Sejumlah Korban Peristiwa di Tiro Pidie Masih Dirawat, Begini Kondisinya

RSUD Tgk Abdullah Syafii Beureunuen
RSUD Tgk. Abdullah Syafi'i Beureunuen. Foto: Dok. Waspada.id

Banda Aceh, Line1News – Sejumlah warga sipil korban luka-luka akibat bentrokan aparat keamanan dengan masyarakat di Gampong Pulo Kenari, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, masih menjalani perawatan intensif di RSUD Tgk. Abdullah Syafi’i Beureunuen.

“Yang dirawat [di rumah sakit] 12 orang. Satu orang meninggal dunia, laki-laki berusia 20 tahun,” kata Direktur RSUD Tgk Abdullah Syafi’i Beureunuen, dokter Kamaruzzaman kepada Line1News, Kamis, 5 November 2026.

Kamaruzzaman menjelaskan, jumlah korban yang dirawat tersebut dengan rincian satu orang wanita dan 10 orang laki-laki. Namun, empat orang di antaranya sudah dipulangkan.

“Rinciannya, satu orang wanita dan 10 orang laki-laki. [Saat ini] yang dirawat tujuh orang, [sudah] dipulangkan empat orang. [Kondisinya] luka-luka dan memar,” ujar Kamaruzzaman.

Sumber lainnya menyebut korban meninggal dunia bernama  Abzalul Riza, warga Desa Dayah Kampung Baro, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie. Jenazahnya telah dimakamkan pada Kamis (5/11/2026) pukul 01.00 dinihari di pemakaman umum Desa Dayah Kampung Baro. Diduga korban tersebut meninggal dunia akibat penembakan.

Baca Juga: Ketua Forbes Aceh Kecam Keras Penembakan Terhadap Masyarakat

Sebelumnya diberitakan, peristiwa bentrokan antara aparat keamanan dengan masyakarat terjadi saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Gampong Pulo Kenari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Rabu, 4 November 2026.

Berdasarkan informasi yang beredar, insiden tersebut diduga dipicu penolakan masyarakat terhadap permintaan untuk menurunkan bendera bulan bintang di lokasi maulid.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh mengutuk peristiwa dugaan penembakan terhadap warga tersebut. Direktur LBH, Aulianda Wafisa mendesak pengusutan tuntas dan pertanggungjawaban atas peristiwa tersebut.

“Ini semua harus diproses secara hukum. Proses hukum harus berjalan dan mereka harus ditelusuri serta diselidiki,” kata Aulianda kepada wartawan, Rabu, 4 November 2026.

Aulianda menegaskan, tindakan represif aparat tersebut sama sekali tidak mencerminkan negara hukum. Menurutnya, kejadian serupa terus berulang di beberapa peringatan maulid yang digelar oleh masyarakat, di antaranya di daerah Laweung, Pidie, beberapa waktu lalu.

“Dan yang terbaru di Tiro, Pidie. Saya pikir sampai sekarang belum ada satupun pelaku tindak kekerasan itu yang diproses secara hukum. Ini memang mencerminkan bahwa sebetulnya negara kita sedang tidak berpijak pada hukum. Jadi, kebijakan ini dilandasi oleh selera politik penguasa saja,” jelasnya.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy