Jakarta – Aceh diguncang gempa tektonik pada Minggu, 30 Maret 2025, sekira pukul 09.58 waktu Aceh. Hasil analisis Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M5,2.
Episenter gempa terletak pada koordinat 5,55 derajat Lintang Utara dan 95,47 derajat Bujur Timur, atau tepatnya berlokasi di darat 16 kilometer arah Timurlaut Banda Aceh pada kedalaman 12 kilometer.
Dari episenter dan kedalamannya, gempa bumi dangkal ini terjadi akibat aktivitas di Sesar Seulimeum. Hasil analisis menunjukkan gempa tersebut memiliki mekanisme pergerakan geser turun atau oblique normal.
Sebelumnya, pada Jumat, 28 Maret 2025, pukul 19.59 WITA, wilayah Sumbawa di Nusa Tenggara Barat (NTB) juga diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 4,7.
Episenter gempa terletak pada koordinat 8,13 derajat Lintang Selatan dan 117,92 derajat Bujur Timur, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 68 kilometer timur laut Sumbawa pada kedalaman 23 kilometer.
Gempa bumi dangkal ini terjadi akibat aktivitas sesar aktif di darat. Hasil analisis menunjukkan gempa tersebut memiliki mekanisme pergerakan mendatar atau strike slip fault.
Apakah kedua gempa itu berhubungan dengan gempa Myanmar? Diketahui gempa dahsyat Magnitudo 7,7 mengguncang Myanmar dan Thailand pada Jumat siang, 28 Maret 2025, pukul 13.20 WIB.
Namun, Direktur Gempa bumi dan Tsunami BMKG Daryono menyampaikan gempa Myanmar tidak serta merta berpengaruh pada aktivitas kegempaan di Indonesia.
Daryono dalam keterangan tertulis, dilansir dari CNBC Indonesia, Selasa, 1 April 2025, menyebutkan beberapa alasan.
Pertama, kata dia, sumber gempa berbeda. Jalur Sesar Sagaing yang menjadi pemicu Gempa Myanmar tidak menerus masuk ke wilayah Indonesia.
Baca juga: Gempa 7,7 Skala Richter Goyang Myanmar, Gedung di Thailand Ambruk
Kedua, jaraknya cukup jauh dari wilayah Indonesia. Ujung selatan jalur Sesar Sagaing hingga Pulau Sabang jaraknya sekitar 1.256 kilometer.
Ketiga, masing-masing segmen sumber gempa akan mengalami rilis energi sendiri-sendiri, bukan saling picu.
Keempat, tidak ada konsep atau teori saling picu dan tidak ada rambatan gempa.
“Jika terjadi gempa yang berdekatan jarak dan waktunya itu faktor kebetulan saja, tidak ada hubungannya,” kata dia.
Kelima, masih sulit menerangkan secara empirik dugaan bahwa antargempa dapat saling berhubungan. Hingga kini, BMKG masih lebih mudah mengkaji aktivitas gempa dalam aspek spasial dan temporal daripada mengkaji perubahan dan perpindahan tegangan di kulit Bumi.
“Inilah mengapa sangat sulit menerangkan secara empirik dugaan sebagian orang, antargempa dapat saling berhubungan, merambat dan dapat menjalar kesana kemari,” ujar Daryono.
Keenam, kaitan antara gempa utama dan gempa susulannya. Teori Pemicuan Antar Gempa Bersifat Statis. Pemicuan yang bersifat statis dapat terjadi pada gempa-gempa yang sangat dekat jaraknya.
Sebagai contoh, munculnya gempa-gempa baru atau aftershocks yang terjadi di sekitar gempa utama mainshock yang diduga kuat akibat pemicuan gempa yang bersifat statis dari gempa yang terjadi sebelumnya.
Ketujuh, secara empirik masih sulit menjelaskan sebuah gempa dapat dipicu oleh gempa jauh. Teori Pemicuan Antar Gempa Bersifat Dinamis. Pemicuan yang bersifat dinamis dapat berkaitan dengan gempa-gempa dekat dan jauh.
Kedelapan, berdasarkan beberapa hal tersebut di atas, tampak aktivitas tektonik di zona Sesar Sagaing tidak dengan mudah secara langsung mempengaruhi wilayah Indonesia.
Indonesia memiliki sistem sumber gempa sesar aktif dan zona subduksi sendiri yang menjadi sumber utama aktivitas seismik di wilayahnya. Sehingga meskipun antar segmen sesar berdekatan tetapi kalau salah satu sesarnya “belum matang” akumulasi energinya, maka tidak akan bisa terjadi saling picu gempa.
Namun demikian, sebagai langkah kesiapsiagaan, meski tidak mudah gempa Myanmar mempengaruhi kegempaan Indonesia, Daryono menyarankan masyarakat sebaiknya tidak abai dengan keberadaan jalur sesar aktif di daerah masing-masing.
“Jalur sesar ini dapat dilihat di peta tektonik. Jika ternyata tempat tinggal kita relatif dekat sumber gempa maka sebagai upaya mitigasi kita wajib membangun rumah yang memenuhi standar tahan gempa.”[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy