Gempa 7,7 Skala Richter Goyang Myanmar, Gedung di Thailand Ambruk

Gedung runtuh di Myanmar akibat gempa
Gedung runtuh di Myanmar akibat gempa. Foto: myanmar-now.org

Naypyitaw – Gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,7 skala Richter melanda Myamar pada Jumat siang, 28 Maret 2025. Pusat gempa berada 16 kilometer di barat laut Kota Sagaing, kawasan Myanmar tengah.

Badan Survei Geologi Amerika Serikat atau USGS menyebutkan dampak gempa terasa hingga Thailand dan Cina.

Mengutip BBC, laporan kerusakan datang dari Mandalay, kota terbesar kedua Myanmar yang bersebelahan dengan Sagaing, juga di ibu kota Naypyitaw, yang berjarak lebih dari 241 kilometer.

Data sementara, sekitar 144 orang tewas dan 732 orang terluka akibat gempa tersebut. Angka-angka ini berasal dari pemimpin junta militer Myanmar Min Aung Hlaing, yang memperkirakan jumlahnya bakal bertambah.

Biara yang rusak di Mandalay
Biara yang rusak di Mandalay. Foto: myanmar-now.org

Melansir media lokal Myanmar Now, para saksi mata mengatakan beberapa bagian Istana Mandalay yang bersejarah rusak parah. Pada saat yang sama, sebuah jembatan di Sagaing hancur total akibat gempa.

Sementara itu, para korban terus bertambah di rumah sakit di Mandalay, Sagaing, dan Naypyitaw. Di Rumah Sakit Umum Naypyitaw yang memiliki 1.000 tempat tidur—rumah sakit umum terbesar di ibu kota—banyak korban luka dirawat di luar di jalan karena kepadatan pasien.

Beberapa gedung tinggi di Mandalay telah runtuh, menurut penduduk setempat. Ada kekhawatiran para korban kemungkinan terjebak di dalam bangunan yang runtuh tersebut.

Junta militer juga merilis beberapa foto yang memperlihatkan  jalanan yang retak dan bangunan yang runtuh di Naypyitaw.

Jalan utama di Naypyitawa retak
Jalan utama di Naypyitaw retak. Foto: BBC.com

Myanmar terletak di sepanjang Sesar Sagaing, garis patahan geologi utama yang membentang melalui beberapa wilayah, termasuk Mandalay. Sesar ini memiliki riwayat aktivitas seismik yang signifikan, membuat daerah di sepanjang jalurnya sangat rentan terhadap gempa bumi.

Menanggapi krisis tersebut, junta militer yang berkuasa telah menyatakan wilayah Mandalay, Sagaing, Naypyidaw, Magway, Bago, serta Negara Bagian Shan di timur laut dalam keadaan darurat.

81 Pekerja di Thailand Terjebak di Bawah Gedung

Sementara di Thailand, gempa magnitudo 7,7 itu juga menyebabkan gedung tinggi di Bangkok runtuh. Video-video yang berseliweran di media sosial X memperlihatkan air di lantai teratas sebuah gedung tinggi tumpah ruah ke bawah saat gempa menghentak.

Terlihat juga sebuah gedung tinggi ambruk ke tanah tanpa menyisakan satu lantai pun, ketika para pekerja proyek berlarian menghindari reruntuhan bangunan.

Institut Nasional Thailand untuk Kedokteran Darurat melaporkan tiga orang tewas setelah gedung tempat mereka bekerja di Bangkok runtuh. Dalam pembaruan di Facebook disebutkan 68 orang lainnya terluka dan telah dibawa ke rumah sakit.

Wakil perdana menteri Thailand mengatakan 81 pekerja konstruksi dari lokasi kejadian masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan.

Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra telah mendatangi lokasi gedung runtuh itu. Sebelumnya, ia berbicara kepada wartawan dan menyerukan agar tetap tenang setelah pertemuan menetapkan pemberlakuan kondisi darurat di negara tersebut.

Gedung runtuh di Bangkok
Gedung runtuh di Bangkok. Foto: Reuters

Risiko Likuifaksi dan Krisis Kemanusiaan di Myanmar

Menurut USGS, setelah gempa bumi itu Myanmar mengalami risiko terkena likuifaksi atau tanah bergerak yang dapat terus menyebabkan kerusakan pada bangunan dan infrastruktur.

Selain likuifaksi, USGS mengatakan ada juga risiko tanah longsor yakni pergerakan massa batu atau puing menuruni lereng.

Sebelum gempa bumi dahsyat itu terjadi, situasi kemanusiaan di Myanmar sudah sangat buruk.

Jembatan di Sagaing hancur akibat gempa
Jembatan di Sagaing hancur akibat gempa. Foto: myanmar-now.org

Sagaing yang menjadi pusat gempa merupakan medan pertempuran utama yang rawan dalam perang saudara. Wilayah itu menjadi benteng kelompok perlawanan prodemokrasi yang berjuang menggulingkan pemerintahan junta militer yang merebut kekuasaan melalui kudeta pada 1 Februari 2021.

Sejak saat itu, junta militer mengisolasi Myanmar dari dunia luar. Media independen dilarang dan kegiatan kelompok bantuan internasional dibatasi. Pemotongan bantuan luar negeri Amerika juga berdampak buruk pada Myanmar.

Teranyar, seorang juru bicara Pemerintah Persatuan Nasional (NUG)–oposisi Myanmar–telah mendesak masyarakat internasional mengirimkan bantuan melalui saluran independen, lokal, dan terpercaya.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy