Ahmed, Mahasiswa Kedokteran USK Asal Palestina yang Terpikat Aceh

Ahmed Aburokba mahasiswa USK asal Palestina
Ahmed M.A. Aburokba, mahasiswa internasional di Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala asal Palestina. Foto: USK

Banda Aceh – Ahmed M.A. Aburokba, mahasiswa internasional di Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK) asal Palestina menemukan “rumah kedua” di Aceh, terutama saat Ramadan.

Sudah setahun Ahmed menetap di Bumi Serambi Mekkah. Baginya, Ramadan di Aceh bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan sebuah simfoni kebersamaan dan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.

“Saya merasakan kenyamanan yang luar biasa. Suasana di Aceh selama Ramadan berubah menjadi begitu spiritual, tenang, namun penuh energi kebersamaan. Masyarakatnya sangat aktif menghidupkan masjid dan memiliki tradisi berbagi makanan berbuka yang sangat menyentuh,” ungkap Ahmed, dilansir laman USK, Senin, 9 Maret 2026.

Di tengah kewajiban berpuasa, Ahmed tetap berjibaku dengan jadwal perkuliahan yang padat dan diskusi kelompok bersama rekannya di kampus. Dia mengakui manajemen waktu antara ibadah, belajar, dan aktivitas harian menjadi tantangan tersendiri.

Namun, tantangan terberat justru dirasakannya pada awal kedatangannya setahun silam. “Proses adaptasi dengan lingkungan, budaya, hingga bahasa adalah pengalaman yang menantang. Tapi, seiring berjalannya waktu, keramahan masyarakat Aceh membuat saya merasa sangat diterima,” ujar Ahmed.

Selama Ramadan, Ahmed aktif meleburkan diri dalam kearifan lokal. Mulai dari mengikuti buka puasa bersama (iftar), menunaikan salat tarawih berjemaah, hingga berburu takjil di bazar Ramadan yang meriah. Baginya, momen-momen ini menjadi medium untuk memahami lebih dalam denyut nadi kehidupan masyarakat Aceh.

Menariknya, lidah Ahmed pun mulai akrab dengan rempah-rempah lokal. Dari sekian banyak kuliner yang pernah ia cicipi, satu menu telah mencuri perhatiannya. “Mie Aceh goreng adalah favorit saya. Cita rasanya sangat khas, berani, dan lezat,” tutur Ahmaed.

Pengalaman Ramadan di Aceh menjadi catatan penting dalam perjalanan hidup Ahmed di Indonesia. Selain menimba ilmu medis di USK, keberadaannya menjadi jembatan pertukaran budaya yang memperkaya perspektifnya tentang harmoni kehidupan beragama.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy