Mengenal ‘Hajj Cough’, Batuk yang Mendera Jemaah Sepulang Haji

Ilustrasi jemaah haji mendapatkan perawatan medis
Ilustrasi jemaah haji mendapatkan perawatan medis. Foto: Dok Kemkes RI

Jemaah haji sering mengalami batuk setelah kembali dari Tanah Suci. Istilah penyakit ini juga dikenal dengan ‘hajj cough’. Batuk ini bisa ringan, hanya mengganggu tenggorokan, atau berkembang menjadi infeksi serius seperti pneumonia, terutama pada jemaah lansia atau mereka dengan riwayat penyakit kronis.

Penyebabnya bermacam-macam: mulai dari virus seperti influenza, bakteri seperti Streptococcus pneumoniae, hingga iritasi akibat debu dan panas ekstrem.

Menurut penelitian, hingga 90 persen jemaah haji melaporkan gejala pernapasan seperti batuk, pilek, atau sakit tenggorokan selama Haji, menjadikan “Hajj cough” fenomena yang hampir tak terhindarkan.

Keramaian menjadi faktor utama penyebaran infeksi pernapasan selama haji. Di tempat-tempat seperti Masjidil Haram, Mina, atau Arafah, jemaah sering berdesakan, membuat penularan penyakit melalui tetesan udara—saat batuk atau bersin—sangat mudah terjadi.

Faktor lingkungan juga berperan besar. Suhu di Makkah sering mencapai 47 derajat Celcius, dan debu yang beterbangan mengiritasi saluran pernapasan, memicu batuk dan sakit tenggorokan.

Kelelahan fisik akibat perjalanan jauh, ritual yang menguras tenaga seperti wukuf di Arafah, dan kurang tidur melemahkan daya tahan tubuh.

Jamaah Indonesia, yang sering kali berusia lanjut atau memiliki penyakit seperti diabetes (55 persenpasien pneumonia dalam studi 2005) atau COPD, sangat rentan terhadap infeksi serius.

Infeksi pernapasan selama haji disebabkan oleh berbagai patogen. Virus seperti influenza A, rhinovirus, dan koronavirus (selain SARS-CoV-2) adalah penyebab utama batuk ringan hingga sedang.

Bakteri seperti Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae juga sering ditemukan.

Lalu Mycobacterium tuberculosis, penyebab TBC, menjadi ancaman serius, terutama bagi jemaah dari negara endemik seperti Indonesia. Studi pada 2013 mengidentifikasi M. tuberculosis pada 28 persen kasus pneumonia berat.

Batuk yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi pneumonia, terutama pada jamaah dengan faktor risiko seperti usia lanjut atau penyakit kronis.

Pada 2004-2013, pneumonia menyumbang 23 persen rawat inap di rumah sakit Al-Ansar, Madinah, dengan tingkat kematian di ICU mencapai 21,45 persen.

Pada 2025, Kementerian Kesehatan Indonesia melaporkan 99 kasus pneumonia di antara jamaah haji, dengan satu kematian, menegaskan bahwa risiko ini tetap relevan.

Baca juga: Waspada MERS-CoV, Jemaah Haji Aceh Diminta Pakai Masker dan tak Dekati Unta

Indonesia mengirimkan salah satu kontingen haji terbesar, dengan banyak jamaah berusia di atas 60 tahun atau memiliki penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, atau COPD.

Mengelola “Hajj cough” bukanlah tugas mudah. Diagnosis dini sering kali sulit karena keterbatasan fasilitas kesehatan di tengah keramaian.

Selain itu, banyak jemaah, termasuk dari Indonesia, kurang menyadari pentingnya vaksinasi atau penggunaan masker. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kesehatan dan Kementerian Agama, perlu memperkuat program edukasi kesehatan sebelum keberangkatan.

Dengan langkah-langkah sederhana, jemaah dapat meminimalkan risiko ini dan kembali ke tanah air dengan tubuh sehat dan hati penuh berkah. Hal ini bisa dimulai dengan vaksinasi influenza dan pneumokokus beberapa minggu sebelum berangkat—ini seperti perisai yang melindungi paru-paru dari serangan virus dan bakteri.

Selain itu, mengenakan masker saat berada di tempat ramai, seperti di Masjidil Haram atau saat lempar jumrah, untuk menahan tetesan udara yang membawa penyakit.

Lalu, menjaga kebersihan tangan dengan rajin mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer, terutama sebelum makan atau setelah kontak dengan orang lain.

Persiapkan tubuh dengan olahraga ringan agar kuat menjalani ritual yang melelahkan, dan ikuti sesi edukasi kesehatan untuk memahami cara menjaga diri di Tanah Suci.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy