Khutbah Idul Adha:

Kurban di Tengah Krisis Ekonomi sebagai Komitmen Mempertebal Optimisme, Meneguhkan Tawakal, dan Menghidupkan Solidaritas

Ilustrasi hewan kurban. Foto: megasyariah.co.id
Ilustrasi hewan kurban. Foto: megasyariah.co.id

Oleh: KH Sholahudin Al Aiyub, Ketua MUI Bidang Ekonomi Syariah

Kaum Muslimin wal Muslimat, ‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah

Hari ini kita merayakan Hari Raya Idul Adha 1447 H. Pada hari ini dan tiga hari setelahnya (yaitu hari-hari Tasyriq), kita umat Islam disunnahkan untuk terus menggemakan takbir, tahmid, dan tahlil.

Oleh karena itu, mari kita syiarkan hari raya ini dengan menjalankan sunnah tersebut, setidaknya setiap setelah shalat fardhu.

Hari Raya ini disebut dengan Idul Adha (yang dalam bahasa Indonesia disebut Hari Raya Qurban), karena kita semua umat Islam diserukan untuk memotong hewan qurban, yang merupakan bentuk ketundukan dan kepasrahan kepada Allah SWT, Dzat Yang Kuasanya tiada terbilang dan tiada terhingga.

Allah SWT berfirman:

فصل لربك وانحر

“Sembahyanglah kamu kepada Rabb-mu dan berqurban-lah” (QS. Al-Kautsar: 2)

Berqurban dapat dilaksanakan pada hari ini, yaitu Hari Raya Idul Adha, dan tiga hari setelahnya, yaitu hari-hari Tasyriq.

Adapun hewan yang sah digunakan untuk berqurban ialah kambing, sapi atau unta yang telah cukup umur, serta sehat dan tidak ada cacat. Diutamakan berqurban dengan hewan yang lebih besar dan lebih gemuk serta memiliki daging yang lebih banyak.

Adalah lebih utama, jika orang yang berqurban bisa menyembelih sendiri hewan yang diqurbankannya. Tapi apabila hal itu tidak dimungkinkan, maka dapat dilakukan oleh orang lain yang lebih ahli. Adapun niat dilakukan saat penyembelihan, yaitu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Menurut mazhab Syafi’i, berqurban hukumnya adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Oleh karena itu, bagi orang mampu, tapi tidak berqurban, maka Rasulullah mengingatkan dengan keras:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

“Barang siapa mempunyai kemampuan (berqurban) tetapi tidak berqurban maka janganlah mendekati tempat shalat kami.” (HR Ibnu Majah)

Maka, sepatutnya bagi kita, sebagai orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, untuk memenuhi panggilan berqurban tersebut.

Apabila hari ini belum sempat berqurban, maka masih ada tiga hari setelah hari ini yang dapat dipergunakan untuk berqurban. Tidak lain, semua ini sebagai bukti ketundukan dan kepatuhan kita pada ajaran agama.

الله أكبر (×3) لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد

Kaum Muslimin wal Muslimat, ‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah.

Syariat berqurban yang dilaksanakan umat Islam, selain sebagai bentuk ketundukan dan kepatuhan serta upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT, juga ada hikmah dan ibrah yang dapat kita pelajari dan ikuti.

Di antara hikmah yang dapat kita ambil ibrahnya adalah pentingnya optimisme dalam kondisi krisis ekonomi global sebagaimana terjadi saat ini.

Saat ini kita semakin sering mendengar suara keluh kesah masyarakat yang hidup dalam tekanan ekonomi. Harga kebutuhan pokok naik. Lapangan pekerjaan semakin sempit dan daya beli melemah.

Banyak keluarga yang menahan tangis dalam diam; tetap tersenyum di hadapan manusia, tetapi hatinya dipenuhi kecemasan menghadapi hari esok.

Ada orang tua yang mulai bingung membayar sekolah anaknya. Ada pedagang kecil yang dagangannya sepi. Ada pekerja yang pendapatannya tidak lagi cukup memenuhi kebutuhan rumah tangga. Bahkan ada yang bertanya dalam hatinya: “Ya Allah, sampai kapan ujian ini berlangsung?”

Di sinilah Idul Adha hadir, bukan sekadar sebagai ritual penyembelihan hewan, tetapi sebagai madrasah ruhani untuk menghadapi kehidupan.

Kondisi perekonomian yang sulit saat ini bisa jadi merupakan ujian, agar kita dapat melihat ulang dan kemudian memperbaiki hal-hal apa saja di dalam kehidupan ini yang perlu untuk dibenahi dan diperbaiki.

Allah SWT berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ

“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Kaum Muslimin wal Muslimat, ‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah.

Syariat qurban mengajarkan kepada kita bahwa jalan menuju kemuliaan tidak pernah lepas dari ujian dan pengorbanan. Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam diuji dengan perintah mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya: yaitu putranya sendiri, Ismail ‘Alaihissalam.

Bagi Ibrahim, Ismail bukanlah sekadar anak. Ia adalah jawaban doa yang dipanjatkan selama puluhan tahun. Ia adalah harapan di usia senja. Tetapi ketika Allah menguji dengan perintah pengorbanan itu, Nabi Ibrahim tidak mendahulukan logika, emosi, ataupun kepentingan dunia. Beliau mendahulukan ketaatan.

Ini semua dikisahkah dalam Alquran:

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ. وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ. قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَاۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ. اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ. وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ. وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَۖ

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, Kami pun memanggilnya: Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS. Ash-Shaffat: 103-108)

Para ulama menjelaskan bahwa inti pengorbanan Nabi Ibrahim adalah kemenangan cinta kepada Allah di atas segala cinta dunia.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

لَنْ يَصِحَّ لِلْعَبْدِ التَّوْحِيدُ حَتَّى يَكُوْنَ اللهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ كُلِّ مَا سِوَاهُ

“Tauhid seorang hamba tidak akan sempurna sampai Allah lebih ia cintai daripada segala sesuatu selain-Nya.”

Karena itu, sebelum Allah mengganti Ismail dengan sembelihan yang agung, Allah terlebih dahulu melihat ketulusan hati Ibrahim.

Dengan demikian, hakikat qurban bukan semata-mata tentang darah dan daging. Tetapi tentang apa yang sanggup kita korbankan demi menaati Allah dan Rasul-Nya.

Allah SWT berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

“Daging-daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

Kaum Muslimin wal Muslimat, ‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah.

Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, ibrah qurban justru semakin relevan. Qurban mengajarkan bahwa rasa takut miskin tidak boleh mengalahkan keyakinan kepada Allah. Setan memang selalu meniupkan ketakutan pada kondisi kekurangan:

…الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ…

“Setan menakut-nakuti kalian dengan kemiskinan.” (QS. Al-Baqarah: 268)

Karena itu, ketika seorang mukmin tetap mau berbagi di tengah kesempitan, tetap bersedekah di tengah keterbatasan, tetap membantu saudaranya saat dirinya sendiri belum lapang, sesungguhnya ia sedang menyembelih “ketakutan” dalam dirinya.

Hasan Al-Bashri rahimullah berkata:

لَا تَكْرَهُوا الْبَلَاءَ الْوَاقِعَ وَالضِّيقَ الْحَادِثَ، فَلَرُبَّ أَمْرٍ تَكْرَهُهُ فِيهِ نَجَاتُكَ، وَلَرُبَّ أَمْرٍ تُؤْثِرُهُ فِيهِ عَطَبُكَ

“Janganlah kalian membenci musibah dan kesempitan yang terjadi. Betapa banyak sesuatu yang engkau benci justru di sanalah keselamatanmu. Dan betapa banyak sesuatu yang engkau sukai justru di sanalah kehancuranmu.”

Inilah makna qurban yang paling dalam: menyembelih kerakusan, egoisme, cinta dunia berlebihan, dan ketergantungan hati kepada materi.

Kaum Muslimin wal Muslimat, ‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah.

Hari ini kita menyaksikan banyak manusia hidup dalam budaya konsumtif. Tidak sedikit yang memaksakan gaya hidup demi gengsi, sampai terjerat utang dan kehilangan ketenangan hidup.

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata:

مَا عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ، وَلَا أَفْلَحَ مَنْ أَسْرَفَ

“Tidak akan miskin orang yang hidup sederhana, dan tidak akan beruntung orang yang berlebih-lebihan.”

Islam mengajarkan keseimbangan. Hidup sederhana bukan berarti hina. Justru kesederhanaan sering menjadi jalan keselamatan.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata:

رَأَيْتُ الْقَنَاعَةَ رَأْسَ الْغِنَى فَصِرْتُ بِأَذْيَالِهَا مُتَمَسِّكَا

“Aku melihat qanaah adalah puncak kekayaan, maka aku pun berpegang erat dengannya.”

Maka, meski di tengah situasi ekonomi yang sulit, jangan sampai kesulitan mendorong kita mengambil jalan yang haram: riba, korupsi, manipulasi, penipuan, dan kezaliman. Sebab keberkahan hidup bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada halalnya rezeki.

Sebagian ulama saleh terdahulu berkata:

قَلِيلٌ مِنَ الْحَلَالِ خَيْرٌ مِنْ كَثِيرٍ مِنَ الْحَرَامِ

“Sedikit tetapi halal lebih baik daripada banyak tetapi haram.”

Mungkin penghasilan kita kecil, tetapi jika halal dan penuh keberkahan, ia akan membawa ketenteraman bagi keluarga. Sebaliknya, harta haram mungkin tampak besar, tetapi sering menjadi sebab kegelisahan dan kehancuran hidup.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Kaum Muslimin wal Muslimat, ‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah.

Qurban juga mengajarkan solidaritas sosial. Di hari ini, orang miskin ikut merasakan kebahagiaan. Anak-anak yatim tersenyum. Rumah-rumah yang lama tidak memasak daging kembali merasakan nikmat Allah. Inilah keindahan Islam.

Ketika dunia dibangun di atas persaingan tanpa belas kasih, Islam membangun masyarakat di atas kasih sayang dan kepedulian. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:

لَوْ أَنَّ بَغْلَةً تَعَثَّرَتْ فِي الْعِرَاقِ لَخِفْتُ أَنْ يَسْأَلَنِيَ اللهُ عَنْهَا: لِمَ لَمْ تُسَوِّ لَهَا الطَّرِيقَ يَا عُمَرُ؟

“Seandainya seekor keledai tersandung di Irak, aku khawatir Allah akan bertanya kepadaku: Mengapa engkau tidak memperbaiki jalan untuknya wahai Umar?”

Lihatlah, bagaimana para ulama saleh terdahulu memiliki rasa tanggung jawab sosial yang begitu besar. Karena itu, marilah kita meneladaninya. Jika kita memiliki kelebihan rezeki, bantulah yang kesulitan. Jangan biarkan tetangga kita menanggung lapar sementara kita hidup berlebihan.

Kaum Muslimin wal Muslimat, ‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah,

Ada pelajaran besar lain dari keluarga Nabi Ibrahim: yaitu optimisme. Hal ini tergambarkan ketika Nabi Ibrahim meninggalkan istrinya Sayyidah Hajar dan putranya Ismail di lembah tandus Makkah, yang tidak ada air, tidak ada tanaman, dan tidak ada kehidupan.

Di dalam hadis shahih diriwayatkan bagaimana keteguhan itu tampak dalam percakapan mereka:

آالله الذي أمرك بهذا ؟ قال: نعم، قالت: إذن لا يضيعنا الله

“…Apakah Allah yang memerintahkan kepadamu tentang hal ini? Ibrahim menjawab: iya. Kemudian Hajar berkata: jika demikian Allah tidak akan menyia-nyiakan kita.” (HR Bukhari)

Kalimat ini pendek, tetapi mengguncang langit. Hari ini banyak manusia kehilangan harapan karena terlalu bergantung kepada dunia. Ketika usaha menurun, ia putus asa. Ketika jabatan hilang, ia merasa hidupnya selesai. Padahal pintu Allah tidak pernah tertutup.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:

إِذَا أَقْبَلَتِ الدُّنْيَا عَلَى أَحَدٍ أَعَارَتْهُ مَحَاسِنَ غَيْرِهِ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ عَنْهُ سَلَبَتْهُ مَحَاسِنَ نَفْسِهِ

“Ketika dunia datang kepada seseorang, ia dipinjamkan kelebihan-kelebihan orang lain. Tetapi ketika dunia pergi darinya, bahkan kelebihan dirinya sendiri terasa hilang.”

Karena itu, jangan gantungkan kemuliaan hidup kepada dunia. Gantungkanlah hati kepada Allah Yang Menguasai dunia. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

إِنَّ أَرْجَى مَا يَكُونُ الْعَبْدُ لِلْفَرَجِ إِذَا بَلَغَ الْجَهْدُ مِنْهُ

“Sesungguhnya saat paling dekat datangnya kelapangan adalah ketika kesulitan telah mencapai puncaknya.”

Maka jangan menyerah menghadapi keadaan. Tetaplah bekerja dengan halal. Tetaplah menjaga shalat. Tetaplah jujur. Tetaplah bertakwa. Karena sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)

Kaum Muslimin wal Muslimat, ‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang sabar dalam ujian, ikhlas dalam pengorbanan, kuat dalam perjuangan, dan tetap istiqamah di tengah perubahan zaman.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy