Di Tengah Rentetan Bencana, Ustaz Adi Hidayat Serukan Taubat Nasional: Ini Panggilan Nurani Kita

Ustaz Adi Hidayat UAH
Ustaz Adi Hidayat (UAH). Foto: Dok. Kompas.com

Jakarta — Rentetan musibah dan fenomena alam yang melanda berbagai wilayah Indonesia belakangan ini bukan sekadar catatan tentang kerusakan fisik, melainkan sebuah panggilan bagi nurani kita. Menyikapi situasi penuh ujian ini, Ustaz Adi Hidayat (UAH) menyerukan gerakan taubat nasional sebagai jalan pulang untuk menenangkan jiwa yang sedang dilanda kecemasan.

Bagi UAH, langit yang mendung oleh debu vulkanik dan bumi yang bergejolak tidak boleh hanya dipandang sebagai siklus alam biasa. Berbagai peristiwa ini adalah momentum berharga bagi setiap kita untuk berhenti sejenak, membasuh diri dengan istigfar, serta merajut kembali hubungan yang sempat renggang dengan Sang Pencipta.

Berikut pesan dan seruan taubat nasional dari Ustaz Adi Hidayat yang disampaikan melalui kanal YouTube Adi Hidayat Official:

Saudara-saudariku sebangsa se-Tanah Air di mana pun kita semua berada. Semoga video ini menemui kita semua dalam keadaan sehat, dalam keadaan baik, dalam keadaan semangat menunaikan aktivitas kita dalam rangka mencari ridha Allah SWT.

Teman-teman keluargaku di mana pun berada, seperti diketahui oleh kita bersama, diakui khususnya oleh umat Islam dalam ibadah kita, sehari kita ucapkan 17 kali, untuk menegaskan pujian kita kepada Allah SWT sebagai perawat, penguasa, penjaga alam semesta ini.

Kita ucapkan alhamdulillahi rabbil alamin. Segala puji hanya milik Allah yang menguasai, merawat, menjaga, melindungi alam semesta ini, yang merawat, menjaga, dan melindungi tentu memiliki aturan-aturan, tentu memiliki ketentuan yang dengan ketentuan itu penjagaan ditetapkan, yang dengan aturan itu perawatan diberikan.

Di antara sekian aturan yang Allah tetapkan kepada kita agar menjadikan bumi, setidaknya bagian dari alam semesta ini, menjadi selalu terawat adalah senantiasa menjaga dengan baik, tidak mengganggu stabilitas. Kemudian juga tidak melakukan tindakan-tindakan yang mungkin berpengaruh merusak kepada lingkungan alam sekitaran kita.

Sering kali tampak banyak kerusakan di daratan, di lautan karena perilaku manusia itu sendiri yang menyimpang.

Teman-teman, ketika Allah SWT berkehendak mengingatkan hamba-hamba yang sudah melampaui batas, yang perbuatan ini berdampak kepada tidak stabilnya lingkungan, berdampak kepada kemarahan Tuhan yang merawat beragam bentuk keseimbangan di alam semesta ini.

Maka Allah SWT memberikan tanda-tanda di sekitaran kehidupan kita. Allah berfirman di Alquran Surah ke-17, misalnya di Ayat ke-59. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا مَنَعَنَآ اَنْ نُّرْسِلَ بِالْاٰيٰتِ اِلَّآ اَنْ كَذَّبَ بِهَا الْاَوَّلُوْنَۗ وَاٰتَيْنَا ثَمُوْدَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوْا بِهَاۗ وَمَا نُرْسِلُ بِالْاٰيٰتِ اِلَّا تَخْوِيْفًا

Wa mā mana‘anā an nursila bil-āyāti illā an każżaba bihal-awwalūn(a), wa ātainā ṡamūdan-nāqata mubṣiratan fa ẓalamū bihā, wa mā nursilu bil-āyāti illā takhwīfā(n). (QS Al-Isra Ayat 59)

“Dan tidak ada yang dapat mencegah Kami dengan keagungan Kami,” kata Allah. “Kami” di sini memberikan kesan keagungan, kehebatan, kedahsyatan menunjuk pada sesuatu yang besar sifatnya, sesuatu yang mengguncang. Jadi bila Allah sudah mengingatkan, maka peringatan itu sesuatu yang sangat penting, sesuatu yang mengguncang, sesuatu yang harusnya menyadarkan kita semua.

Tidak ada yang bisa mencegah Kami dengan keagungan-Ku untuk memberikan pelajaran berupa tanda-tanda yang menjadikan seorang hamba seharusnya mengerti untuk memperbaiki diri.

Kecuali dulu ada kaum-kaum, ada komunitas, ada masyarakat yang mengabaikan itu semua, yang menganggap itu semua bagian dari sesuatu yang biasa saja, sehingga mendustakan tanda-tanda dimaksud. Bahkan kaum Tsamud pernah diberikan tanda yang nyata berupa unta yang keluar dari batu yang terbelah seperti harapan mereka pula.

Namun mereka kemudian berbuat zalim dengan menyembelihnya.

Dan tidaklah dengan keagungan-Ku, kata Allah. Aku mengirimkan tanda-tanda yang membuat manusia seharusnya mengerti kecuali untuk menjadikan mereka merasa lebih takut berbuat tindakan yang menyimpang. Ada tanda-tanda yang menjadikan kita seharusnya takut akan hukuman ini. Tanda-tanda untuk menakuti kita supaya tidak berbuat sesuatu yang melampaui batas.

Kita mendapati beberapa hari ini di tempat kita beraktivitas, tempat kita tinggal tertiba, kemudian debu-debu vulkanik bertebaran. Asap-asap juga menyebar di berbagai tempat. Tanda-tanda alam yang sekiranya biasanya bersahabat dengan aktivitas kita kini mulai merubah.

Debu bertebaran. Berbagai macam bentuk jadwal penerbangan tertiba harus di-cancel, harus berhenti. Dampaknya luar biasa. Beragam orang mulai merasakan ketakutan. Tapi pertanyaannya, dari sekian yang merasa takut itu, berapa yang mau berevaluasi diri? Berapa yang mau bermuhasabah? Berapa yang mau berintrospeksi diri?

Dan tidaklah Allah akan menghukum umatmu ya Muhammad sepanjang engkau masih berada di antara mereka. Dan Allah juga tidak akan menghukum umatmu sekalipun kau tidak ada sepanjang mereka masih mau beristigfar kepada Allah SWT.

Kalimat yang pertama menggunakan bentuk kata kerja. Nabinya masih ada, ingin memberikan kesan bahwa rasanya sedikit atau mungkin bahkan tidak ada. Ketika Nabi masih hidup, umatnya yang mengaku umat Nabi, beriman kepada Allah, beriman kepada Nabi, sengaja berbuat kerusakan, sengaja berbuat maksiat sehingga dengan keberadaan Nabi maksiat itu dihindari dan tidak layak untuk dihukum.

Tapi kalimat yang kedua, berubah menjadi kata benda. Seakan memberikan isyarat bahwa memang sudah banyak perilaku manusia yang menyimpang. Mengaku umat Nabi tapi berbuat maksiat, sengaja mempertontonkan keburukan-keburukan dan dengan itu berdampak keburukan sosial yang lebih luas.

Namun demikian, tetap Allah menahan hukuman-hukuman yang besar, hukuman-hukuman yang mungkin berdampak cukup luas karena ada segelintir orang yang masih konsisten memohon ampunan kepada Allah, beristighfar, beristighfar, beristighfar wahum yastagfirun.

Oleh karena ini di kesempatan mudah-mudahan dinilai baik saat ini, saya ingin mengajak pada diri pribadi dan kita semua mari kita berintrospeksi diri menghadirkan suasana tobat nasional yang lebih luas. Tidak hanya melihat beragam bentuk kesulitan-kesulitan saat ini sebagai fenomena alam, sebagai bagian dari siklus yang mungkin dijalani dalam kehidupan. Kita punya jiwa spiritual. Kita punya karakter Berketuhanan Yang Maha Esa.

Bahkan ini menjadi filosofi dasar dalam berbangsa, bernegara. Bahkan di pasal 29 ayat 1, negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa, dan karakter Pancasila juga diawali dengan pondasi Berketuhanan Kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Saya kira saatnya kita menghidupkan kembali algoritma spiritual kita. Selain tentunya kita menjalani kehidupan dengan algoritma intelektual, algoritma fisikal, tapi tetap sisi spiritual tetap harus kita aktifkan kembali dengan penuh kesadaran. Mari kita semua bertobat kepada Allah.

Mungkin di beberapa tempat kemarau panjang, hujan tidak turun. Bukan karena hujannya saja tak turun. Namun mungkin di antaranya adalah bagaimana kita membangun satu hubungan yang baik dengan pemilik hujan, dengan pengatur cuaca, menarik simpati yang dengan itu mudah-mudahan hujan bisa turun. Anak Krakatau kalaupun dicontohkan bisa berhenti, gunung-gunung yang lainnya berhenti erupsi dan kebaikan, kedamaian bisa terjadi.

Salah satu caranya bagi kita umat Islam adalah dengan introspeksi diri, dengan bertobat, dengan banyak beristighfar. Demikian Nabi Nuh terekam dalam Al-Qur’an pernah mengabadikan umatnya untuk memperbanyak istighfar. Aku katakan pada umatku yang telah banyak melampaui batas, ayo banyak istigfar. Sungguh Allah itu maha penerima ampunan bagi hamba-hamba yang bahkan melampaui batas dalam perbuatan penyimpangannya.

Maka dengan itu Allah akan berkenan menurunkan hujan yang bisa memberikan solusi dari kesulitan-kesulitan yang kita alami. Dan juga bahkan melipatgandakan kesejahteraan di keluarga, hadirnya anak-anak juga harta benda yang mungkin diharapkan oleh kita semua. Semoga bermanfaat dan maafkan saya Adi Hidayat. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy