Dari Aceh Menembus Dunia: Kala ‘Hikayatussistance’ Merawat Ingatan di 100 Sekolah Ukraina hingga Jerman

Film Hikayatussistance
SOROT GLOBAL: Suasana sinematik ruang merah dalam film dokumenter hibrida asal Aceh, Hikayatussistance. Karya sutradara Muhammad Hendri dan produser Muhammad Maulana ini terpilih untuk diputar di Un•colonial International Film Festival 2026 di Münster, Jerman pada 23–27 Agustus mendatang, setelah sebelumnya melintasi jaringan festival dan ruang edukasi di Indonesia, Ukraina, dan Rumania. Foto: Dok. Aceh Menonton Films

Banda Aceh, Line1News — Sebuah ruang merah, lantunan bahasa ibu, dan memori kolektif Tanah Rencong kini tengah mengetuk pintu-pintu kesadaran global. Hikayatussistance (2025), sebuah dokumenter hibrida berdurasi 18 menit 52 detik karya sineas muda asal Aceh, Muhammad Hendri, bersiap melangkah ke panggung Un•colonial International Film Festival 2026 di Münster, Jerman, pada 23–27 Agustus mendatang.

Bukan perjalanan yang instan. Film ini berhasil terpilih dari 2.000 lebih karya dari 120 negara di dunia. Sejak April 2026, sinema independen ini telah merajut dialog kemanusiaan di berbagai ruang: dari riuhnya festival, sunyinya ruang museum, ruang komunal desa, hingga menyusup ke ruang kelas anak-anak di wilayah konflik Ukraina.

Suara Tutur yang Melampaui Batas Negara

Disutradarai oleh Hendri dan diproduseri oleh Muhammad Maulana, Hikayatussistance membawa penonton menyelami ‘Dongeng Sebelum Gulita’ yang dilantunkan dengan emosional oleh seniman tutur Aceh, Fuadi Klayu. Melalui perpaduan seni performatif, arsip, dan visual yang artistik, tradisi lisan hikayat diangkat bukan sekadar sebagai warisan masa lalu, melainkan sebagai ingatan hidup yang menyuarakan ekspresi sosial-politik.

Bagi Hendri, perjalanan film ini memberikan banyak pelajaran berharga tentang bagaimana sebuah karya seni melahirkan maknanya sendiri di mata dunia.

“Perjalanan setelah AAS Film Expo membuat saya semakin memahami bahwa bentuk sinema tidak hanya menentukan bagaimana sebuah film dibuat, tetapi juga bagaimana ia dibaca oleh audiens yang berbeda,” ungkap alumnus Pascasarjana ISI Yogyakarta ini, dalam siaran pers diterima Line1News, Jumat, 7 Agustus 2026. “Setiap festival menghadirkan kerangka interpretasi sendiri. Film yang sama dapat memperoleh makna baru tanpa kehilangan struktur estetikanya.”

Selepas berdiskusi di forum akademik di Kanada, Hikayatussistance terus mengalir menyapa berbagai ruang budaya dan sosial sejak April hingga Agustus 2026:

* Yogyakarta (April): Menjadi bagian dari CineDocx di JFA Cinema Hub, bersanding dengan karya-karya eksperimental dari Spanyol, Myanmar, hingga Prancis.

* Tangerang (Mei): Menggugah kesadaran mahasiswa di UCIFEST 17 Universitas Multimedia Nusantara lewat tema ‘Power’ tentang hak bersuara.

* Banda Aceh (Mei): Pulang ke rumah, memantik diskusi dan workshop kreatif bersama siswa serta guru di SMKN 1 Banda Aceh.

* Ukraina (14 Mei–12 September): Menembus wilayah konflik. Terpilih dalam ICJ International Film Award 2026, film ini masuk program pemutaran di 100 sekolah. Salah satu dokumentasi paling menyentuh terjadi di sebuah lyceum di Kramatorsk, sebuah sekolah yang terpaksa direlokasi dari wilayah konflik aktif akibat perang.

[MERAWAT INGATAN DI UKRAINA: Suasana pemutaran film dokumenter hibrida Hikayatussistance di salah satu ruang kelas di Ukraina. Sejak Mei hingga September 2026, karya sineas Aceh Muhammad Hendri ini bergerak menjadi medium pendidikan di 100 sekolah Ukraina, mempertemukan narasi lokal tanah Rencong dengan pengalaman hidup anak-anak di wilayah konflik. Foto: Dok. Aceh Menonton Films]

* Rumania (Mei): Meramaikan Internațional Open Frame Galați 2026 di Universitas Dunărea de Jos sebagai bagian dari perayaan global Night of Museums.

* Sumatra Barat (30 Mei): Menyatu dengan kehangatan warga di ruang komunal Bakaba Sinema, Nagari Koto Gadang, menghidupkan kembali tradisi berbagi cerita kampung.

* Yogyakarta (24 Juli): Menggetarkan lanskap bunyi dalam International Djogja Earthsound Fest 2026 di ISI Yogyakarta lewat tema ‘Sacred Sound, Shared Earth’.

* Münster, Jerman (23–27 Agustus): Bersiap menuju Un•colonial International Film Festival, sebuah ruang yang memosisikan sinema sebagai gerakan antikolonial yang menggugat kuasa dan memori masa lalu.

Bukan Sekadar Prestasi, Tapi Rangkaian Perjumpaan

Bagi sang sutradara, napas sebuah film tidak berhenti saat proses editing selesai di dalam studio.

“Film terus diproduksi kembali melalui ruang tempat ia dipertontonkan. Hikayatussistance lahir dari penelitian penciptaan seni di Pascasarjana ISI Yogyakarta. Perjalanan ini mendorong saya untuk terus mengembangkan praktik artistik yang berangkat dari penyelidikan kemungkinan baru dalam dokumenter kontemporer,” tambah Hendri.

Menariknya, meski melanglang buana ke panggung internasional, film produksi Aceh Menonton Films ini sama sekali tidak menanggalkan identitas lokalnya. Penggunaan bahasa Aceh dan tradisi tutur justru menjadi daya pikat universal yang memantik diskusi global tentang tanah, diaspora, dan kekuasaan.

Muhammad Maulana, sang produser yang juga seorang peneliti agama dan budaya, memandang perjalanan internasional ini dengan kerendahan hati yang mendalam.

“Saya belajar melihat perjalanan ini bukan sebagai daftar pencapaian, melainkan rangkaian perjumpaan,” tutur Maulana hangat. “Tradisi tutur Aceh bertemu dengan pembicaraan global tentang ingatan, pendidikan, hingga warisan kolonial. Kami tidak membawa jawaban tunggal. Kami hanya merawat konteks lokalnya dengan teliti, lalu membuka ruang agar audiens dari berbagai belahan dunia dapat membaca film ini dari pengalaman hidup mereka sendiri.”

Langkah Hikayatussistance di Münster, Jerman pada akhir Agustus ini menjadi bukti nyata bahwa cerita yang dirawat dari lokalitas yang jujur, selalu punya cara untuk mengetuk hati dunia.

Tentang Sutradara, Produser, dan Film:

* Muhammad Hendri: Sutradara muda Aceh dan alumnus Pascasarjana ISI Yogyakarta yang berfokus pada eksperimen bentuk dan ideologi sinema dokumenter kontemporer.

* Muhammad Maulana: Produser sekaligus peneliti agama dan budaya asal Aceh yang berkomitmen menjaga keaslian konteks tradisi tutur dalam dialog lintas budaya.

* Hikayatussistance (2025): Dokumenter hibrida berdurasi 18 menit 52 detik yang menggunakan bahasa Aceh dan Indonesia produksi Aceh Menonton Films. Sebelumnya, film ini telah memenangkan Best Mathilda Award – Best Short Documentary di Balikpapan Film Festival 2025, mendapat Honorable Mention di Films That Move (Jamaika), serta masuk nominasi di Sumedang Short Film Festival. Film ini juga telah diputar di Inggris Raya, India, dan Italia.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy