Blangkejeren – Hari ketiga pascabanjir bandang di Gayo Lues, Jumat, 28 November 2025, Brigadir Kepala (Bripka) Teuku Murizal Saputra dihubungi beberapa orang, termasuk dokter dari Puskesmas Rerebe.
Mereka meminta tolong Saputra menyeberangkan pasien menyeberangi sungai karena jembatan Rerebe di Kecamatan Tripe Jaya, putus.
Jembatan itu satu-satunya jalur penghubung antardesa di wilayah tersebut, termasuk akses menuju pasar dan sekolah. Putusnya jembatan tersebut membuat Desa Rerebe terisolasi.
Sebelum banjir bandang, jembatan tersebut hampir amblas akibat terjangan erosi sungai. Erosi ini disebut bukan hal baru. Selama bertahun-tahun erosi di alur Sungai Tripe menyebabkan pengikisan tebing yang mengancam infrastruktur di sekitarnya.
Setiap musim hujan, derasnya arus sungai memperparah kerusakan hingga pondasi jembatan mulai amblas parah pada Juli 2025. Lalu pada Rabu, 26 November 2025, banjir bandang menyapu lenyap jembatan tersebut.
Ratusan warga Tripe Jaya pun terisolasi. Ada anak-anak, lansia, hingga warga yang sedang sakit.
“Pak, gimana, ada pasien di sana [seberang sungai] yang sesak napas harus dirujuk [ke RSUD Ali Kasim di Blangkejeren],” kata dokter Puskesmas itu kepada Saputra.
Mendengar permintaan itu, pria asal Matangkuli, Aceh Utara, itu meminta waktu sejenak untuk mencari solusi cara menyeberangi sungai berarus deras itu.
Sehari sebelumnya–atau dua hari pascabanjir bandang–Saputra menyelamatkan warga yang hanyut saat berusaha menyeberang sungai pada Kamis, 27 November 2025.
Saat itu ada dua orang sedang menyeberang sungai; satu memakai ban, satu lagi berenang tanpa pengaman apapun. Yang tidak memakai pengaman hanyut.
“Spontan saya loncat membantu warga yang hanyut itu. Kebetulan badan saya sudah pakai pelampung, karena hari kedua pascabanjir bandang di Desa Rerebe, saya orang pertama menyeberang [sungai] untuk mengevakuasi warga,” ungkapnya kepada Line1.News, Kamis malam, 11 Desember 2025.

[Bripka TM Saputra, personel Polres Gayo Lues. Foto: Istimewa]
Warga Rerebe kebanyakan berprofesi sebagai petani kebun. Saat banjir bandang datang, kata Saputra, sebagian besar para petani itu sedang berada di kebun mereka di seberang sungai.
“Jadi begitu kejadian, [mereka] balik ke desanya lihat jembatan sudah putus. Mereka berusaha menyeberang sungai dengan berenang, itu [berpotensi] membahayakan diri.”
…
Pasien sesak napas harus segera dibawa ke seberang untuk mendapatkan bantuan medis. Tetapi menyeberangkan dengan pelampung rasanya tidak mungkin.
Maka, hari Jumat itu, Saputra dibantu beberapa warga berusaha membuat jembatan darurat. Bahan bakunya mereka ambil dari sisa kabel listrik yang putus.
“Sling-nya kami ambil dari tiang-tiang listrik yang memang sling-nya putus, setelah kami konfirmasi dengan manajer PLTA Kecamatan Tripe Jaya untuk menggunakan sling tersebut,” ujarnya.
Awalnya, mereka menggunakan satu sling awal. Lalu Saputra menguji kekuatan sling sebelum digunakan.
Dia awalnya menggunakan teknik merayap tambang tapi sling tersebut tidak bisa digunakan karena licin.
“Untuk [teknik] merayap tambang memang harus digunakan tali tambang khusus,” ungkapnya.
Jadi, Saputra mencoba menyeberang dengan teknik flying fox. Tanpa sepatu, sarung tangan, helm, bahkan katrol.
“Karena tidak ada katrol, saya menggunakan tali dengan melonggarkannya,” ujarnya.
Sekira beberapa meter pertama, Saputra masih bergelantung di atas sling. Namun, saat posisi tubuhnya hampir tiba di tengah sungai, ikatan sling di seberang kemungkinan putus atau terlepas.
Bhabinkamtibmas Desa Paya Kumer, Tripe Jaya, itupun tercebur ke dalam arus sungai deras yang airnya bercampur lumpur. Beruntung, jaket pelampung menempel di badannya.

Dia sempat berpegang pada sisa tali yang terputus. Tapi arus sungai nan deras menyeret tubuhnya. Detik-detik genting itu, Bhayangkara muda tersebut tak menyerah. Saputra berenang hingga mencapai tepi sungai, disambut sigap personel lain dan warga yang bergegas memberi pertolongan.
“Saya tidak tahu kejadian yang sebenarnya di seberang sana. Yang pasti, saya jatuh ke air dan posisi badan saya itu masih terikat dengan tali jiwa,” ungkapnya.
“Tali jiwa” merupakan istilah umum di kepolisian, TNI, Basarnas, dan relawan SAR untuk menyebut lifeline; tali pengaman yang mengikat tubuh penyelamat agar tidak hanyut atau jatuh bebas saat bekerja di area berbahaya.
“Sebenarnya yang bahaya bukan pas saya jatuh ke air itu, tapi saat saya harus melepas tali jiwa itu agar saya bisa bebas dari lilitan tali,” ujar Saputra.
Setelah insiden itu, Saputra tak patah semangat. Bersama warga, ia kembali memasang sling melintang sungai selebar 200-an meter tersebut.
“Alhasil, tali yang putus itu diperbaiki dan kami dabel-dabel (double) sehingga jadilah jembatan darurat,” ucapnya.

Setelah jembatan darurat itu berhasil dirangkai, Saputra menyeberangkan pasien tadi dan beberapa warga lainnya.
Melalui jembatan darurat itu, dia juga menyeberangkan para santriwati asal Rerebe yang baru kembali dari sejumlah dayah di Aceh.
“Ada yang saya dampingi menggunakan pelampung. Yang benar-benar takut, yang tidak berani sama sekali, saya gendong,” ujar Saputra.
Pascabanjir bandang, personel Polres Gayo Lues ini memang fokus menolong masyarakat, mengevakuasi mereka semampunya.
“Masyarakat di Tripe Jaya ini kompak bergotong royong, sampai hari ini,” ungkapnya.
Saputra bersyukur jembatan darurat dari kawat baja telah dibangun dan bisa digunakan oleh masyarakat.
“Tidak perlu lagi bergelantungan, sudah bisa berjalan. Cuma kami masih mengawasi jembatan tersebut agar masyarakat bisa bersabar, tidak berbondong-bondong, tidak berdesak-desakan. Jadi, kami batasi jembatan itu sekarang, hanya bisa digunakan oleh enam orang [sekali jalan].”
…
Aksi Saputra yang tanpa ragu mempertaruhkan nyawanya demi korban bencana membuat Kapolres Gayo Lues AKBP Hyrowo bangga dan terharu.
“Kami berharap semoga Bripka TM Saputra selalu diberikan kesehatan dan keselamatan agar dapat terus mengabdi untuk masyarakat,” ujar Hyrowo dalam keterangannya.
Dia menyebut, jembatan yang dirintis Saputra bersama personel Polres Gayo Lues dan warga kini menjadi penyelamat banyak nyawa, menghubungkan kembali warga yang terperangkap bencana dengan akses kesehatan, makanan, dan bantuan lainnya.
“Aksi Bripka TM Saputra bukan hanya tugas, melainkan wujud nyata pengabdian yang tulus. Di tengah bencana, ia menjadi simbol keberanian. Di tengah keterpurukan warga, ia menjadi harapan. Dan di tengah derasnya arus sungai, ia membuktikan bahwa nyawa manusia lebih berharga dari rasa takut apapun.”[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy