Mengenang Profesor Warul Walidin, Mantan Rektor UIN dan Guru Bangsa Aceh

Rektor UINAR Mujiburrahman dan Warul Walidin
Mantan Rektor UIN Ar-Raniry periode 2018-2022 Warul Walidin (baju batik) bersama Rektor saat ini Mujiburrahman. Foto: Humas UIN Ar-Raniry

Banda Aceh, Line1News – Mantan Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh periode 2018-2022, Profesor Warul Walidin meninggal dunia, pada Rabu, 12 Agustus 2026. Warul wafat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Zainal Abidin pada pukul 08.30 waktu Aceh.

Rektor UIN Ar-Raniry, Profesor Mujiburrahman, mengatakan kepergian Warul meninggalkan duka bagi keluarga besar kampus. Menurutnya, Warul adalah guru bangsa dan rektor senior yang meninggalkan jejak pemikiran bagi kampus dan masyarakat Aceh.

“Beliau guru bangsa, rektor senior. UIN sangat merasa kehilangan,” kata Mujiburrahman.

Bagi Mujiburrahman, kehilangan itu terasa lebih dalam karena pemikiran Warul masih dibutuhkan UIN Ar-Raniry. Terlebih, kampus tersebut kini memasuki periode kepemimpinan 2026-2030 dengan agenda dan visi pengembangan yang lebih besar.

Dedikasi Panjang di Kampus

Warul memiliki hubungan panjang dengan UIN Ar-Raniry. Pengabdiannya sebagai akademisi dimulai pada 1983. Ia mula-mula menjadi dosen di Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry sebelum kemudian berpindah dan mengabdi di Fakultas Tarbiyah.

Dari Fakultas Tarbiyah, perjalanan akademik dan kepemimpinan Warul terus berkembang. Ia dipercaya menjadi Ketua Jurusan Kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah pada 1997-2000.

Setelah menyelesaikan pendidikan doktor pada 1997, Warul juga mengajar di Program Pascasarjana IAIN Ar-Raniry. Pada 2000-2001, ia dipercaya memimpin Fakultas Tarbiyah sebagai dekan.

Pengalaman panjang sebagai dosen dan pengelola perguruan tinggi kemudian mengantarkan Warul ke posisi tertinggi di kampus. Pada 2 Juli 2018, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin melantik Warul sebagai Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh periode 2018-2022. Ia menggantikan Profesor Farid Wajdi Ibrahim.

Warisan Pemikiran untuk Aceh

Sebagai guru besar UIN Ar-Raniry, kiprah Warul tidak berhenti di lingkungan perguruan tinggi. Ia juga aktif dalam berbagai ruang pengabdian publik di Aceh.

Warul pernah terlibat dalam Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Aceh dan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh. Kehadiran di dua lembaga tersebut menunjukkan perannya sebagai akademisi yang turut memberi perhatian pada persoalan pendidikan, keislaman, dan kehidupan masyarakat Aceh.

Bagi Mujiburrahman, pengalaman tersebut membuat Warul memiliki posisi penting sebagai intelektual yang pemikirannya melampaui lingkungan kampus.

Ia menilai pemikiran Warul masih dibutuhkan bukan hanya oleh UIN Ar-Raniry, tetapi juga oleh masyarakat Aceh. “Pemikiran beliau masih sangat kita butuhkan. Bukan hanya untuk UIN Ar-Raniry, tetapi juga untuk Aceh,” ujar Mujiburrahman.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy