain ada kecemasan nyata: hoaks yang bertebaran, privasi yang terancam, hingga renggangnya ikatan sosial.

“Tradisi Islam memiliki fondasi etika yang kuat dan tetap relevan sepanjang masa untuk membangun manusia dan masyarakat secara utuh. Karena itu, teknologi harus dipandu oleh nilai, bukan sebaliknya,” kata dia menegaskan.

Shahir menangkap sebuah fenomena yang menyentuh sisi kemanusiaan kita. Saat ini ada jurang pemisah yang cukup lebar di masyarakat. Kita sering melihat anak-anak muda yang begitu fasih memahami kitab klasik dan nilai agama, namun gagap saat berhadapan dengan teknologi modern. Sebaliknya, ada pula para pakar teknologi yang sangat genius menciptakan aplikasi, tetapi kering akan sentuhan moral dan etika keislaman.

Dua kutub yang terpisah ini harus segera berpelukan dan saling melengkapi agar umat tidak terasing di zaman baru.

Teknologi yang Memiliki Rasa Keadilan

Sebagai jalan keluar yang memanusiakan teknologi, Shahir menawarkan konsep Islamic Development Management (IDM). Lewat pendekatan ini, AI dan digitalisasi tidak lagi dipandang dingin hanya demi mengejar efisiensi atau keuntungan materi belaka. Teknologi diposisikan kembali sebagai alat yang penuh kasih sayang untuk menciptakan keadilan sosial, merawat bumi, dan membawa kebaikan bagi sesama manusia.

Lembaga pendidikan Islam pun tidak boleh lagi berdiam diri dengan cara-cara lama. Menjadi pengamat di pinggir jalan saat dunia berlari kencang tentu bukan pilihan yang bijak.

“Kita membutuhkan tata kelola yang beretika, berbasis bukti, dan mampu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab untuk kepentingan umat,” katanya.

Menanti Lahirnya Pemimpin Masa Depan

Pada akhirnya, ini semua adalah tentang nasib generasi anak-cucu kita. Shahir menaruh harapan besar pada lahirnya generasi baru yang tidak terkotak-kotak dalam satu disiplin ilmu saja. Masa depan membutuhkan manusia-manusia yang utuh. Mereka yang saat tangannya terampil mengoperasikan teknologi digital, hatinya tetap terpaut erat pada nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

“Kita memerlukan pemimpin masa depan yang memiliki landasan etika Islam yang kuat, menguasai teknologi digital, dan mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Melalui ruang diskusi internasional yang digelar MUI ini, para akademisi lintas negara sepakat: di dunia yang semakin digital, tugas pendidikan Islam adalah memastikan bahwa manusia tetaplah menjadi manusia yang memiliki hati dan etika.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy