Maulid Nabi 1448 H, Menag: Akhlak adalah Fondasi Utama Membangun Peradaban

Menag Nasaruddin Umar
FONDASI PERADABAN – Menteri Agama RI, Profesor Nasaruddin Umar, mengajak umat Islam merefleksikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M dengan memperkokoh akhlak sebagai pilar keadilan dan kemajuan sosial di tengah modernisasi zaman. Foto: Dok. Kemenag

Jakarta, Line1News – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H menjadi momentum penting untuk merenungkan kembali esensi kemanusiaan di tengah gerak modernisasi dunia. Menteri Agama (Menag), Profesor Nasaruddin Umar, mengajak seluruh umat Islam untuk menempatkan akhlak yang kokoh sebagai fondasi utama dalam membangun peradaban bangsa.

Menurut Menag, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang masif saat ini tidak akan membawa kedamaian sejati tanpa dibarengi dengan keagungan karakter individu. Pesan mendalam tersebut disampaikan Menag dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M, yang dikutip Line1News pada Selasa, 25 Agustus 2026.

Menag yang juga menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal ini menguraikan bahwa tonggak awal perjuangan dakwah Rasulullah SAW dimulai dari pembentukan moral manusia. Dari sanalah lahir tatanan sosial yang adil dan harmonis.

“Ketika akhlak tegak, keadilan akan tumbuh. Ilmu pengetahuan akan membawa manfaat, kekuasaan akan dijalankan dengan amanah, dan kasih sayang akan menjadi perekat kehidupan bermasyarakat,” ujar Menag penuh penekanan.

Rektor PTIQ Jakarta ini menggarisbawahi bahwa transformasi yang dibawa oleh Rasulullah SAW merupakan sebuah lompatan besar dalam mengangkat martabat kemanusiaan. Perubahan masif tersebut berakar kuat pada nilai-nilai tauhid, ilmu pengetahuan, keadilan hukum, dan kasih sayang yang universal.

Guna memperkuat urgensi pesan tersebut, Menag mengutip hadis Rasulullah SAW yang sangat populer: “Innamā bu’itstu li utammima makārimal akhlāq,” yang berarti, “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Menengok Sejarah, Menatap Masa Depan

Nasaruddin Umar mengajak umat Islam menengok kembali catatan sejarah 14 abad silam. Kala itu, dunia terkungkung dalam lembaran kelam zaman jahiliah, sebuah masa di mana hukum rimba berlaku: kelompok kuat dengan semena-mena menindas yang lemah, sementara kaum perempuan kehilangan hak dasar dan kehormatannya.

Kini, peradaban manusia telah melesat jauh ke depan. Namun, kemajuan materi dan sains mutakhir ini wajib dirawat dengan menjaga komitmen kemanusiaan yang diajarkan oleh Nabi SAW.

“Di balik kemajuan hari ini, terdapat perjuangan yang begitu agung dari seorang Rasul pilihan Allah SWT, yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dialah Baginda Nabi Muhammad SAW, yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk membebaskan manusia dari belenggu kejahilan,” tutur Menag reflektif.

Merawat Cinta Melintasi Ruang dan Waktu

Di akhir pesannya, Menag memercikkan renungan menyentuh tentang kerinduan kepada Rasulullah SAW. Meski terpisah rentang waktu ribuan tahun, rasa cinta tersebut harus tetap hidup dan diwujudkan secara nyata melalui perilaku sehari-hari.

“Keterpisahan oleh ruang dan waktu tidak pernah mengurangi cinta kita kepada Rasulullah SAW. Rasa cinta itu akan senantiasa bersemi untuk manusia yang senantiasa memikirkan, mendoakan, dan memohonkan ampun bagi umatnya. Bahkan di akhir hayatnya, Rasulullah SAW masih memikirkan umatnya, ‘ummatii…..ummatii…ummatii‘,” ungkapnya.

Seraya mengucapkan selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H kepada seluruh Muslim di Indonesia, Menag menggantungkan harapan besar agar teladan mulia Rasulullah dapat membumi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

“Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk senantiasa meneladani akhlaknya, dan menghidupkan ajarannya. Dan semoga kita semua menjadi bagian dari umat yang kelak memperoleh syafaat beliau di hari kemudian,” pungkas Menag.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy