Ramallah — Zionis Israel menolak membebaskan Marwan Barghouti, 66 tahun, pemimpin Palestina yang disebut paling populer dan berpotensi mempersatukan.
Nama Marwan tidak termasuk dalam daftar tahanan yang ingin dibebaskan Israel sebagai imbalan atas pembebasan sandera yang ditawan Hamas, berdasarkan kesepakatan gencatan senjata terbaru.
AP melaporkan, pemerintah zionis pada Jumat, 10 Oktober 2025, di laman resminya telah mempublikasikan daftar sekitar 250 tahanan yang bakal dibebaskan. Namun belum diketahui apakah daftar tersebut sudah final.
Pejabat senior Hamas Mousa Abu Marzouk mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kelompoknya bersikeras atas pembebasan Barghouti dan sejumlah tokoh penting lainnya. Mousa menyebut Hamas sedang berdiskusi dengan para mediator terkait hal itu.
Di mata zionis, Marwan dianggap pemimpin teroris. Pengadilan negara tersebut memvonis Marwan hukuman seumur hidup pada 2004 terkait serangan di Israel yang menewaskan lima orang.
Namun, beberapa pakar mengatakan Israel takut pada Marwan karena alasan lain. Marwan dianggap pendukung solusi dua negara meskipun ia mendukung perlawanan bersenjata terhadap pendudukan Israel. Selain itu, Marwan dianggap Israel bisa menjadi tokoh penggerak yang kuat bagi Palestina.
Sementara itu, beberapa warga Palestina menganggapnya Marwan seperti Nelson Mandela versi mereka. Nelson Mandela aktivis anti-apartheid Afrika Selatan yang menjadi presiden kulit hitam pertama di negaranya.
Setelah dibebaskan, lebih dari separuhnya akan dikirim ke Gaza atau diasingkan di luar wilayah Palestina, menurut daftar yang dikeluarkan pemerintah zionis.
Marwan Barghouti dinilai sebagai calon penerus Presiden Mahmoud Abbas, pemimpin Otoritas Palestina yang diakui secara internasional dan menguasai sebagian wilayah Tepi Barat. Jajak pendapat secara konsisten menunjukkan Barghouti adalah pemimpin Palestina yang paling populer.
Marwan lahir di desa Kobar, Tepi Barat, pada tahun 1959. Semasa kuliah sejarah dan politik di Universitas Bir Zeit, ia turut mempelopori protes mahasiswa menentang pendudukan Israel. Ia muncul sebagai organisator dalam pemberontakan Palestina pertama, yang meletus pada Desember 1987.
Israel akhirnya mendeportasinya ke Yordania. Ia kembali ke Tepi Barat pada tahun 1990-an sebagai bagian dari perjanjian perdamaian sementara yang membentuk Otoritas Palestina dan bertujuan membuka jalan bagi berdirinya sebuah negara.
Seiring dimulainya gencatan senjata dan penarikan pasukan Israel di Gaza sejak Jumat, Hamas akan membebaskan sekitar 20 sandera yang masih hidup pada Senin, 13 Oktober 2025.
Adapun Israel akan membebaskan sekitar 250 warga Palestina yang menjalani hukuman penjara, serta sekitar 1.700 orang yang ditangkap dari Gaza dalam dua tahun terakhir dan ditahan tanpa dakwaan.
Zionis memandang para tahanan sebagai teroris, beberapa di antaranya terlibat dalam bom bunuh diri. Di sisi lain, banyak warga Palestina memandang ribuan tahanan Israel sebagai tahanan politik.
Sebagian besar tahanan Israel adalah anggota Hamas dan faksi Fatah yang ditangkap pada tahun 2000-an. Banyak dari mereka dihukum karena dituduh terlibat penembakan, pengeboman, atau serangan lain yang menewaskan atau mencoba membunuh warga sipil, pemukim, dan tentara Israel.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy