“Beberapa dus air mineral dipindahkan ke mobil double cabin, biar ada tempat duduk di mobil pikap ini [yang penuh dengan muatan logistik],” kata Wardhatul Jannah, usai turun dari mobil double cabin di Jalan Samudra Baru, Lhokseumawe, Kamis, 18 Desember 2025, pukul 09.45 waktu Aceh.
Seorang pria paruh baya menjalankan instruksi Wardhatul Jannah, Ketua Komite Sekolah (PAUD, TK, dan SD) Srikandi Lhokseumawe. Lalu, dua guru Sekolah Srikandi, Miss Lena dan Miss Rita, serta dua wartawan naik ke bak mobil pikap itu.
Rombongan Yayasan Srikandi Lhokseumawe dipimpin pemilik yayasan itu, Miss Susan bersama Wardhatul Jannah, didampingi Dewan Guru Sekolah Srikandi, dan staf yayasan tersebut pun bergerak dari Lhokseumawe tujuan ke Kecamatan Langkahan, Aceh Utara.
Rombongan menggunakan dua mobil membawa berbagai bantuan untuk disalurkan kepada pengungsi korban banjir bandang di Langkahan. Bantuan itu ratusan paket makanan siap saji (nasi dan ayam geprek), ratusan paket biskuit dan mi instan, serta ratusan paket susu anak-anak plus kue black forest, kacang dan buah-buahan.
Ada pula bantuan pakaian, tikar, kelambu, selimut, mukena, pampers, pembalut wanita, dan sabun mandi.
Kedua mobil yang membawa rombongan itu melintasi Jalan Banda Aceh-Medan hingga tiba di Pantonlabu, Ibu Kota Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, pukul 11.20. Kedua mobil tersebut belok kanan ke Jalan Perdagangan Pantonlabu.
Banyak pedagang berjualan di sepanjang kanan-kiri bibir jalan itu yang masih berlumpur sisa banjir.
“Mantong na ie lam kide (Masih ada sisa banjir dalam toko),” kata Syahrial, wartawan yang menumpang mobil pikap rombongan itu menunjuk salah satu toko. Adapun lumpur mengotori halaman depan setiap toko di jalan tersebut.
Sampah terbungkus kantong plastik menumpuk di sejumlah titik di bibir jalan itu. “Sampah-sampah belum diangkut,” ucap Miss Lena.
Rombongan kemudian melintasi jalan Gampong Lhok Bintang Hu, Kecamatan Tanah Jambo Aye. Semua halaman rumah di kanan-kiri jalan desa itu masih berlumpur sisa banjir bandang. Lumpur juga terlihat di dalam sebagian rumah.
“Neubi seulimut sion, kamoe hana lee seulimut ka diba lee ie (Mohon berikan selimut satu lembar, kami tidak punya lagi selimut sudah dihanyutkan banjir),” ucap seorang pemuda di jalan Lhok Bintang Hu saat mobil rombongan Yayasan Srikandi melintasi jalur tersebut.
Miss Lena mengambil selembar selimut baru dan memberikan kepada pemuda tersebut.
Tidak lama kemudian, “Bi tika sion (Berikan tikar selembar),” ucap seorang pria dewasa di bibir jalan desa itu.
“Hai neu tik tika sion (Mohon berikan tikar satu lembar),” teriak seorang perempuan tua di depan sebuah rumah yang berlumpur.
***

[Tim Yayasan Srikandi Lhokseumawe menyalurkan bantuan kepada korban banjir bandang, Kamis, 18 Desember 2025. Foto: Tangkapan layar video]
Mobil rombongan berhenti di sejumlah titik di Gampong Biram Rayeuk hingga Biram Cut, Kecamatan Tanah Jambo Aye.
Wardhatul Jannah akrab disapa Wardah dan sejumlah guru Sekolah Srikandi membagikan paket nasi siap saji dan paket makanan bergizi (susu, kue black forest, kacang dan buah-buahan) kepada kaum ibu dan anak-anak korban banjir di sana.
Setelah mengetahui rombongan Yayasan Srikandi ingin ke Langkahan, warga Biram Cut menyampaikan jalur dari desa itu belum tembus ke Langkahan. “Jalan masih berlumpur tebal,” ungkap seorang pria diamini kaum ibu.
“Di belakang sana ada jalan yang sudah dibersihkan dari lumpur, bisa lewat ke Langkahan,” tambah pria itu.
Rombongan balik kanan, lalu masuk ke sebuah persimpangan jalan melintasi Dusun Tanjong Beureutoh Gampong Tanjong Ara, Kecamatan Tanah Jambo Aye, menuju Langkahan.
Dua mobil rombongan itu kembali menepi beberapa saat di sejumlah titik jalan tersebut. Wardah dan sejumlah guru Sekolah Srikandi membagikan paket nasi siap saji dan paket makanan bergizi kepada kaum ibu dan anak-anak korban banjir di lokasi tersebut.
Lalu, rombongan singgah sekitar 10 menit di Gampong Alue Dua, Kecamatan Langkahan. Miss Susan, Wardah, dan guru-guru Sekolah Srikandi menyalurkan bantuan tikar, selimut, pakaian, paket biskuit dan mi instan, serta air mineral kepada para korban banjir di desa itu.
“Buk, neubi bu saboh keu Pak Geusyik (Bu guru Sekolah Srikandi mohon berikan satu nasi kotak untuk Bapak Kepala Desa Alue Dua),” teriak seorang perempuan yang sudah menerima sejumlah paket bantuan dari rombongan itu.
“Pak Geusyik kamoe golom na bu, neubi saboh (Bapak Kepala Desa kami belum mendapatkan nasi, berikan satu kotak),” sahut seorang warga lainnya.
Wardah langsung memberikan satu kotak nasi siap saji kepada Kepala Desa Alue Dua, M. Daud. “Dari tadi pagi capek saya cari gas [elipiji 3 kg] belum dapat,” ujar Daud usai menerima satu kotak nasi ayam geprek.
Geusyik Daud menyebut warganya sebanyak lebih 180 kepala keluarga (KK). “60 rumah [berkonstruksi] kayu hanyut diseret banjir,” ungkapnya.
“Masyarakat kami mengungsi di pos dayah dan meunasah gampong ini,” tambah Daud.
***

[Tim Yayasan Srikandi Lhokseumawe menyalurkan bantuan kepada korban banjir bandang di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Kamis, 18 Desember 2025. Foto: Tangkapan layar video]
Rombongan Yayasan Srikandi melanjutkan perjalanan hingga berhenti di halaman Masjid Manarul Huda Gampong Paya Tukai, Kecamatan Langkahan, pukul 12.40. Wardah bersama Dewan Guru Sekolah Srikandi menyalurkan paket bantuan kepada banyak warga korban banjir di lokasi itu, seperti yang telah diserahkan kepada masyarakat Alue Dua tadi.
Sebagian anggota rombongan menunaikan salat Zuhur, dilanjutkan makan siang bersama di masjid itu.
Wardah yang tadinya menumpang mobil double cabin, kini naik ke bak mobil pikap. Tampaknya anggota DPRK Lhokseumawe itu—yang dalam kegiatan penyaluran bantuan tersebut bertindak sebagai Ketua Komite Sekolah Srikandi—ingin merasakan langsung menjadi penumpang mobil pikap.
Dari Masjid Paya Tukai, rombongan bergerak ke sejumlah desa lainnya, melewati jalur yang di beberapa titik bahu jalan telah amblas. Sebagian badan jalan juga berlubang besar. Adapun tiang-tiang listrik bersama kabelnya tumbang ke tanah di dekat jalan tersebut.
Rombongan akhirnya berhenti di Gampong Tanjung Dalam Selatan, Kecamatan Langkahan. Di desa memiliki empat dusun itu terdapat beberapa titik pengungsian korban banjir bandang. Tenda-tenda pengungsian berjejer di bibir jalan dan juga di bantaran sungai. Tenda pengungsian dibangun menggunakan terpal.
“Lihat, jumlah rumah yang tersisa bisa dihitung. Kami tidur di tenda ini. Sampai sekarang belum hidup listrik di tempat kami sejak banjir bandang,” ungkap seorang warga di depan tenda pengungsian.
Tim Yayasan Srikandi menyalurkan berbagai paket bantuan kepada para pengungsi korban banjir di Tanjung Dalam Selatan itu.
Anak-anak, remaja, hingga kaum ibu korban banjir di desa itu merasa senang mendapatkan bantuan dari tim Yayasan Srikandi Lhokseumawe.
“Terima kasih, Bu,” ucap seorang remaja putri.
“Terima kasih, semoga mudah rezeki,” ucap seorang bocah. Sejumlah anak lainnya kompak mengamini sambil berjalan masuk ke tenda pengungsian.
***

[Tim Yayasan Srikandi Lhokseumawe menyalurkan bantuan kepada korban banjir bandang di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Kamis, 18 Desember 2025. Foto for Line1.News]
Setelah penyaluran bantuan, Miss Susan mendekat ke salah satu tenda pengungsian. Lalu, pemilik Yayasan Srikandi Lhokseumawe itu memeluk dan mencium beberapa anak korban banjir, dan memberikan semangat kepada mereka.
Miss Susan menyampaikan bantuan disalurkan Yayasan Srikandi Lhokseumawe itu berasal dari para donatur. Dia pun mengucapkan terima kasih kepada semua donatur.
“Yaitu, donasi wali murid, donasi dari kawan-kawan dari Medan, kawan-kawan dari Lhokseumawe, kawan-kawan dari luar negeri, kami mengucapkan banyak terima kasih,” ucap Miss Susan didampingi Wardah.
Miss Susan pun tiba-tiba menangis saat berkata, “Dan kepada pemerintah, tolonglah rakyat Aceh, kami sedang berduka. Mudahkanlah jalan kami, Tuhan akan mempermudah jalan pemerintah, percayalah”.
“Kami mohon bantuan, ya. Rakyat-rakyat, lihat dulu, ini rumah mereka [sambil mengarahkan tangannya ke tenda pengungsian]. Mereka sanggup kami memberikan makan, tapi kami tidak sanggup untuk hal lain lagi. Mohon pemerintah, kami rakyat Aceh, tolong ulurkan tangan, membantu rakyat di sini, rumah mereka, jalan-jalan [di desa-desa] mereka, anak-anak sangat membutuhkan sekolah, sekolah mereka hancur”.
“Bapak [pemerintah], kami mohon bantuan sebesar-besarnya, lihat anak-anak ini, generasi penerus bangsa, ke depan mereka menjadi cahaya, tolong. Dan juga guru-guru yang berada di sini kena musibah. Pendidikan nomor satu, pendidikanlah yang membangkitkan negara kita, tolong dan mohon bantuannya, supaya Tuhan membalas semuanya,” ujar Miss Susan.
Miss Susan juga menyemangati para pengungsi. “Pak, Bu, semua semangat yang ada di sini, nak, ya. Semangat semua”.
“Ingat, ya, pasti suatu saat indah pada waktunya. Kita semua senyum ya, nak,” ucapnya.
“Apa pesan kepada bapak-bapak kita [para pengambil kebijakan di pemerintahan]. [Kepada] Pak Probowo, ada pesan, nak. Pak, kami pingin sekolah lagi, pingin ada rumah lagi, pingin adik ini ada masa depan”.
“Pak, adik-adik inilah generasi penerus bangsa. Kami memohon, kami meminta bantuan, hanya itu yang bisa kami sampaikan dari Yayasan Srikandi Lhokseumawe,” tutur Miss Susan.
“Kami ucapkan terima kasih kepada Pak Presiden dan jajarannya. Dan juga Gubernur kami yang mengasihani kami, termasuk Bapak Wali Kota, Bupati, termasuk dewan, kami ucapkan terima kasih,” tambahnya.
Seorang perempuan korban banjir di tenda pengungsian itu lalu memberitahukan kepada Miss Susan bahwa bocah yang dia peluk itu adalah anak yatim.
Miss Susan kembali menangis sambil memeluk dan mencium anak yatim itu. “Apa yang adik minta,” tanya Miss Susan.
“Makanan lagi, sekolah juga,” ucap anak yatim itu dengan suara pelan tanpa dusta.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy