Impor Aceh Anjlok 75 Persen, Neraca Perdagangan Sukses Cetak Surplus 59 Juta USD

ilustrasi impor ekspor
Ilustrasi impor. Foto: Andy Li/Unsplash

Banda Aceh, Line1News – Kabar melegakan kembali datang dari sektor keuangan luar negeri Aceh. Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh melaporkan angka impor yang masuk ke Bumi Serambi Mekkah anjlok drastis hingga 75,15 persen pada Juni 2026 jika dibandingkan dengan Mei lalu.

Turunnya angka belanja ke luar negeri ini otomatis menyelamatkan kantong perdagangan Aceh. Nilai total barang impor yang masuk tercatat sebesar 26,04 juta USD (sekitar Rp422 miliar).

“Nilai impor Aceh mengalami penurunan sebesar 75,15 persen dibandingkan bulan lalu,” jelas Kepala BPS Aceh, Agus Andria, Senin, 3 Agustus 2026.

Meski merosot tajam secara bulanan, belanja luar negeri Aceh pada Juni 2026 sebenarnya masih lebih tinggi 23,01 persen jika kita bandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (Juni 2025).

AS Jadi Pemasok Terbesar, Gas Propana Paling Banyak Dibeli

Dari negara mana saja barang-barang impor ini berasal? Ini tiga negara teratas pemasok kebutuhan Aceh:

* Amerika Serikat: Menjadi mitra impor nomor satu dengan nilai 21,63 juta USD. Komoditas utamanya adalah gas propana dan butana yang menjadi kebutuhan vital industri.

* Jepang: Berada di urutan kedua dengan mengirim pasokan senilai 4,02 juta USD, yang didominasi oleh bahan kimia anorganik.

* Thailand: Menempati posisi ketiga dengan nilai 0,39 juta USD untuk pasokan komoditas garam, belerang, dan kapur.

Secara keseluruhan, gas propana dan butana menjadi komoditas belanjaan paling dominan dengan porsi mencapai 83,06 persen dari total seluruh barang impor yang masuk ke Aceh.

Baca Juga: Ekspor Aceh Melejit 61 Persen, Batu Bara dan Kopi Jadi Mesin Penggerak Utama

Rapor Hijau: Neraca Perdagangan Surplus Besar

Berkat kombinasi ekspor yang perkasa dan rem pengereman impor yang tajam, neraca perdagangan luar negeri Aceh sukses membukukan rapor hijau. Aceh berhasil mencetak surplus sebesar 59,27 juta USD (sekitar Rp961 miliar) sepanjang Juni 2026. Artinya, uang yang masuk ke Aceh dari hasil jualan jauh lebih besar daripada uang yang keluar untuk belanja.

“Dari tren grafik yang ada, sepanjang Juni 2025 hingga Juni 2026, neraca perdagangan luar negeri kita sempat mencatatkan rapor merah atau defisit pada Oktober 2025 dan Mei 2026 lalu,” pungkas Agus.

Kembali bangkitnya surplus di bulan Juni ini menjadi sinyal positif bagi pemulihan ekonomi Aceh di pasar global.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy