Jakarta – Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), K.H. Miftahul Huda, mengatakan bulan Sya’ban menjadi momen umat mempersiapkan diri menuju bulan Ramadan. Persiapan itu dimulai dari fisik, spiritual, dan finansial.
Menurut Kiai Miftah, pentingnya persiapan tersebut lantaran selama bulan Ramadan rangkaian ibadah sangat padat. Persiapan finansial agar umat bisa memperbanyak sedekah di bulan penuh berkah.
“Karena sedekah di bulan Ramadan pahalanya dilipatgandakan,” kata Kiai Miftah, dikutip dari MUI Digital, Ahad, 1 Februari 2026.
Kiai Miftah mengimbau umat memperbanyak ibadah dan puasa sunah di bulan Sya’ban. Sebab, di bulan Sya’ban menjadi waktu diangkatnya amal, sehingga yang diangkat adalah amal terbaik.
“Ada satu riwayat bahwa bulan Sya’ban itu waktunya diangkat amal. Amalan hamba itu akan dilaporkan kepada Allah SWT. Kalau di bulan Sya’ban ini (dianjurkan) memperbanyak ibadah dan puasa, kita akan dilaporkan catatan amal yang baik-baik,” ujarnya.
Baca juga: Kapan Malam Nisfu Sya’ban 1447 Hijriah?
Menurut Kiai Miftah, dalam bulan Sya’ban juga ada momen Nisfu Sya’ban sebagai waktu untuk memperbanyak ibadah. Malam Nisfu Sya’ban disunahkan memperbanyak membaca Al-Qur’an seperti Surat Yassin 3 kali, bershalawat, berdoa, dan bersedekah.
Selain itu, dalam bulan Sya’ban ini menjadi kesempatan terakhir bagi umat mengqadha puasa Ramadan sebelum. “Terutama bagi perempuan yang memiliki utang puasa karena haid atau nifas, serta bagi laki-lali yang lalai atau lupa,” ungkap Kiai Miftah.
Dia menegaskan bulan Sya’ban menjadi bulan terakhir untuk mengqadha puasa bulan Ramadan sebelumnya.
“Di Ramadan banyak amalan ibadah yang menguras tenaga. Di siangnya kita berpuasa, malamnya ada qiyamul lail, salat sunah tarawih, witir, tahajud, dan memperbanyak tadarus,” ucap Kiai Miftah.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy